Ilustrasi Angkot--MI/Arya Manggala
Ilustrasi Angkot--MI/Arya Manggala

Sopir Angkot: Kalau Enggak Ngetem Kita Tekor

Akmal Fauzi • 08 Januari 2015 18:38
medcom.id, Jakarta: Upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengandangkan mobil angkutan umum yang ngetem di sembarang tempat membuat sopir angkot ketar-ketir. Pasalnya, ngetem bagi sopir angkot merupakan cara untuk menarik penumpang hingga mobil terisi penuh.
 
Pemandangan sopir angkot ngetem sembarang tempat di Jakarta Timur bisa dijumpai di beberapa lokasi, diantara di depan terminal Kampung Melayu, pasar Jatinegara serta di depan stasiun Jatinegara.
 
Suryadi, supir angkot M 27, Kampung Melayu-Pulogadung mengatakan, ngetem dilakukannya dan beberapa sopir angkot untuk menarik penumpang hingga semua bangku dalam angkotnya terisi penuh.

"Kalau enggak ngetem kita tekor, mendingan kita ngetem aja," kata Suryadi saat ditemui di depan terminal Kampung Melayu, Kamis (8/1/2015).
 
Dikatakan Suryadi, dirinya beberapa kali dalam sehari tidak ngetem, alhasil uang setoran yang diharuskan untuk dibayar ke pemilik mobil tidak tercapai. "Setoran saya sehari Rp180 ribu, kalau enggak ngetem sering nombok. Coba bayangin saja kalau satu kali jalan saja paling banyak cuma lima penumpang, jelas nombok," tuturnya
 
Senada, Jamal, 48, sopir angkot M 16 jurusan Kampung Melayu-Pasar Minggu mengatakan, dirinya lebih memilih ngetem untuk memenuhi uang setoran. Jamal memilih lokasi strategis untuk ngetem seperti pasar dan stasiun. "Kalau ngetem di pasar paling lama setengah jam, kadang lebih tunggu penumpang penuh. Kalau di depan terminal (kampung Melayu) itu bisa lebih dari satu jam," kata Jamal
 
Jamal mengaku sudah mendengar kabar pengandangan angkot jika mengetem di sembarang tempat. Namun, ia mengaku hingga saat ini belum ada petugas yang melakukan razia. "Belum ada, terakhir itu waktu bulan September 2014. Itu juga main kucing-kucingan," ujarnya
 
Menurutnya, kesemrawutan jalan bukan hanya disebabkan oleh mobil angkot yang ngetem sembarangan, melainkan penuhnya kendaraan disaat jam macet. "Macet itu kan di jam tertentu aja, kalau pagi kendaraan pada keluar semua ya jelas macet," jelasnya
 
Dirinya juga berharap, kebijakan Pemprov DKI melarang angkot ngetem juga diimbangi dengan fasilitas halte untuk para penumpang agar para sopir berhenti di halte tersebut untuk menarik penumpang. "Halte-halte difungsikan lagi, jadi biar kita enggak sembarangan berhenti. Penumpang juga ikut tertib nunggu angkotnya di halte," kata Jamal.
 
Sebelumnya Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Benjamin Bukit mengancam akan menertibkan angkutan umum yang parkir sembarangan. Benjamin juga berencana akan mencabut izin operasional angkutan umum yang bandel tersebut.
 
"Tidak ada kalau cabut trayek, kita langsung 'kandangan' saja. Artinya kalau memang dia melanggar aturan, mengetem sembarangan, apalagi tidak ada driver-nya, kita langsung 'kandangan' saja," ancam Benjamin, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin 5 Januari lalu.
 
Kepala Dinas yang baru dilantik ini mengatakan, kebijakan itu harus dilakukan. Sebab, selama ini tidak ada penegasan terhadap angkutan-angkutan umum yang kerap ngetem di sembarang tempat, yang mengakibatkan kemacetan. Upaya itu sekaligus, meningkatkan kinerja Dishub DKI yang selama ini selalu mendapat rapor merah dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>