Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman. Foto: Theofilus Ifan Sucipto/Medcom.id
Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman. Foto: Theofilus Ifan Sucipto/Medcom.id

Masjid Diminta Tanggapi Kebutuhan Umat di Revolusi Industri 4.0

Theofilus Ifan Sucipto • 27 Februari 2019 21:31
Jakarta: Pemerintah belum membuat peta jalan (road map) antara agama dan revolusi industri 4.0. Namun, Masjid sebagai sarana pembangunan peradaban Islam harus siap menghadapi revolusi industri baru itu.
 
"Revolusi industri 4.0 adalah salah satu ciri di era digital. Masalahnya bagaimana agama merespons perubahan yang radikal ini," kata Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman di Kompleks Media Group, Kedoya, Jakarta Barat, Selasa 26 Februari 2019.
 
Apalagi, generasi milenial saat ini kian dinamis dan egaliter. Sumber keagamaan juga dinilai semakin instan karena dapat diakses lewat internet. 

Oman menyebut ini merupakan perubahan yang besar. Karena itu, masjid harus bisa menyesuaikan perubahan zaman. Tidak gagap dalam memenuhi kebutuhan asupan keagamaan, khususnya untuk kaum milenial. Contohnya, saat orang yang lebih tua nyaman dengan sistem manual, kaum milenial lebih tertarik pada hal berbau digital. 
 
"Ini kontestasi ruang publik termasuk masjid bagimana mengisi nilai dgn tema-tema keagamaan yang beradab melalui cara kreatif, misalnya menggunakan media sosial," ujar Oman.
 
Staf ahli Menteri Agama bidang manajemen komunikasi dan informasi itu menambahkan, sifat revolusi industri 4.0 yang cepat membuat sarana keagamaan seperti masjid sedikit kesulitan mengikuti zaman. Ketika masjid berusaha memikirkan cara melayani umat, kebutuhan umat sudah berubah.
 
Oman mencontohkan tokoh agama yang populer bukan lagi tokoh-tokoh karismatik seperti para kiai di pesantren. Hal ini, kata dia, bukan berarti tokoh yang dihormati tidak punya otoritas keagamaan, namun definisi otoritas keagamaan yang berubah.
 
"Oleh karena itu, takmir masjid harus sadar betul dan haers merespons karakter revolusi industri 4.0," pungkas Oman.
 
Revolusi industri 4.0 ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi dan batas antara manusia, mesin dan sumber daya lainnya. Integrasi tersebut dimoderasi oleh teknologi informasi dan komunikasi. Sinergi menjadi kata kunci dalam era revolusi industri keempat ini.
 
Potensi memberdayakan individu dan masyarakat terbuka lebar pada era ini melalui penciptaan peluang baru bagi ekonomi, sosial, maupun munculnya pengembangan manusia sebagai pribadi. Di sisi lain, revolusi industri ini berpotensi menyebabkan marginalisasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki kesiapan bersaing secara individu. 
 
Kondisi ini dapat memperburuk kepentingan sosial dengan munculnya kesenjangan sosial, menciptakan risiko keamanan dan merusak hubungan antarmanusia.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AZF)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan