medcom.id, Jakarta: Terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap murid TK yang dilakukan oleh petugas kebersihan di Jakarta International School (JIS) membuat kaget publik. Bagaimana bisa sekolah elit yang terkenal sangat ketat itu bisa lalai melindungi anak didiknya.
Apa yang terjadi di JIS dapat dilihat sebagai bentuk kelalaian menajemen sekolah. Mereka lalai dalam tahapan penyeleksian calon pegawainya.
"Seharusnya dalam menyeleksi calon pegawai sekolah harus lebih teliti. Berdasar UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa setiap anak wajib dilindungi oleh pengelola sekolah, baik guru, satpam, pegawai kebersihan dan lainnya," kata Seto Mulyadi.
Hal lain yang disesalkan pemerhati anak yang biasa disapa Kak Seto ini, adalah para guru di JIS yang tidak bisa melihat perubahan perilaku anak didiknya. Padahal selama anak didik di sekolah, guru menjadi orang yang paling dekat dengan mereka.
"Sangat disayangkan guru-guru di JIS tidak ada feeling dengan perilaku anak yang ketakutan jika harus ke toilet, atau ada anak yang tidak mau ke toilet," paparnya.
Kak Seto meminta, di rumah orangtua membekali pendidikan dasar organ vital kepada anak. Mulai dari menjaga kebersihan dan menjaga keamanan organ vital.
"Orangtua harus proaktif mengajarkan kepada anak sejak dini bagaimana anak-anak harus berani menolak jika ada orang yang ingin meraba organ vitalnya, atau bagaimana anak harus berani melaporkan ke guru dan orang tua jika ada orang yang berbuat tidak senonoh ," imbuh Kak Seto.
Tokoh pendidikan Salim Syihab menjelaskan bisa saja sekolah yang mencantumkan kata 'internasional' hanya aman di luar. Sementara di dalam sekolah justru tidak mendapat perhatian gara-gara seleksi pegawai yang kurang ketat.
"Keamanan yang paling penting di sekolah justru adalah keamanan dari perilaku atau kejiawaan guru, staff, pegawai kebersihan atau pegawai lainnya. Seharusnya setiap seleksi pegawai perlu dilakukan tes kejiwaan karena kalau tidak, mungkin saja hal seperti ini akan terjadi berulang," ujarnya.
Kasus ini juga menjadi pelajaran bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar juga ketat dalam mengawasi sekolah internasional. Bahkan perlu evaluasi berkala tentang kelayakannya.
"Kemendikbud belum mempunyai aturan khusus mengenai sekolah seperti bagaimana yang dapat menggunakan kata internasional. Ini sebenarnya strategi marketing untuk menaikkan harga, komersialisasi sekolah saja. Kemendikbud harus lebih tegas terhadap sekolah seperti ini, karena biasanya mereka sulit dijamah, sehingga kita tidak tahu apa yang terjadi didalam, tahu-tahu ada kejadian seperti sekarang," ungkap adik ulama Quraish Shihab ini.
medcom.id, Jakarta: Terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap murid TK yang dilakukan oleh petugas kebersihan di Jakarta International School (JIS) membuat kaget publik. Bagaimana bisa sekolah elit yang terkenal sangat ketat itu bisa lalai melindungi anak didiknya.
Apa yang terjadi di JIS dapat dilihat sebagai bentuk kelalaian menajemen sekolah. Mereka lalai dalam tahapan penyeleksian calon pegawainya.
"Seharusnya dalam menyeleksi calon pegawai sekolah harus lebih teliti. Berdasar UU 23/2002 tentang Perlindungan Anak, bahwa setiap anak wajib dilindungi oleh pengelola sekolah, baik guru, satpam, pegawai kebersihan dan lainnya," kata Seto Mulyadi.
Hal lain yang disesalkan pemerhati anak yang biasa disapa Kak Seto ini, adalah para guru di JIS yang tidak bisa melihat perubahan perilaku anak didiknya. Padahal selama anak didik di sekolah, guru menjadi orang yang paling dekat dengan mereka.
"Sangat disayangkan guru-guru di JIS tidak ada feeling dengan perilaku anak yang ketakutan jika harus ke toilet, atau ada anak yang tidak mau ke toilet," paparnya.
Kak Seto meminta, di rumah orangtua membekali pendidikan dasar organ vital kepada anak. Mulai dari menjaga kebersihan dan menjaga keamanan organ vital.
"Orangtua harus proaktif mengajarkan kepada anak sejak dini bagaimana anak-anak harus berani menolak jika ada orang yang ingin meraba organ vitalnya, atau bagaimana anak harus berani melaporkan ke guru dan orang tua jika ada orang yang berbuat tidak senonoh ," imbuh Kak Seto.
Tokoh pendidikan Salim Syihab menjelaskan bisa saja sekolah yang mencantumkan kata 'internasional' hanya aman di luar. Sementara di dalam sekolah justru tidak mendapat perhatian gara-gara seleksi pegawai yang kurang ketat.
"Keamanan yang paling penting di sekolah justru adalah keamanan dari perilaku atau kejiawaan guru, staff, pegawai kebersihan atau pegawai lainnya. Seharusnya setiap seleksi pegawai perlu dilakukan tes kejiwaan karena kalau tidak, mungkin saja hal seperti ini akan terjadi berulang," ujarnya.
Kasus ini juga menjadi pelajaran bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar juga ketat dalam mengawasi sekolah internasional. Bahkan perlu evaluasi berkala tentang kelayakannya.
"Kemendikbud belum mempunyai aturan khusus mengenai sekolah seperti bagaimana yang dapat menggunakan kata internasional. Ini sebenarnya strategi marketing untuk menaikkan harga, komersialisasi sekolah saja. Kemendikbud harus lebih tegas terhadap sekolah seperti ini, karena biasanya mereka sulit dijamah, sehingga kita tidak tahu apa yang terjadi didalam, tahu-tahu ada kejadian seperti sekarang," ungkap adik ulama Quraish Shihab ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LHE)