medcom.id, Jakarta: Pasar tradisional yang biasanya nampak ramai malah terlihat sepi di Pasar Jaya Kedoya, Jalan Kedoya Raya, Jakarta Barat. Ternyata, sepinya pasar disebabkan oleh keberadaan Pasar Pesing yang letaknya tak jauh dari Pasar Jaya Kedoya.
"Di sini sepi, pedagang sama pembeli pada pindah ke (pasar) Pesing," tutur Tamsun, salah satu pedagang di Pasar Jaya Kedoya, pada Metrotvnews.con, Sabtu (28/3/2015).
Di Pasar Pesing, kata Tamsun, pedagang tak harus kewalahan membeli atau menyewa tempat. "Di sana engga pakai beli tempat, gratis, pembelinya banyak lagi kan untung," tutur Pria yang yang sudah berjualan ikan asin sejak tahun 1987.
Pada saat diwawancarai Metrotvnews.com, seorang kawan Tamsun yang juga pedagang berteriak "Udah bilang sama pemerintah bongkar aja ini pasar, engga menghasilkan untung buat pedagang," teriak Agus sang penjual bahan makanan pokok.
Selain tak harus bayar tempat di Pasar Pesing, pindahnya para pedagang pun disebabkan oleh tingginya harga beli dan sewa kios di Pasar Jaya Kedoya. Untuk sewa, pedagang dikenakan biaya Rp15 juta per tahun. Sedang jika ingin memiliki lahan atau kios, pedagang dikenakan biaya Rp50 juta per satu lahan kaki lima dan Rp85 juta per satu ruko kios.
Berdasarkan pantauan Metrotvnews.com, Pasar Pesing bukan merupakan pasar yang resmi dikelola oleh pemerintah setempat, atau bisa disebut pasar liar. Pedagang di Pasar Pesing kebanyakan merupakan pedagang kaki lima yang berjejer di piggir jalan Kedoya Raya sepanjang kurang lebih 500 meter hingga lampu merah Jalan Daan Mogot. Tak aneh pula, keberadaan Pasar Pesing mengganggu arus lalu lintas sekitar karena banyak pedagang kaki lima yang turun ke jalan.
medcom.id, Jakarta: Pasar tradisional yang biasanya nampak ramai malah terlihat sepi di Pasar Jaya Kedoya, Jalan Kedoya Raya, Jakarta Barat. Ternyata, sepinya pasar disebabkan oleh keberadaan Pasar Pesing yang letaknya tak jauh dari Pasar Jaya Kedoya.
"Di sini sepi, pedagang sama pembeli pada pindah ke (pasar) Pesing," tutur Tamsun, salah satu pedagang di Pasar Jaya Kedoya, pada Metrotvnews.con, Sabtu (28/3/2015).
Di Pasar Pesing, kata Tamsun, pedagang tak harus kewalahan membeli atau menyewa tempat. "Di sana engga pakai beli tempat, gratis, pembelinya banyak lagi kan untung," tutur Pria yang yang sudah berjualan ikan asin sejak tahun 1987.
Pada saat diwawancarai Metrotvnews.com, seorang kawan Tamsun yang juga pedagang berteriak "Udah bilang sama pemerintah bongkar aja ini pasar, engga menghasilkan untung buat pedagang," teriak Agus sang penjual bahan makanan pokok.
Selain tak harus bayar tempat di Pasar Pesing, pindahnya para pedagang pun disebabkan oleh tingginya harga beli dan sewa kios di Pasar Jaya Kedoya. Untuk sewa, pedagang dikenakan biaya Rp15 juta per tahun. Sedang jika ingin memiliki lahan atau kios, pedagang dikenakan biaya Rp50 juta per satu lahan kaki lima dan Rp85 juta per satu ruko kios.
Berdasarkan pantauan Metrotvnews.com, Pasar Pesing bukan merupakan pasar yang resmi dikelola oleh pemerintah setempat, atau bisa disebut pasar liar. Pedagang di Pasar Pesing kebanyakan merupakan pedagang kaki lima yang berjejer di piggir jalan Kedoya Raya sepanjang kurang lebih 500 meter hingga lampu merah Jalan Daan Mogot. Tak aneh pula, keberadaan Pasar Pesing mengganggu arus lalu lintas sekitar karena banyak pedagang kaki lima yang turun ke jalan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)