Ilustrasi air bersih. (Foto: ANTARA/Basri Marzuki)
Ilustrasi air bersih. (Foto: ANTARA/Basri Marzuki)

PAM Jaya Klaim DKI Aman Dari Kekeringan

Nasional kemarau dan kekeringan
Nur Azizah • 09 Juli 2019 12:47
Jakarta: PAM JAYA mengeklaim ketersediaan air bersih untuk wilayah Jakarta aman hingga musim kemarau berakhir. Karena level ketinggian air di waduk Juanda Jatiluhur, Jawa Barat, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Ibu Kota.
 
Manajer Humas PAM Jaya Linda Nurhandayani mengatakan waduk Jatiluhur salah satu sumber air baku PAM JAYA yang terbesar, hingga 81 persen. Batas kedalaman minimum waduk Jatiluhur adalah 87,5 meter, sedangkan saat ini kedalaman air masih sekitar 102 meter.
 
"Selain itu air curah dari Tangerang masih sesuai target yang diharapkan," kata Linda kepada Medcom.id, Jakarta, Selasa, 9 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sumber-sumber air baku dari Jakarta juga masih sesuai yang dibutuhkan. Sumber air baku itu berasal dari Kali Krukut dan Cengkareng Drain, Jakarta Barat.
 
"Jadi, masih aman hingga musim kemarau berakhir. PAM JAYA akan selalu update dan komunikasi dengan Pemprov DKI terkait kondisi pelayanan air bersih bagi masyarakat Jakarta," ungkap dia.
 
Baca:Warga DKI Diminta Bersiap Hadapi Kemarau
 
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau di DKI Jakarta berlangsung pada September 2019. Warga Ibu Kota diminta bersiap menghadapi kekeringan.
 
Meski kemarau baru berjalan dua bulan, namun dilaporkan sudah ada wilayah yang kesulitan air. Ia meminta pemerintah daerah waspada dengan melakukan upaya antisipasi kekeringan.
 
Ripaldi mengatakan saat ini sudah ada wilayah yang siaga kekeringan, terutama di Jakarta Utara. Berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH), dua wilayah di Jakarta Utara sudah masuk HTH sangat panjang yakni 30 sampai 61 hari.
 
"HTH di wilayah Jakarta sudah lebih 30-61 hari terjadi di Rawa Badak dan Rorotan," ucap Ripaldi.
 
BMKG mengawasi HTH setiap hari untuk seluruh wilayah DKI Jakarta dengan menggunakan 6.607 alat penakar hujan yang tersebar di setiap kecamatan. Selain dua wilayah itu yang dikategorikan HTH sangat panjang, beberapa wilayah lain juga sudah masuk kriteria HTH panjang yakni 21-30 hari.
 
Menghadapi kemarau ini, BMKG telah memberikan peringatan dini serta melaporkan informasi cuaca kepada instansi terkait. "Antisipasi lebih dini, kemarau masih akan berlangsung sampai September-Oktober," ujar dia.
 
Menurut Ripali, antisipasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah bijak dalam penggunaan air bersih, lebih hemat, dan cermat. Begitu pula untuk wilayah irigasi, dan tanaman serta kebutuhan air lainnya.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif