Istimewa
Istimewa

Pengolahan Sampah

Pelajar Indonesia Peduli Pengolahan Limbah Plastik

Nasional Tumpukan Sampah Plastik
Media Indonesia • 06 September 2019 20:36
Jakarta: Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan sejumlah temuan penelitian yang mengerikan mengenai limbah plastik, salah satunya adalah fakta jika laju limbah plastik tidak dikurangi, maka pada tahun 2050, akan ada lebih banyak plastik daripada ikan di lautan dunia.
 
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, juga senantiasa mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, baik sebagai kemasan maupun sebagai kantong untuk belanja. Plastik sebagai kemasan makanan dan minuman mendominasi lebih dari 70 persen penggunaan plastik.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah usaha rintisan di tanah air telah mengembangkan bahan pengganti plastik dari bahan-bahan mudah terurai, mulai dari singkong, jagung, hingga rumput laut. Dengan menggunakan kedua bahan baku yang banyak ditemui tersebut, kemasan makanan dan minuman dapat terurai dalam hitungan bulan. Penggunaan bahan baku yang juga merupakan sumber makanan memungkinkan peneliti untuk mengembangkan kemasan makanan dan minuman yang sekaligus bisa dikonsumsi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Matthew Ryan Asali, siswa kelas 11 National High Jakarta School (NHJS) yang mempunyai minat yang sangat besar dibidang kimia, membagikan temuan hasil penelitiannya bersama sejumlah peneliti dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dalam mengembangkan bidegradable plastic/bioplastik dengan memanfaatkan rumput laut sebagai bahan dasar yang dicampur dengan pati/starch dari limbah buah-buahan untuk memperkuat mechanical strength dari bioplastik tersebut.
 
“Pertama-tama, kami memilih rumput laut karena Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar kedua didunia , dan yang kedua memanfaatkan biji dari limbah buah buahan yang sangat berlimpah di negara kita yaitu biji buah alpukat, biji buah nangka dan biji buah durian sebagai sember pati,” jelas Ryan, dalam keterangan resminya, Jumat (6/9/2019).
 
Penelitian untuk polimer yang dapat terurai ini menggunakan rumput laut dari jenis Eucheuma Cottonii yang diperoleh dari Desa Wainyapu di Sumba Barat. “Saat saya melakukan kunjungan ke pulau Sumba tahun 2018 lalu, saya melihat potensi rumput laut bagi perekonomian setempat , jadi riset ini kelak juga bisa membantu ekonomi masyarakat kecil,” kenang Ryan.
 
Bersama dengan Devi Syafei dan Muthia Arum serta dibawah bimbingan Dra. Yusmaniar, dosen Jurusan Kimia UNJ, Ryan menemukan fakta bahwa kombinasi rumput laut dengan pati yang berasal dari biji buah durian yang memiliki jumlah pati tertinggi dan jika digabung dengan rumput laut, mampu menghasilkan bioplastik yang mempunyai mechanical characteristic yang paling tinggi, paling kedap air, mempunyai biodegradability / kemampuan terurai yang tercepat dibandingkan dengan biji buah nangka dan biji buah alpukat. Pengujian material tersebut masih dalam bentuk lapisan film bioplastik, dan belum berupa struktur seperti kantong maupun kemasan plastik.
 
Penilitian ini merupakan langkah awal yang telah menunjukkan sejumlah karakteristik material bahan alternatif plastik yang banyak ditemui disekitar kita, dan akan dilakukan penelitian yang lebih mendalam dengan tujuan untuk menghasilkan bioplastic yang dapat diaplikasikan sebagai bahan kemasan yang ramah lingkungan. Hasil lengkap penelitian ini telah dipresentasikan dalam acara 4th Annual Applied Science and Engineering Conference (AASEC) pada 24 April 2019 di Bali, dan akan dipublikasikan pada September 2019.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif