medcom.id, Jakarta: Pedagang di Pasar Tanah Abang bukan tidak paham bahwa berjualan di badan jalan dilarang. Tapi tetap saja peraturan ditabrak, sebagai cara agar dagangan laku.
Kondisi di Pasar Tanah Abang semakin ramai saat puasa Ramadan hingga beberapa hari menjelang Lebaran. Pedagang musiman tumpah hingga di badan jalan. Arus lalu lintas pun terganggu.
Firman, penjual tas dan sepatu, mengatakan, pedagang musiman dari kampung yang mayoritas berjualan busana melihat Tanah Abang strategis. Karena masyarakat dari berbagai daerah belanja pakaian di sini.
Berjualan di badan jalan membuat Firman selalu dihantui razia Satuan Polisi Pamong Praja. Di sisi lain, ia dituntut menghasilkan rupiah untuk Lebaran bersama keluarga di kampung.
"Kalau dibilang takut, ya, takut. Tapi mau bagaimana lagi?" kata Firman kepada Metrotvnews.com di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa 16 Mei 2017.
Suasana di kawasan Pasar Tanah Abang. Foto: MTVN/M. Sholahuddin Azhar
Apsari, pedagang sepatu, mengatur siasat untuk menghindari razia Satpol PP. Demi tuntutan Lebaran, ia mengubah kebiasaan berdagang.
Pagi sampai sore, Apsari hanya menggelar sedikit dagangan di trotoar. Dengan begitu, sewaktu-waktu ada anggota Satpol PP ia bisa segera kabur dengan barang-barang.
"Kalau malam sampai dini hari itu semua dipajang, banyak juga yang mau beli," tuturnya.
Ramainya pedagang di badan jalan dimanfaatkan penjinayah untuk meraup uang dengan dalih biaya keamanan. Pedagang mesti setor Rp10 ribu-Rp20 ribu agar 'aman' berdagang di badan jalan. Pungutan liar itu bisa dua hingga tiga kali sehari.
Padahal, menurut Nuning, pedagang di Tanah Abang, tidak ada jaminan juga mereka bebas razia anggota Satpol PP. Alhasil, sudah dihantui Satpol PP, juga ditodong preman yang meminta setoran.
Tak hanya pedagang yang menggelar dagangan di badan jalan, mereka yang punya lapak juga ikut ditodong. Arif, penjual anak-anak, menyebut para pedagang gerah dengan perilaku preman.
"Uang keamanan apa? Ujung-ujungnya diobrak-abrik Satpol PP juga," Arif kesal.
Ada juga preman yang mengajukan proposal ke pedagang. Airin, penjual pakaian muslim, mengaku pernah diajak dialog yang ujung-ujungnya pengajuan proposal agar ia menyetor Rp1,5 juta kepada preman.
"Ya kami tidak mau lah, masa dibegitukan. Tidak resmi juga kan," sebutnya.
Menanggapi masalah ini, Komandan Satpol PP Tanah Abang Aries SC mengatakan, ia menunggu hasil koordinasi antar pimpinan Satpol. Ia memberi sinyal akan ada tindakan tegas terhadap preman Tanah Abang.
"Ini sedang menunggu koordinasi di tingkat rapim," katanya.
medcom.id, Jakarta: Pedagang di Pasar Tanah Abang bukan tidak paham bahwa berjualan di badan jalan dilarang. Tapi tetap saja peraturan ditabrak, sebagai cara agar dagangan laku.
Kondisi di Pasar Tanah Abang semakin ramai saat puasa Ramadan hingga beberapa hari menjelang Lebaran. Pedagang musiman tumpah hingga di badan jalan. Arus lalu lintas pun terganggu.
Firman, penjual tas dan sepatu, mengatakan, pedagang musiman dari kampung yang mayoritas berjualan busana melihat Tanah Abang strategis. Karena masyarakat dari berbagai daerah belanja pakaian di sini.
Berjualan di badan jalan membuat Firman selalu dihantui razia Satuan Polisi Pamong Praja. Di sisi lain, ia dituntut menghasilkan rupiah untuk Lebaran bersama keluarga di kampung.
"Kalau dibilang takut, ya, takut. Tapi mau bagaimana lagi?" kata Firman kepada
Metrotvnews.com di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa 16 Mei 2017.
Suasana di kawasan Pasar Tanah Abang. Foto: MTVN/M. Sholahuddin Azhar
Apsari, pedagang sepatu, mengatur siasat untuk menghindari razia Satpol PP. Demi tuntutan Lebaran, ia mengubah kebiasaan berdagang.
Pagi sampai sore, Apsari hanya menggelar sedikit dagangan di trotoar. Dengan begitu, sewaktu-waktu ada anggota Satpol PP ia bisa segera kabur dengan barang-barang.
"Kalau malam sampai dini hari itu semua dipajang, banyak juga yang mau beli," tuturnya.
Ramainya pedagang di badan jalan dimanfaatkan penjinayah untuk meraup uang dengan dalih biaya keamanan. Pedagang mesti setor Rp10 ribu-Rp20 ribu agar 'aman' berdagang di badan jalan. Pungutan liar itu bisa dua hingga tiga kali sehari.
Padahal, menurut Nuning, pedagang di Tanah Abang, tidak ada jaminan juga mereka bebas razia anggota Satpol PP. Alhasil, sudah dihantui Satpol PP, juga ditodong preman yang meminta setoran.
Tak hanya pedagang yang menggelar dagangan di badan jalan, mereka yang punya lapak juga ikut ditodong. Arif, penjual anak-anak, menyebut para pedagang gerah dengan perilaku preman.
"Uang keamanan apa? Ujung-ujungnya diobrak-abrik Satpol PP juga," Arif kesal.
Ada juga preman yang mengajukan proposal ke pedagang. Airin, penjual pakaian muslim, mengaku pernah diajak dialog yang ujung-ujungnya pengajuan proposal agar ia menyetor Rp1,5 juta kepada preman.
"Ya kami tidak mau lah, masa dibegitukan. Tidak resmi juga kan," sebutnya.
Menanggapi masalah ini, Komandan Satpol PP Tanah Abang Aries SC mengatakan, ia menunggu hasil koordinasi antar pimpinan Satpol. Ia memberi sinyal akan ada tindakan tegas terhadap preman Tanah Abang.
"Ini sedang menunggu koordinasi di tingkat rapim," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)