Karangan bungan menjamur di Balai Kota DKI Jakarta. Foto: Antar/Muhammad Adimaja
Karangan bungan menjamur di Balai Kota DKI Jakarta. Foto: Antar/Muhammad Adimaja

Harga Bunga Meroket

Intan fauzi • 04 Mei 2017 13:43
medcom.id, Jakarta: Pengusaha karangan bunga dibanjiri pesanan sejak aspirasi marak disampaikan melalui bunga. Namun mereka tidak mendapat keuntungan yang signifikan. Penyebabnya, maraknya pesanan diikuti dengan naiknya harga bunga di pasaran.
 
Pemilik toko bunga Menur mengatakan, dirinya mendapat pesanan 20 karangan bunga per hari. Sebelum fenomena 'say it with flower' muncul, ia hanya mendapat pesanan 10 karangan bunga.
 
"Enggak (sampai 100 persen kenaikan keuntungannya), paling 30 persen," kata Menur kepada Metrotvnews.com di Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat, Kamis 4 Mei 2017.
 
Menur menjelaskan, sejak pesanan karangan bunga meningkat, harga bunga ikut naik. Sayangnya, persentase kenaikan harga bunga sampai 200 persen.
 
"Misal untuk bunga krisan, biasa harganya Rp50 ribu per 10 ikat, sekarang jadi Rp150 ribu," ujar wanita yang sudah membuka toko bunga selama enam tahun itu.
 
Menur tak merasakan keuntungan yang signifikan dengan banjirnya perilaku kirim bunga. "Orderan banyak tapi keuntungan biasa saja," ungkap dia.
 
Menur tak berniat menaikkan harga karangan bunga. Sebab, pemesan tidak meminta karangan bunga yang bermacam-macam. Karangan bunga lebih banyak dihiasi tulisan dari styrofoam dibanding bunga.
 
"Yang penting orang ngirim, ada bukti foto lokasinya," ujar Menur.
 
Pemilik toko bunga lainnya, Rolan, belum menghitung keuntungan yang masuk. Uang masih berputar lantaran pesanan masuk terus menerus. Sama seperti Menur, Rolan mendapat pesanan 20 karangan bunga per hari.
 
"Keuntungan belum bisa lihat kalau masih berjalan, karena dipakai produksi. Kalau hitung keuntungan per hari susah," jelas Rolan.
 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan