medcom.id, Jakarta: Mayoritas pekerjs seksual masih mau dibina. Namun, mereka harus diajak dengan pendekatan yang meyakinkan. Pendekatan agama tidak akan mempan.
Pemerhati anak dan perempuan Roostien Ilyas mengatakan, dari 100 PSK hanya lima yang menolak dibina. Namun, pendekatannya harus dilakukan dengan logika.
"Pendekatannya begini, 'Mbak, sampean umurnya berapa sekarang?' Misal dia jawab umurnya, 20 tahun. Masih laku (kalau mau nikah). Kalau sudah 25 tahun, laku tidak?," kata Roostien di kawasan Kalijodo, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016).
Roostien menyebut, PSK perlu diberi pemahaman penyakit kelamin yang dapat mereka derita kala menjajakan dirinya.
"Tunjukin saja ke mereka bagaimana penyakit reproduksi, kanker serviks, mau kayak gini? Dia akan mikir," ujarnya.
Menurutnya, Pemerintah dan lembaga terkait harus berbicara dengan PSK untung dan rugi. "Jangan bicara Tuhan. Tidak kena. Mau dosa, dosa sendiri," kata Roostien.
Dia mengungkapkan, PSK memiliki rasa malu. Karena, mereka tahu profesi yang ia lakoni memalukan. "Tidak ada manusia yang bercita-cita jadi PSK," ujarnya.
Roostien tidak yakin praktik prostitusi bisa musnah dari Indonesia. Negara hanya bisa meminimalisir praktik tersebut. Penggusuran PSK di Kalijodo, jangan sampai memunculkan lokasi prostitusi di tempat lain.
Roostien mengingatkan agar relokasi warga dan PSK di kawasan Kalijodo jangan sampai menimbulkan gesekan horizontal antara pemerintah dan warga. Pasalnya, konflik horizontal dapat meninggalkan trauma pada anak-anak. "Kata kuncinya cuma satu, komunikasi," tukas dia.
Menurutnya, warga sudah mengetahui soal penggusuran. Namun, mereka meminta waktu supaya bisa pergi sendiri.
medcom.id, Jakarta: Mayoritas pekerjs seksual masih mau dibina. Namun, mereka harus diajak dengan pendekatan yang meyakinkan. Pendekatan agama tidak akan mempan.
Pemerhati anak dan perempuan Roostien Ilyas mengatakan, dari 100 PSK hanya lima yang menolak dibina. Namun, pendekatannya harus dilakukan dengan logika.
"Pendekatannya begini, 'Mbak, sampean umurnya berapa sekarang?' Misal dia jawab umurnya, 20 tahun. Masih laku (kalau mau nikah). Kalau sudah 25 tahun, laku tidak?," kata Roostien di kawasan Kalijodo, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu (17/2/2016).
Roostien menyebut, PSK perlu diberi pemahaman penyakit kelamin yang dapat mereka derita kala menjajakan dirinya.
"Tunjukin saja ke mereka bagaimana penyakit reproduksi, kanker serviks, mau kayak gini? Dia akan mikir," ujarnya.
Menurutnya, Pemerintah dan lembaga terkait harus berbicara dengan PSK untung dan rugi. "Jangan bicara Tuhan. Tidak kena. Mau dosa, dosa sendiri," kata Roostien.
Dia mengungkapkan, PSK memiliki rasa malu. Karena, mereka tahu profesi yang ia lakoni memalukan. "Tidak ada manusia yang bercita-cita jadi PSK," ujarnya.
Roostien tidak yakin praktik prostitusi bisa musnah dari Indonesia. Negara hanya bisa meminimalisir praktik tersebut. Penggusuran PSK di Kalijodo, jangan sampai memunculkan lokasi prostitusi di tempat lain.
Roostien mengingatkan agar relokasi warga dan PSK di kawasan Kalijodo jangan sampai menimbulkan gesekan horizontal antara pemerintah dan warga. Pasalnya, konflik horizontal dapat meninggalkan trauma pada anak-anak. "Kata kuncinya cuma satu, komunikasi," tukas dia.
Menurutnya, warga sudah mengetahui soal penggusuran. Namun, mereka meminta waktu supaya bisa pergi sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)