Sopir Bajaj, Ade, resmi bermitra dengan Grab. Foto: Nia Deviyana/Medcom.id
Sopir Bajaj, Ade, resmi bermitra dengan Grab. Foto: Nia Deviyana/Medcom.id

Nasib Bajaj di Era Transportasi Online

Nasional grab bajaj transportasi berbasis aplikasi
Nia Deviyana • 24 Mei 2019 07:02
Jakarta: Moda transportasi bajaj disebut masih ramai peminat. Bajaj tetap banyak dicari meski jumlahnya kian sedikit dan kalah bersaing dengan moda transportasi online.
 
Hal itu disampaikan Ade, yang sejak 2001 menggeluti profesi sebagai sopir bajaj. Pria 40 tahun ini mengaku sehari-hari bisa mengantongi rata-rata Rp150 ribu dari menarik bajaj.
 
"Ya masih lumayan lah. Kalau dihitung-hitung jumlah kotornya dipotong bahan bakar dan setoran, sisa sekitar Rp100-an ribu. Bisa buat makan dan kebutuhan sehari-hari," ujar Ade saat ditemui di peluncuran GrabBajaj di Gedung Arsip Nasional RI, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ade yang kerap mencari penumpang di kawasan Lokasari, Mangga Besar, Jakarta Barat, kebanyakan mengangkut ibu-ibu yang pulang dari pasar membawa belanjaan. Tak jarang orang yang memang sudah terbiasa naik bajaj sehingga enggan berpaling ke moda transportasi lain.
 
"Saya pernah antar paling jauh dari Mangga Besar ke Tangerang. Pernah juga dari Kebon Jeruk sampai Cikupa. Waktu ditanya kok mau pakai bajaj, penumpang bilang ya karena sudah biasa," tuturnya.
 
Ade bercerita masa-masa jaya menjadi sopir bajaj pada 2001-2016. Saat itu, banyak sopir bajaj berhasil menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi karena pendapatan yang diraih tergolong lumayan.
 
"Ya sebelum ada angkutan online kita (pendapatan) agak lumayan. Teman-teman kita banyak yang sekolahin anaknya sampai kuliah dari narik bajaj," tukasnya.
 
Namun, lanjut dia, pendapatan para sopir bajaj berkurang sejak 2017 seiring banyaknya moda transportasi online.
 
Bermitra dengan Grab
 
Ade menyadari kemajuan teknologi salah satu faktor yang menggerus pendapatannya. Orang lebih memilih menggunakan moda transportasi online karena selain praktis, harganya sudah ditentukan berdasarkan rute sehingga penumpang tidak perlu menawar.
 
Hal tersebut yang pada akhirnya membuat Ade tertarik bermitra dengan Grab. "Ya karena sekarang zamannya aplikasi, orang hidup sudah pakai aplikasi semua," kata dia.
 
Ade mengaku senang dengan diluncurkannya aplikasi GrabBajaj. Sebab, bisa menambah pendapatan selain mencari penumpang secara tradisional.
 
"Jadi ada tambahan sekitar Rp50 ribuan. Saya bergabung sejak enam bulan lalu, saat diuji coba. Semoga setelah diresmikan hari ini bisa dapat lebih banyak (penumpang)," tuturnya.
 
Kepala Bidang Angkutan Jalan Perhubungan Provinsi DKI Jakarta Massdes Aroufy mengapresiasi kemitraan antara Grab dan sopir bajaj. Masdess optimistis kemitraan dapat mendorong para sopir untuk tertib administrasi.
 
"Karena kita bilang ke operator jangan mau menerima mitra yang surat-suratnya mati. Dengan kerja sama ini semoga bisa jadi trigger agar pengemudi bajaj tertib administrasi," ujar Massdes, pada kesempatan yang sama.
 
Kemitraan Grab dengan sopir Bajaj memiliki skema pendapatan 95:5. Sebanyak 95 persen dari tarif untuk sopir, dan 5 persen dari tarif untuk Grab. Sebelumnya, Grab juga telah menggandeng moda transportasi dengan kearifan lokal seperti GrabBentor di Sumatera Utara dan Gorontalo, serta GrabTuktuk di Thailand dan Kamboja.
 
Saat ini pengguna dapat mengakses GrabBajaj dengan mengetuk ikon "GrabBike" pada layar utama aplikasi Grab. Layanan ini hanya akan muncul jika ada bajaj yang bisa mengangkut penumpang. Grabbajaj saat ini tersedia di lima titik utama yang tersebar di wilayah Jakarta Pusat, termasuk Stasiun Jakarta Kota, ITC Mangga Dua, Stasiun Mangga Besar, Stasiun Sawah Besar, dan Pasar Baru dengan tarif sebesar Rp3 ribu per kilometer.

 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif