Air tanah dilarang, cukupkah air PAM di Jakarta?
Air tanah dilarang, cukupkah air PAM di Jakarta?

Sisi Metropolitan

Tahun Depan, Warga Jakarta Dilarang Gunakan Air Tanah

MetroTV • 07 Januari 2022 22:53
Jakarta: Mulai tahun 2023, berlaku larangan mengambil dan menggunakan air tanah untuk kawasan wilayah DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mulai melarang penggunaan air tanah bagi sebagian pemilik bangunan di Ibu Kota mulai tahun depan.
 
Aturan larangan mengambil dan menggunakan air tanah di DKI Jakarta sudah disahkan Anies melalui Peraturan Gubernur Nomor 93 Tahun 2021. Sebenarnya Beleid larangan mengambil dan menggunakan tanah di Jakarta itu telah diteken Anies pada 22 Oktober 2021. Namun baru diunggah di situs resmi jdih.jakarta.go.id pada 3 Januari 2022.
 
Anies melarang pemilik bangunan memanfaatkan air tanah pada 1 agustus 2023 mendatang. Namun, tidak semua pemilik bangunan di Jakarta dilarang memanfaatkan air tanah. Dalam Pasal 2 disebutkan larangan mengambil dan menggunakan air tanah hanya dilakukan pada bangunan zona bebas air tanah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anies Baswedan menargetkan tidak ada lagi warga Jakarta yang menggunakan air tanah pada 2030.
 
"Harapannya kita bisa melayani 100 persen sebelum 2030. Target kita untuk melayani seluruh warga jakarta di tahun 2030 bisa tercapai bahkan mungkin lebih awal," kata Anies Baswedan, Gubernur Jakarta dalam Sisi Metropolitan di Metro TV, Jumat 7 Januari 2022.
 
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan pemerintah pusat harus mampu menyediakan supply tambahan infrastruktur distribusi air bersih dan air minum yang mencakup 35 persen wilayah pelayanan baru dan perpipaan baru.
 
"Tahun 2030 jakarta sudah mampu mencapai 100 persen layanan air minum perpipaan. Untuk itu perlu kepemimpinan bersama untuk mengatasi permasalahan ketersediaan air sekaligus solusi pencegahan penurunan permukaan tanah di Jakarta," tambahnya
 
Saat ini kondisi cakupan layanan air minum perpipaan di DKI Jakarta hanya baru mampu  memenuhi cakupan layanan seluas 65 persen dan menyuplai 20.725 liter/detik air. Akibatnya masyarakat yang tidak memiliki akses air minum perpipaan cenderung menggunakan air tanah secara terus menerus. Hal tersebutlah yang menjadi penyebab penurunan permukaan tanah secara cepat. (Alifiah Nurul Rahmania)
 
(MBM)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif