medcom.id, Jakarta: Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School atau JIS tidak boleh terulang lagi kepada siapapun. Untuk menghindarinya, peran orangtua dan lingkungan terhadap pengawasan anak harus optimal.
Kelalaian orang tua dan lingkungan menguntungkan para predator seks. Sialnya, bahaya itu sering tidak disadari karena keluarga dan lingkungan merasa sudah memberikan tempat yang aman bagi anak-anak.
Kasus di JIS, meneguhkan bukti bahwa aksi pedofilia bisa memangsa siapa saja -- tak terkecuali kepada murid yang sekolah di tempat-tempat elite, yang mengklaim memiliki sistem pengawasan ketat dan canggih.
Kepala Bagian Psikologi Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Hary Prasetya mengingatkan bahwa aksi pedofilia menimbulkan trauma bagi korban. Yang lebih mengerikan, dalam beberapa kasus, para korban akhirnya memiliki kecenderungan melakukan tindakan serupa saat beranjak dewasa.
“Sebagian besar pelaku itu kebanyakan adalah korban. Dia pernah mengalami perlakuan seperti itu kemudian setelah beberapa waktu dia akan melakukan sebagai pelaku dan bukan korban lagi. Sebagian besar seperti itu, pengalaman traumatis masa lalu,” kata Hary Prasetya.
Hary juga memberikan sejumlah penjelasan mengenai fenomena pedofilia. Berikut petikan wawancaranya dengan Metrotvnews.com pekan lalu.
Selain faktor trauma, karena pernah jadi korban, ada faktor lain yang membuat seseorang menjadi pelaku pedofil?
Ada faktor-faktor yang namanya kelainan. Yang namanya pedofil itu sebetulnya kelainan seksual. Yang pertama, ada penyimpangan dalam segi objek. Yang kedua, ada penyimpangan dalam segi cara.
Secara psikologis, bagaimana pada mulanya korban bereaksi terhadap aksi pedofil yang dia alami?
Kalau baru pertama kali, bekasnya masih jelas benar. Tetapi kalau dia sudah berkali-kali, sakitnya sudah tidak terasa lagi, bahkan mungkin korban ini sudah bisa menikmati kalau sudah berkali-kali.
Kalau sudah dilakukan berkali-kali rasa sakit makin berkurang. Mungkin juga suatu ketika dia akan dapat kepuasan juga meskipun awalnya korban karena anak kecil belum bisa menentukan apa yang dilakukan itu baik atau tidak. Jadi dia hanya mengikuti yang dirasakan saja.
Bagaimana peran kepolisian untuk pencegahan?
Kita tidak bisa membebankan itu kepada polisi. Bagaimana seorang anak bergaul, seorang anak bersosialisasi,tentu yang pertama (tanggung jawab) orangtua. Anak kan masih sangat tergantung pada orangtua, kemudian lembaga sekolah dan lingkungan sekitar. Semua pihak itu tentunya harus bersama-sama saling menjaga, saling melindungi, saling mengawasi dan membimbing anak-anak. Kalaupun polisi secara umum hanya melindungi dan menerima laporan. Kalau yang sifatnya privat, lebih ke lingkungan keluarga, sekolah, atau tempat tinggalnya.
Kenapa korban ketika dewasa bisa menjadi pelaku pedofilia, apa yang mendorongnya?
Bisa jadi sebagai sarana untuk balas dendam karena dia tidak bisa melakukan kepada orang yang bersangkutan, maka pelampiasan biasanya ke orang lain. Dari situ dia mendapatkan kenikmatan sehingga melampiaskanya kepada anak kecil. Perkembangannya seperti itu.
Apakah ada ciri khusus fisik atau perilaku pedofilia?
Secara umum kelainan seperti itu tidak bisa dilihat secara fisik, tetapi mungkin perilaku-perilaku dia. Biasanya orang-orang yang pedofil ini punya rasa percaya diri yang sangat rendah dan ketika dia berhadapan dengan wanita yang normal yang sebaya dia akan minder karena tidak mempunyai rasa kepercayaan diri sehingga dia mencari sasaran anak kecil. Tetapi kalau orang suka dengan anak kecil, seorang sayang dengan anak kecil tentu tidak selalu akan menjadi seorang pedofil juga.
Kemudian biasanya pelaku cenderung lebih tertutup. Mungkin di hadapan lingkungan umum biasa saja, tetapi sebetulnya dalam hati atau jiwa dia ada rasa minder yang amat sangat. Untuk hal-hal yang sifatnya pribadi, dia tidak akan ceritakan kepada orang lain, tetapi untuk hal-hal yang sifatnya umum, dia masih bisalah menyesuaikan diri.
Apa saran anda untuk masyarakat agar tidak menjadi korban?
Tentunya seorang anak jangan pernah dibiarkan sendiri dalam waktu yang relatif lama dan dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang tidak terlalu dikenal atau tidak dipercaya. Selalu awasi dan amati setiap perubahan pada anak. Anak-anak yang menjadi korban seksual, baik itu pedofil, atau pencabulan oleh orang-orang biasa selalu akan mengalami perubahan perilaku.
Biasanya anak itu berubah menjadi pemurung. Biasanya anak itu takut untuk bertemu dengan anak yang begitu besar, kemudian anak itu kesakitan ketika buang air. Pasti muncul perubahan perilaku di luar batas wajar. Misalnya, bila sebelumnya ceria, tiba-tiba jadi pemurung, atau gampang marah, dan takut bertemu orang.
Apakah pelaku bisa sembuh?
Kalu dibilang bisa ya bisa. Cuma memerlukan upaya dan usaha yang sangat besar dan harus dibantu oleh seorang yang ahli. Saya selalu optimistis kalau kelainan apapun bisa disembuhkan. Dibantu psikolog, psikiater, dalam jenjang waktu yang lama dan kemauan yang sangat besar. Kalau orang yang bersangkutan tidak mau sembuh dan menikmati itu, ya dia tidak akan bisa sembuh.
Kalau untuk menyembuhkan trauma korban apakah hanya psikiater saja cukup?
Ya tentunya harus didampingi oleh seorang ahli di situ. Yang menjalankan seorang psikolog tetapi harus juga mendapatkan dukungan keluarga, sekolah dan lingkungan. Jangan sampai ada label bahwa dia adalah seorang korban yang patut lecehkan, diasingkan. Dia harus tetap diberi kebebasan yang sama dengan anak-anak yang lain, bukan diperlakukan beda tetapi harus tetap mendapat dorongan atau motivasi terutama dari lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan rumahnya.
Bagaimana mencegah korban agar tidak menjadi pelaku pedofil?
Tentunya dia harus mendapat bimbingan atau pengawasan, mendapatkan motivasi, mendapatkan terapi dari ahlinya. Korban jangan sampai disalahkan. Perlakuan-perlakuan itu akan terinternalisasi kedalam dirinya dan cenderung menjadi trauma berkepanjangan.
medcom.id, Jakarta: Kasus kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School atau JIS tidak boleh terulang lagi kepada siapapun. Untuk menghindarinya, peran orangtua dan lingkungan terhadap pengawasan anak harus optimal.
Kelalaian orang tua dan lingkungan menguntungkan para predator seks. Sialnya, bahaya itu sering tidak disadari karena keluarga dan lingkungan merasa sudah memberikan tempat yang aman bagi anak-anak.
Kasus di JIS, meneguhkan bukti bahwa aksi pedofilia bisa memangsa siapa saja -- tak terkecuali kepada murid yang sekolah di tempat-tempat elite, yang mengklaim memiliki sistem pengawasan ketat dan canggih.
Kepala Bagian Psikologi Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi Hary Prasetya mengingatkan bahwa aksi pedofilia menimbulkan trauma bagi korban. Yang lebih mengerikan, dalam beberapa kasus, para korban akhirnya memiliki kecenderungan melakukan tindakan serupa saat beranjak dewasa.
“Sebagian besar pelaku itu kebanyakan adalah korban. Dia pernah mengalami perlakuan seperti itu kemudian setelah beberapa waktu dia akan melakukan sebagai pelaku dan bukan korban lagi. Sebagian besar seperti itu, pengalaman traumatis masa lalu,” kata Hary Prasetya.
Hary juga memberikan sejumlah penjelasan mengenai fenomena pedofilia. Berikut petikan wawancaranya dengan
Metrotvnews.com pekan lalu.
Selain faktor trauma, karena pernah jadi korban, ada faktor lain yang membuat seseorang menjadi pelaku pedofil?
Ada faktor-faktor yang namanya kelainan. Yang namanya pedofil itu sebetulnya kelainan seksual. Yang pertama, ada penyimpangan dalam segi objek. Yang kedua, ada penyimpangan dalam segi cara.
Secara psikologis, bagaimana pada mulanya korban bereaksi terhadap aksi pedofil yang dia alami?
Kalau baru pertama kali, bekasnya masih jelas benar. Tetapi kalau dia sudah berkali-kali, sakitnya sudah tidak terasa lagi, bahkan mungkin korban ini sudah bisa menikmati kalau sudah berkali-kali.
Kalau sudah dilakukan berkali-kali rasa sakit makin berkurang. Mungkin juga suatu ketika dia akan dapat kepuasan juga meskipun awalnya korban karena anak kecil belum bisa menentukan apa yang dilakukan itu baik atau tidak. Jadi dia hanya mengikuti yang dirasakan saja.
Bagaimana peran kepolisian untuk pencegahan?
Kita tidak bisa membebankan itu kepada polisi. Bagaimana seorang anak bergaul, seorang anak bersosialisasi,tentu yang pertama (tanggung jawab) orangtua. Anak kan masih sangat tergantung pada orangtua, kemudian lembaga sekolah dan lingkungan sekitar. Semua pihak itu tentunya harus bersama-sama saling menjaga, saling melindungi, saling mengawasi dan membimbing anak-anak. Kalaupun polisi secara umum hanya melindungi dan menerima laporan. Kalau yang sifatnya privat, lebih ke lingkungan keluarga, sekolah, atau tempat tinggalnya.
Kenapa korban ketika dewasa bisa menjadi pelaku pedofilia, apa yang mendorongnya?
Bisa jadi sebagai sarana untuk balas dendam karena dia tidak bisa melakukan kepada orang yang bersangkutan, maka pelampiasan biasanya ke orang lain. Dari situ dia mendapatkan kenikmatan sehingga melampiaskanya kepada anak kecil. Perkembangannya seperti itu.
Apakah ada ciri khusus fisik atau perilaku pedofilia?
Secara umum kelainan seperti itu tidak bisa dilihat secara fisik, tetapi mungkin perilaku-perilaku dia. Biasanya orang-orang yang pedofil ini punya rasa percaya diri yang sangat rendah dan ketika dia berhadapan dengan wanita yang normal yang sebaya dia akan minder karena tidak mempunyai rasa kepercayaan diri sehingga dia mencari sasaran anak kecil. Tetapi kalau orang suka dengan anak kecil, seorang sayang dengan anak kecil tentu tidak selalu akan menjadi seorang pedofil juga.
Kemudian biasanya pelaku cenderung lebih tertutup. Mungkin di hadapan lingkungan umum biasa saja, tetapi sebetulnya dalam hati atau jiwa dia ada rasa minder yang amat sangat. Untuk hal-hal yang sifatnya pribadi, dia tidak akan ceritakan kepada orang lain, tetapi untuk hal-hal yang sifatnya umum, dia masih bisalah menyesuaikan diri.
Apa saran anda untuk masyarakat agar tidak menjadi korban?
Tentunya seorang anak jangan pernah dibiarkan sendiri dalam waktu yang relatif lama dan dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang tidak terlalu dikenal atau tidak dipercaya. Selalu awasi dan amati setiap perubahan pada anak. Anak-anak yang menjadi korban seksual, baik itu pedofil, atau pencabulan oleh orang-orang biasa selalu akan mengalami perubahan perilaku.
Biasanya anak itu berubah menjadi pemurung. Biasanya anak itu takut untuk bertemu dengan anak yang begitu besar, kemudian anak itu kesakitan ketika buang air. Pasti muncul perubahan perilaku di luar batas wajar. Misalnya, bila sebelumnya ceria, tiba-tiba jadi pemurung, atau gampang marah, dan takut bertemu orang.
Apakah pelaku bisa sembuh?
Kalu dibilang bisa ya bisa. Cuma memerlukan upaya dan usaha yang sangat besar dan harus dibantu oleh seorang yang ahli. Saya selalu optimistis kalau kelainan apapun bisa disembuhkan. Dibantu psikolog, psikiater, dalam jenjang waktu yang lama dan kemauan yang sangat besar. Kalau orang yang bersangkutan tidak mau sembuh dan menikmati itu, ya dia tidak akan bisa sembuh.
Kalau untuk menyembuhkan trauma korban apakah hanya psikiater saja cukup?
Ya tentunya harus didampingi oleh seorang ahli di situ. Yang menjalankan seorang psikolog tetapi harus juga mendapatkan dukungan keluarga, sekolah dan lingkungan. Jangan sampai ada label bahwa dia adalah seorang korban yang patut lecehkan, diasingkan. Dia harus tetap diberi kebebasan yang sama dengan anak-anak yang lain, bukan diperlakukan beda tetapi harus tetap mendapat dorongan atau motivasi terutama dari lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan rumahnya.
Bagaimana mencegah korban agar tidak menjadi pelaku pedofil?
Tentunya dia harus mendapat bimbingan atau pengawasan, mendapatkan motivasi, mendapatkan terapi dari ahlinya. Korban jangan sampai disalahkan. Perlakuan-perlakuan itu akan terinternalisasi kedalam dirinya dan cenderung menjadi trauma berkepanjangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIT)