medcom.id, Jakarta: Jumlah penderita kanker meroket dari tahun ke tahun. Walhasil, Rumah Sakit Kanker Dharmais tak pernah sepi pasien.
Pantauan Metrotvnews.com, Rabu (25/5/2016), RS Dharmais tak hanya ramai didatangi pasien dari Jakarta, tapi juga dari luar Jakarta. Puluhan pasien lain bahkan berasal dari luar Jawa.
Mega, salah satunya. Wanita 35 tahun itu datang dari Kalimantan Utara. Sejak Januari, ia dan suaminya, Johathan Tului, harus bolak balik Jakarta-Kalimantan Utara. "Tapi sudah satu bulan belum juga dapat kamar. Suami saya juga belum dapat kemo atau sinar," kata Mega kepada Metrotvnews.com, Slipi, Jakarta Barat, (25/5/2016).
Ia menceritakan, suaminya terdeteksi kanker Nasofaring sejak 2015. Nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan rongga mulut.
Pesien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) ini mengaku tak tahu betul alasan suaminya tak kunjung mendapat kamar perawatan. Pengobatan suaminya juga sempat tertunda lantaran salah satu dokter yang menanganinya pergi ke luar negeri. "Katanya sih ada seminar. Tapi saya enggak dikasih info yang pasti," tutur Mega.
Suasana di RS Dharmais--Metrotvnews.com/Nur Azizah
Cerita lain datang dari Erna. Wanita 46 tahun itu sudah empat tahun menderita kanker Payudara. Membludaknya pasien di Rumah Sakit Dharmais membuatnya harus menunggu ruang perawatan.
Seringnya, ruangan penuh membuat pasien harus rela menunggu berminggu-minggu. Hal itu memaksa wanita asal Poso, Sulawesi Tengah, ini menetap di rumah singgah.
RS Dharmais--Metrotvnews.com/Nur Azizah
Direktur Utama RS Kanker Dharmais Abdul Kadir membantah menelantarkan pasien. Ia menjelaskan, setiap penderita kanker yang sudah dikemoterapi harus menunggu dua hingga tiga minggu untuk melanjutkan kemoterapi ke tahap selanjutnya.
"Harus menunggu dulu agar selnya tumbuh lagi. Kalau kurang dari dua minggu, pengobatan tidak bisa dilakukan. Jadi bukan menunggu karena dia BPJS atau bukan," ungkap Abdul.
Umumnya, setiap pasien harus melewati sekitar enam hingga delapan kali siklus kemoterapi. Bila, satu siklus terlewat pasien harus mengulang ke tahap awal.
"Sehari, RS Dharmais bisa menangani sekitar 600 pasien lama dan 200 pasien baru. Pasien baru ini memang harus menunggu. Ada waiting list. Kenapa? Karena pengobatan pasien lama tidak boleh diganggu," terang Abdul.
Alasan lainnya, setiap pasien yang hendak dikemoterapi dan pengobatan sinar harus dalam kondisi sehat. "Pengobatan menjadi tertunda kalau pasien sakit. Misalnya, fisiknya lemas dan kurang darah, itu tidak bisa. Harus menunggu agar dia dalam keadaan normal," jelasnya.
Namun, Abdul mengakui, jumlah pasien kanker tak sebanding dengan kamar perawatan. Saat ini, RS Dharmais hanya memiliki sekitar 350 tempat tidur.
Ia berencana, tahun depan menambah 59 tempat tidur lagi. Abdul berharap pemerintah bisa membangun rumah sakit kanker di setiap daerah agar pasien di luar kota mendapat pengobatan lebih cepat.
April lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama sempat mengatakan akan membangun rumah sakit khusus kanker. Rumah sakit itu akan dibangun di lahan bekas Rumah Sakit Sumber Waras.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membutuhkan dana sebanyak Rp1 Triliun untuk membangun rumah sakit khusus kanker. "Tinggal kita pikir mau pakai kewajiban pengembang dari Koefisien Lantai Bangunan (KLB) atau APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah) DKI," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis 20 April.
Ahok lebih memilih pembangunan menggunakan dana KLB. Sebab, pembangunan menggunakan APBD memakan waktu lama, hingga dua tahun lebih. Sementara, Ahok sadar pembangunan multi years di era kepemimpinannya tak boleh lebih dari Oktober 2017.
Ahok mengungkapkan, dana sebanyak itu dibutuhkan buat membangun paliatif care semacam apartemen 1000 unit khusus pasien penanganan jangka panjang. Ahok mengaku bakal melanjutkan pembangunan tersebut meski kasus pembelian lahan RS Sumber Waras masih dalam penanganan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
medcom.id, Jakarta: Jumlah penderita kanker meroket dari tahun ke tahun. Walhasil, Rumah Sakit Kanker Dharmais tak pernah sepi pasien.
Pantauan
Metrotvnews.com, Rabu (25/5/2016), RS Dharmais tak hanya ramai didatangi pasien dari Jakarta, tapi juga dari luar Jakarta. Puluhan pasien lain bahkan berasal dari luar Jawa.
Mega, salah satunya. Wanita 35 tahun itu datang dari Kalimantan Utara. Sejak Januari, ia dan suaminya, Johathan Tului, harus bolak balik Jakarta-Kalimantan Utara.
"Tapi sudah satu bulan belum juga dapat kamar. Suami saya juga belum dapat kemo atau sinar," kata Mega kepada
Metrotvnews.com, Slipi, Jakarta Barat, (25/5/2016).
Ia menceritakan, suaminya terdeteksi kanker Nasofaring sejak 2015. Nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan rongga mulut.
Pesien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) ini mengaku tak tahu betul alasan suaminya tak kunjung mendapat kamar perawatan. Pengobatan suaminya juga sempat tertunda lantaran salah satu dokter yang menanganinya pergi ke luar negeri. "Katanya sih ada seminar. Tapi saya enggak dikasih info yang pasti," tutur Mega.

Suasana di RS Dharmais--Metrotvnews.com/Nur Azizah
Cerita lain datang dari Erna. Wanita 46 tahun itu sudah empat tahun menderita kanker Payudara. Membludaknya pasien di Rumah Sakit Dharmais membuatnya harus menunggu ruang perawatan.
Seringnya, ruangan penuh membuat pasien harus rela menunggu berminggu-minggu. Hal itu memaksa wanita asal Poso, Sulawesi Tengah, ini menetap di rumah singgah.
RS Dharmais--Metrotvnews.com/Nur Azizah
Direktur Utama RS Kanker Dharmais Abdul Kadir membantah menelantarkan pasien. Ia menjelaskan, setiap penderita kanker yang sudah dikemoterapi harus menunggu dua hingga tiga minggu untuk melanjutkan kemoterapi ke tahap selanjutnya.
"Harus menunggu dulu agar selnya tumbuh lagi. Kalau kurang dari dua minggu, pengobatan tidak bisa dilakukan. Jadi bukan menunggu karena dia BPJS atau bukan," ungkap Abdul.
Umumnya, setiap pasien harus melewati sekitar enam hingga delapan kali siklus kemoterapi. Bila, satu siklus terlewat pasien harus mengulang ke tahap awal.
"Sehari, RS Dharmais bisa menangani sekitar 600 pasien lama dan 200 pasien baru. Pasien baru ini memang harus menunggu. Ada
waiting list. Kenapa? Karena pengobatan pasien lama tidak boleh diganggu," terang Abdul.
Alasan lainnya, setiap pasien yang hendak dikemoterapi dan pengobatan sinar harus dalam kondisi sehat. "Pengobatan menjadi tertunda kalau pasien sakit. Misalnya, fisiknya lemas dan kurang darah, itu tidak bisa. Harus menunggu agar dia dalam keadaan normal," jelasnya.
Namun, Abdul mengakui, jumlah pasien kanker tak sebanding dengan kamar perawatan. Saat ini, RS Dharmais hanya memiliki sekitar 350 tempat tidur.
Ia berencana, tahun depan menambah 59 tempat tidur lagi. Abdul berharap pemerintah bisa membangun rumah sakit kanker di setiap daerah agar pasien di luar kota mendapat pengobatan lebih cepat.
April lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama sempat mengatakan akan membangun rumah sakit khusus kanker. Rumah sakit itu akan dibangun di lahan bekas Rumah Sakit Sumber Waras.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membutuhkan dana sebanyak Rp1 Triliun untuk membangun rumah sakit khusus kanker. "Tinggal kita pikir mau pakai kewajiban pengembang dari Koefisien Lantai Bangunan (KLB) atau APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah) DKI," kata Ahok di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis 20 April.
Ahok lebih memilih pembangunan menggunakan dana KLB. Sebab, pembangunan menggunakan APBD memakan waktu lama, hingga dua tahun lebih. Sementara, Ahok sadar pembangunan multi years di era kepemimpinannya tak boleh lebih dari Oktober 2017.
Ahok mengungkapkan, dana sebanyak itu dibutuhkan buat membangun paliatif care semacam apartemen 1000 unit khusus pasien penanganan jangka panjang. Ahok mengaku bakal melanjutkan pembangunan tersebut meski kasus pembelian lahan RS Sumber Waras masih dalam penanganan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(YDH)