Kepala Seksi STNK Kompol Arif Fazrulrahman. Foto: Medcom.id/ Siti Yona Hukmana
Kepala Seksi STNK Kompol Arif Fazrulrahman. Foto: Medcom.id/ Siti Yona Hukmana

Denda Tilang Elektronik Bisa Mencapai Rp750 Ribu

Nasional tilang elektronik
Siti Yona Hukmana • 02 Juli 2019 06:08
Jakarta: Seluruh pelanggaran lalu lintas yang terekam tilang elektronik (e-TLE) akan dikenakan denda sesuai jenis pelanggaran. Denda tilang tersebut bisa mencapai Rp750 ribu.
 
"Setiap pelanggaran beda-beda dendanya sesuai aturan perundang-undangan. Namun, denda maksimal capai Rp750 ribu," kata Kepala Seksi STNK Kompol Arif Fazrulrahman di Polda Metro Jaya, Senin, 1 Juli 2019.
 
Ada sejumlah jenis pelanggaran yang mampu direkam oleh kamera canggih itu di antaranya pelanggaran marka jalan, lampu merah, traffic light (TL). Kemudian pelanggaran ganjil genap, tidak menggunakan sabuk pengaman (safety belt), menggunakan handphone saat berkendara dan kecepatan maksimal 40km/jam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pelanggaran lalu lintas diatur dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Denda maksimal itu dapat dikenakan pada pengendara yang menggunakan telepon genggam saat mengemudi mobil.
 
Aturan itu terdapat dalam Pasal 106 ayat 1. Dalam pasal itu menyebutkan bahwa, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi di jalan dapat dipidana.
 
"Ancamannya, bisa dipidana dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp750 ribu," ujar Arif.
 
Sementara itu, lanjut Arif, bagi pengendara yang melanggar rambu lalu lintas dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu. Hal ini terdapat pada Pasal 287 ayat 1.
 
"Pelanggar ganjil genap bisa dikenakan Rp500 ribu," tambahnya.
 
Kemudian, bagi pengendara yang melanggar aturan batas kecepatan paling tinggi atau paling rendah juga bisa dipidana. Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya mengatur kecepatan kendaraan dalam kota maksimal 40km/jam.
 
"Pelanggar bisa dikenakan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu, sesuai Pasal 287 ayat 5," imbuh Arif.
 
Arif mengatakan, denda paling rendah dikenakan pada penumpang atau pengemudi yang tidak mengenakan sabuk pengaman. Hal ini diatur dalam Pasal 289.
 
"Setiap pengemudi atau penumpang yang tak mengenakan sabuk keselamatan dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp250 ribu," pungkas Arif.
 
Denda tilang elektronik ini dapat dibayarkan melalui Bank BRI. Pelanggar diberi waktu 14 hari untuk membayarkan denda. Jika melebihi batas waktu, Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) otomatis terblokir.
 
Saat ini, Ditlantas Polda Metro Jaya telah mempunyai 12 kamera tilang elektronik. Dua kamera telah diterapkan sejak 1 November 2018 lalu. Sementara 10 kamera baru saja diterapkan sejak 1 Juli.
 
Dua belas kamera ini ditempatkan di kawasan Sudirman-Thamrin. Di antaranya, JPO MRT Senayan, JPO MRT Semanggi, JPO Kemenpar, JPO MRT Kemenpan RB, Fly Over Sudirman, Simpang Bundaran Patung Kuda, Fly Over Thamrin, Simpang Sarinah, Simpang Sarinah Starbucks, dan JPO Plaza Gajah Mada.
 
Tilang elektronik ini dinilai mampu menurunkan jumlah pelanggar hingga 40 persen. Ke depan, tilang elektronik ditargetkan dapat menekan jumlah pelanggaran di atas 50 persen.
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif