Pusat pengawasan kereta milik Biro Transportasi Nagoya - Medcom.id/Intan Fauzi.
Pusat pengawasan kereta milik Biro Transportasi Nagoya - Medcom.id/Intan Fauzi.

Tak Main-main dengan Keamanan Kereta

Intan fauzi • 11 Desember 2017 19:18
Jepang: Negara rawan gempa menjadikan Jepang menempatkan sistem keamanan sebagai prioritas utama. Kebiasaan negeri sakura itu menjalar ke berbagai aspek. 
 
Termasuk transportasi umum. Apalagi, sebagian warga Jepang menggunakan transpotasi umum, terutama kereta api.
 
PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta berkesempatan mempelajari jaminan keselamatan di perangkat transportasi yang dilakukan oleh operator kereta api Jepang. Mulai dari nilai investasi untuk keamanan, pemeliharaan kereta, pengelolaan pusat pengawasan kereta, sampai persiapan sumber daya manusia. 

Corporate Secretary MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah menuturkan saat ini MRT Jakarta sudah memiliki Risk Management Division yang memastikan soal keselamatan. Meski kereta belum beroperasi, divisi ini tetap memantau keselamatan selama pengerjaan proyek berlangsung.
 
“Setiap ada kejadian meski tidak fatal harus jadi pelajaran, artinya dibahas secara komprehensif, bukan hanya di jajaran struktural, tapi semua. Setiap bulan, di minggu kedua dipertontonkan,” kata pria yang akrab disapa Hikmat beberapa waktu lalu.
 

Investasi Keamanan Besar-besaran
 
East Japan Railway Company alias JR East, operator kereta api kawakan di Jepang, sangat mengutamakan keamanan dalam sistem perkeretaapian yang mereka miliki sejak perusahaan itu didirikan tahun 1987. JR East bahkan mengejar tingkat keamanan yang luar biasa.
 
“Konsumen merasakan bahwa pelayanan yang kami berikan memiliki keunggulan, dan keunggulan itu berupa keamanan,” kata Manager Global Railway Business Division JR East Haruo Yamada, Selasa 28 November 2017.
 
Aspek keamanan dalam sistem perkeretaapian meliputi stasiun, trek kereta, rangkaian kereta, tenaga listrik, persinyalan, sistem IT, infrastruktur kereta api, dan bisnis yang terkait dengan JR East.
 
Fokus JR East terhadap keamanan dimulai dengan membangun budaya di lingkungan pekerja sejak tahun 1988. Tujuannya, budaya tentang keamanan tersebut dapat membiasakan pekerja untuk berpikir ‘safety first’ setiap saat. Kemudian, JR East mulai membuat majalah dan website yang berisi perihal keamanan.
 
JR East bahkan memiliki organisasi khusus yang membidangi soal keamanan. Organisasi tersebut memiliki laboratorium penelitian untuk keamanan juga pencegahan bencana.
 
Keseriusan JR East ini dibuktikan oleh jumlah investasi yang ditanam untuk keamanan. Jumlahnya tak main-main, 55 persen investasi JR East diperuntukkan untuk keamanan.
 
“Selama 29 tahun ini, kami telah menginvestasikan lebih dari 3 triliun yen untuk keamanan,” ujar Yamada.
 
Tak Main-main dengan Keamanan Kereta
Workshop Biro Transportasi Kota Nagoya - Medcom.id/Intan Fauzi
 

 
Pemeliharaan dan Sistem Pengendali Kereta
 
Selain soal investasi, pemeliharaan kereta api juga penting untuk keamanan. Performa kereta harus dipastikan selalu prima. Hal tersebut dipelajari dari Biro Transportasi Kota Nagoya. Perusahaan yang berada di bawah pemerintah itu melakukan pemeliharaan sendiri terhadap kereta mereka.
 
Biro Transportasi Kota Nagoya merupakan operator dari Nagoya City Subway Lines. Mereka memiliki 782 kereta (gerbong) yang beroperasi untuk enam jalur.
 
Ada empat jenis pemeliharaan kereta berdasarkan waktu Pertama, pemeriksaan total yang dilakukan setidaknya setiap delapan tahun sekali.
 
“Komponen utama kereta dibongkar dan kereta diperbaiki secara menyeluruh,” kata Staf Biro Transportasi Nagoya, Chiharu Yada, Rabu 29 November 2017.
 
Kedua pemeliharaan komponen utama, dilakukan setiap empat tahun sekali atau setiap kereta sudah beroperasi sejauh 600ribu kilometer. Di tahap ini, komponen utama dibongkar dan diperbaiki.
 
Ada pun yang dinamakan pemeliharaan bulanan yang mana dilakukan setiap tiga bulan sekali. “Kondisi dan fungsi komponen utama kereta dicek,” ucap Yada.
 
Yang terakhir merupakan pemeliharaan dasar yang dilakukan setiap enam hari sekali. Di tahap ini pemeliharaan tak berbeda dengan pemeliharaan bulanan di mana yang diperiksa kondisi dan fungsi kereta.
 
“Setiap kereta yang baru dibeli, dirangkai, atau dimodifikasi juga kami periksa sebelum dioperasikan,” terang Yada.
 

Tak Main-main dengan Keamanan KeretaSelain melihat sistem pemeliharaan kereta api, MRT Jakarta juga sempat melihat Operation Control Center (OCC) atau pusat pengawasan kereta milik Biro Transportasi Nagoya.
 
Setiap operator kereta memang harus memiliki OCC dan lokasi OCC ini harus dipastikan selalu aman dan bersifat rahasia. Sehingga OCC biasanya termasuk ke dalam objek vital.
 
OCC Biro Transportasi Nagoya - Medcom.id/Intan Fauzi
 

Utamanya, Biro Transportasi Nagoya memiliki dua sistem kendali kereta, yaitu Automatic Train Operation (ATO) dan Automatic Train Control (ATC). Di OCC semua perjalanan kereta api terpantau dengan jelas. Di dalamnya ada 44 petugas yang bekerja bergantian selama 24 jam.
 
OCC Biro Transportasi Nagoya juga memiliki peralatan pemantau gempa. Mengingat, Jepang sangat rawan terhadap gempa. 
 
“Kalau gempa terjadi, sirine akan berbunyi dan kami hentikan sementara pengoperasian kereta hingga situasi aman,” ujar seorang staf OCC Yamaguchi Fuminori.
 

Persiapan SDM
 
Hari terakhir kunjungannya di Jepang, MRT Jakarta sempat bertandang ke pusat pelatihan milik Odakyu Electric Railway Co., Ltd. Di sana MRT Jakarta melihat langsung peralatan dan teknologi penunjang untuk mempersiapkan sumber daya manusia dalam pengelolaan kereta api.
 
Odakyu sendiri merupakan perusahaan swasta yang bergerak di bidang perkeretaapian. Di samping itu, mereka juga menjalankan bisnis pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD) seperti yang dilakukan East Japan Railway Company alias JR East.
 
Odakyu membagi pelatihannya menjadi dua grup, yang pertama untuk kepentingan pengoperasian kereta dan yang kedua untuk kepentingan bisnis. Khusus untuk kereta, Odakyu melatih para pekerja yang nantinya akan bekerja di stasiun dan menjadi masinis.
 
Pimpinan Pusat Pelatihan Odakyu, Takahashi Takao mengatakan, baik calon pekerja stasiun atau pun masinis sama-sama belajar menguasai soal stasiun. 
 
“Ini dilakukan selama satu bulan,” kata dia.
 
Kemudian untuk calon masinis lanjut melakukan pelatihan mengemudikan kereta selama dua bulan. Odakyu memiliki teknologi berupa duplikat kabin masinis yang membuat masinis merasakan pelatihan seolah-olah langsung berada di lapangan.
 
“Setelah bisa sampai mengendarai, bisa jadi masinis dilepas ke lapangan tapi mendapatkan pengawasan selama tiga bulan, di mana dua bulan mendapatkan pendampingan dan satu bulan pengawasan,” jelas Takao.
 
Tak Main-main dengan Keamanan Kereta
Pusat Pelatihan Odakyu - Medcom.id/Intan Fauzi.
 

Kendati memberikan pelatihan, Odakyu tak mengeluarkan sertifikat untuk masinis yang mereka latih. “Masinis dites oleh negara dan sertifikat diberikan oleh negara, setelah dapat sertifikat baru mereka bisa menjadi masinis,” terang dia. 
 
Selain itu, Odakyu juga memiliki alat pendeteksi detak jantung masinis yang sudah digunakan selama dua tahun. Takao mengklaim teknologi yang dipakai di pusat pelatihan ini baru dipakai oleh mereka.
 
“Ini untuk keamanan, apakah masinisnya punya tingkat nervous yang tinggi atau tidak,” ujar Takao.
 
Takao berharap sistem pelatihan Odakyu dapat pula digunakan di Indonesia, khususnya MRT Jakarta. “Kami memang belum bergerak ke luar negeri untuk melakukan pendampingan pelatihan, ini kami baru memulai, makanya kami berharap bisa bekerja sama dengan MRT Jakarta,” tukas dia.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>