Kehadiran MRT Diharapkan Ubah Perilaku Bertransportasi

Nur Azizah 30 Oktober 2018 10:10 WIB
mrt
Kehadiran MRT Diharapkan Ubah Perilaku Bertransportasi
Ilustrasi. MI/ Usman
Jakarta: Asha Nurani sering terusik dengan perilaku penumpang kereta rel listrik jurusan Parung Panjang-Tanah Abang. Terutama ketika ada penumpang duduk mengangkang saat kereta penuh. 

Bila sedang kesal, ia langsung menepuk lulut penumpang tersebut dan memintanya bergeser. Selain itu Asha juga merasa jengkel bila ada penumpang yang melakukan video call. 

Bukan apa-apa, terkadang suaranya dibiarkan nyaring hingga terdengar ke kuping penumpang lain. Dengan begitu, cerita yang seharusnya menjadi milik pribadi bisa dikonsumsi publik.


“Kita pulang kerja sudah capek, ketemu sama penumpang yang enggak ada manner-nya, terus dengar percakapan yang enggak banget, kan jadi kesel,” ungkap Asha kepada Medcom.id, Senin, 29 Oktober 2018.

Asha lantas teringat pengalamannya saat naik kereta di Tokyo pada akhir April lalu. Ia kagum dengan perilaku penumpang kereta di negeri Matahari Terbit itu yang meski sedang terburu-buru namun tidak saling dorong.

“Mereka benar-benar tertib. Penumpang yang turun dipersilakan terlebih dahulu, kemudian gantian penumpang yang naik. Enggak kaya di sini, saling sikut,” cerita Asha.

Perempuan 27 tahun ini berharap sikap pengguna transportasi publik di Ibu Kota membaik seiring adanya Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta. Sebab, selain moda, pola bertransportasi juga penting untuk memperbaiki sistem transportasi publik.

“Karena sikap penumpang juga jadi elemen yang harus diperhatikan,” ucap dia.

Sementara itu, Peneliti Institute Studi Transportasi Deddy Herlambang optimistis pengguna transportasi publik bisa berubah dengan adanya moda transportasi baru. Pasalnya, pengguna MRT merupakan kelompok baru yang gampang dibentuk.

“Penumpang MRT akan menjadi komunitas baru yang akan menerima sosialisasi baru, fasilitas baru, dan itu akan membentuk kebiasaan yang baru,” ujar Deddy.

Menurut dia yang tidak kalah penting ialah adanya edukasi layanan serta fasilitas yang mendukung terbentuknya perilaku. Misalnya ketepatan waktu yang bisa mengubah masyarakat menjadi lebih disiplin dan teratur.

Coorporate Secretary PT MRT Jakarta Tubagus Hikmatullah mengatakan tingkah laku penumpang bisa diubah dengan hadirnya fasilitas transportasi yang baik. Misalnya, penggunaan pintu tepi peron atau platform screen door yang bisa membentuk budaya antre.

“Sebenarnya dengan desain (baik infrastruktur maupun aturan) yang baik, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak tertib ketika menjadi pengguna kereta,” kata dia.

Saat ini, PT MRT tengah gencar melakukan kampanye #UbahJakarta. Tema tersebut diambil bukan saja untuk mengubah sistem transportasi di Ibu Kota.

Namun juga mengubah gaya hidup masyarakatnya. Hikmat berharap hadirnya MRT Jakarta dapat menjadi katalis perubahan budaya warga agar mengedepankan transportasi publik.

“Kami ingin masyarakan berganti transportasi, dari pengguna transportasi pribadi menjadi pengguna transportasi publik, termasuk ada perubahan perilaku sejak masuk ke dalam stasiun, di dalam kereta, atau di halte bus,” jelas dia.

Berdasarkan hasil ridership survey yang dilakukan PT MRT pada Mei lalu, sebanyak 65,5 persen warga DKI menyatakan bersedia pindah ke MRT Jakarta. Sementara sebanyak 28,8 persen responden mengatakan tidak tahu akan berpindah ke MRT atau tidak. Sedangkan 5,7 persen responden mengatakan akan pindah ke MRT.

Alasan masyarakat beralih ke MRT lantaran mengutamanakan kecepatam perjalanan, kenyamanan, dan kemudahan akses. Bahkan, masyarakat tidak menjadikan tarif sebagai pertimbangan utama. Survei tersebut dilakukan secara online dan diikuti sekitar 10.073 responden.




(SCI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id