medcom.id, Jakarta: Yayasan Kasih Ananda yang mengeloa 14 sekolah ternyata tidak mengalaami kesulitan biaya. 10 sekolah diserahkan ke Pemerintah DKI, karena sekolah itu berdiri di atas lahan pengembang.
Pengurus Yayasan Kasih Ananda, Kuncoro, keberatan dengan beberapa pihak yang menyebut yayasan tidak sanggup membayar biaya operasional.
"Tidak tahu, tahunya juga di media ada yang bilang Yayasan Kasih Ananda pailit. Itu yang tidak kita terima," kata Kuncoro kepada Metrotvnews.com di Jakarta Pusat, Jumat 28 Juli 2017.
Kuncoro tidak terima dengan informasi yang menurutnya tidak akurat dan menyudutkan pihak yayasan. Sebab, hingga kini yayasan masih mampu berdiri sendiri dan mengelola lembaga pendidikan dengan baik.
Baca: Dinas Pendidikan Bantah Bekukan SD Kasih Ananda II
"Bukan kesalahan, dibikin salah itu. Tapi tidak tahu apa-apa. Lihat saja kita masih segar bugar masih mengelola," jelas perempuan 72 tahun ini.
Sebelumnya, yayasan ini menaungi 14 sekolah Kasih Ananda dari tingkat TK hingga SMK. Rinciannya, 10 TK, dua SD, satu SMP, dan satu SMK Pariwisata. Pada 2006, sembilan TK dan satu SD yakni SD Kasih Ananda II diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta.
Kuncoro mengungkapkan, serah terima dilakukan di Balai Kota DKI pada 7 Maret 2007 dan diterima Gubernur DKI Sutiyoso. Sementara itu, satu TK dilebur sehingga kini hanya ada tiga sekolah yang masih aktif dan dikelola di bawah naungan Yayasan Kasih Ananda.
"Bukan itu alasannya (kesulitan biaya). Ada yang mengurus. Guru, siswa, kepala sekolah ada. Yayasannya seperti kami masih ada," tambahnya.
Alasan penyerahan itu, kata Kuncoro, karena yayasan merasa tidak memiliki seutuhnya bangunan sekolah-sekolah tersebut. Sebab, 10 sekolah yang diserahkan ke Pemprov dibiayai dan dibangun di atas tanah pengembang. Berbeda dengan sekolah lain yang dipegang yayasan.
"Yang kita pribadi, bukan bantuan pengembang itu ada tiga. Masih dikelola oleh yayasan," katanya.
Baca: Dibekukan, Guru SD Kasih Ananda II Mengadu ke Djarot
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta telah membekukan SD Kasih Ananda II, Cakung, Jakarta Timur. Pasalnya, Yayasan Kasih Ananda telah mengalihkan pengelolaannya kepada Pemprov DKI Jakarta.
Pembekuan SD Kasih Ananda II mendapat penolakan dari orangtua, guru, serta siswa. Mereka menginginkan SD Kasih Ananda tidak dibekukan dan bisa beroperasi seperti biasa.
Guru SD Kasih Ananda II telah mengadu ke Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Namun, Djarot tak mau buru-buru bersikap. Dia mengatakan, Pemprov DKI pasti punya alasan kenapa sekolah itu harus dibekukan.
"Kita lihat dulu, pasti ada alasannya. Kalau (alasannya) kuat dan harus dibekukan, ya dibekukan. Bukan dibekukan lalu bisa diganti dengan (tempat) yang lain," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa 25 Juli 2017.
medcom.id, Jakarta: Yayasan Kasih Ananda yang mengeloa 14 sekolah ternyata tidak mengalaami kesulitan biaya. 10 sekolah diserahkan ke Pemerintah DKI, karena sekolah itu berdiri di atas lahan pengembang.
Pengurus Yayasan Kasih Ananda, Kuncoro, keberatan dengan beberapa pihak yang menyebut yayasan tidak sanggup membayar biaya operasional.
"Tidak tahu, tahunya juga di media ada yang bilang Yayasan Kasih Ananda pailit. Itu yang tidak kita terima," kata Kuncoro kepada
Metrotvnews.com di Jakarta Pusat, Jumat 28 Juli 2017.
Kuncoro tidak terima dengan informasi yang menurutnya tidak akurat dan menyudutkan pihak yayasan. Sebab, hingga kini yayasan masih mampu berdiri sendiri dan mengelola lembaga pendidikan dengan baik.
Baca:
Dinas Pendidikan Bantah Bekukan SD Kasih Ananda II
"Bukan kesalahan, dibikin salah itu. Tapi tidak tahu apa-apa. Lihat saja kita masih segar bugar masih mengelola," jelas perempuan 72 tahun ini.
Sebelumnya, yayasan ini menaungi 14 sekolah Kasih Ananda dari tingkat TK hingga SMK. Rinciannya, 10 TK, dua SD, satu SMP, dan satu SMK Pariwisata. Pada 2006, sembilan TK dan satu SD yakni SD Kasih Ananda II diserahkan ke Pemprov DKI Jakarta.
Kuncoro mengungkapkan, serah terima dilakukan di Balai Kota DKI pada 7 Maret 2007 dan diterima Gubernur DKI Sutiyoso. Sementara itu, satu TK dilebur sehingga kini hanya ada tiga sekolah yang masih aktif dan dikelola di bawah naungan Yayasan Kasih Ananda.
"Bukan itu alasannya (kesulitan biaya). Ada yang mengurus. Guru, siswa, kepala sekolah ada. Yayasannya seperti kami masih ada," tambahnya.
Alasan penyerahan itu, kata Kuncoro, karena yayasan merasa tidak memiliki seutuhnya bangunan sekolah-sekolah tersebut. Sebab, 10 sekolah yang diserahkan ke Pemprov dibiayai dan dibangun di atas tanah pengembang. Berbeda dengan sekolah lain yang dipegang yayasan.
"Yang kita pribadi, bukan bantuan pengembang itu ada tiga. Masih dikelola oleh yayasan," katanya.
Baca:
Dibekukan, Guru SD Kasih Ananda II Mengadu ke Djarot
Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta telah membekukan SD Kasih Ananda II, Cakung, Jakarta Timur. Pasalnya, Yayasan Kasih Ananda telah mengalihkan pengelolaannya kepada Pemprov DKI Jakarta.
Pembekuan SD Kasih Ananda II mendapat penolakan dari orangtua, guru, serta siswa. Mereka menginginkan SD Kasih Ananda tidak dibekukan dan bisa beroperasi seperti biasa.
Guru SD Kasih Ananda II telah mengadu ke Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat. Namun, Djarot tak mau buru-buru bersikap. Dia mengatakan, Pemprov DKI pasti punya alasan kenapa sekolah itu harus dibekukan.
"Kita lihat dulu, pasti ada alasannya. Kalau (alasannya) kuat dan harus dibekukan, ya dibekukan. Bukan dibekukan lalu bisa diganti dengan (tempat) yang lain," kata Djarot di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa 25 Juli 2017.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FZN)