Seorang warga mengunjungi rumah Si Pitung yang terletak di kawasan Marunda, Jakarta, Minggu (29/7). ANTARA/Novandi K Wardana.
Seorang warga mengunjungi rumah Si Pitung yang terletak di kawasan Marunda, Jakarta, Minggu (29/7). ANTARA/Novandi K Wardana.

Mengenang Tinju Si Pitung

Nasional hut kota jakarta
Yogi Bayu Aji • 22 Juni 2016 08:26
Metrotvnews.om, Jakarta: Perawakannya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah, sekitar 165 cm saja. Kulitnya kuning, rambutnya keriting. Sosoknya tak bebeda jauh seperti pria Betawi kebanyakan. Namun, nama dan kesaktiannya melegenda hingga saat ini.
 
Dia adalah Pitung, anak keempat dari Pak Piun dan Bu Pinah. Pitung punya tiga saudara: Miin, Kecil, dan Anise. Jawara Betawi ini lahir dan besar di Kampung Rawabelong, partikelir Kebayoran di akhir abad ke-19. Kala itu, hidup bukan hal yang mudah bagi Bangsa Pribumi. 
 
Nusantara masih dalam cengkraman Penjajah Belanda. Penjajah dengan segala daya dan upaya memeras keringat penduduk melalui tuan tanah, para mandor, dan para centeng. Bila macam-macam, warga bisa dilibas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nasib keluarga Pitung juga demikian. Pitung kecil hanya bisa bertanya-tanya bila centeng-centeng Liem Tjeng Soen, si tuan tanah, datang ke rumahnya dan merampas harta bendanya. ''Mengapa ayam kita diambilin?" kata Pitung kepada bapaknya, seperti dilansir Jakarta.go.id. 
 
Pak Piun tak bisa menjawab apa-apa. Mungkin dalam pikirannya, masih ada barang-barang lain untuk anak-anaknya kelak sehingga tak masalah bisa satu-dua ayamnya dirampas. 
 
Orang tua pun mendidik tata krama kepada Pitung biar jadi orang benar. Dia juga diajarkan mengaji, menanam padi, hingga mencari rumput buat kambing-kambing. 
 
Untuk menambah pengetahuan agama, Pitung belajar mengaji dengan Haji Naipin, seorang kiai terkemuka di Rawabelong. Selain mengaji, Pitung juga belajar ilmu silat dan ilmu bela diri lainnya kepada Haji Naipin. 
 
Lantaran cerdas dan taat, Haji Naipin pun memberikan segala ilmunya kepada Pitung. Salah satunya, ilmu paneasona, yang membuat pemilik ilmu kebal dari benda tajam.
 
"Ilmu ini buat membela orang lemah dari kezaliman, bukan untuk menzalimi orang lain" pesan Haji Naipin kepada Pitung.
 
Dalam menuntut ilmu agama dan ilmu bela diri, Pitung selalu rendah hati. Dia punya teman seguru seilmu yang dekat sekali, yakni, Dji'i dan Rais. Sementara di kalangan masyarakat, Pitung terkenal sering membantu orang lain.
 
Kepalan Keras Sang Jawara
Mengenang Tinju Si Pitung
Ilustrasi silat Betawi. MI/BARY FATHAHILAH.
 
Sebagai Pemuda Rawabelong, Pitung pun tak kuasa melihat orang kampung ditindas Tuan Tanah Kebayoran Liem Tjang Soen serta para serdadu Hindia Belanda. Apa lagi, mereka kerap menagih pajak secara paksa kepada penduduk kampung. 
 
Amarah Pitung meledak-ledak ketika melihat ketidakadilan itu. Namun, ibunya selalu meminta Pitung bersabar. "Jangan Tung. Dia orang punya kuase, nanti juga ada balasan buat mereka," ucap Bu Pinah. Tiap marah, Pitung pun ingat frasa amar ma'ruf nahi munkar, tegakkan kebaikan cegah kemungkaran. 
 
Namun, suatu ketika akhirnya Pitung turun tangan karena tak kuat lain melihat tingkah laku para centeng yang makin lama menjadi-jadi. Dia duel dengan seorang centeng. Benar saja, kemampuan para centeng tak ada apa-apanya di banding ilmu paneasona milik Pitung.
 
Namun, kesaktian Pitung tak serta merta membuatnya luput dari kejahatan. Suatu kali Pitung pernah kecopetan. Kala itu, dia sedang disuruh Pak Piun buat menjual kambing di Pasar Tanah Abang. Kambing berhasil dijual, namun duitnya digondol maling. 
 
Pulang ke rumah, Pitung akhirnya kena semprot babenya. Pak Piun berang lantaran amat membutuhkan duit hasil jual kambing. Dia tak percaya Pitung kemalingan. Dia malah menuding fulus dipakai Pitung. 
 
"Lu musti nemuin itu duit. Kalo kagak ketemu, lu jangan pulang," kata Pak Piun kesal.
 
Alhasil Pitung kembali ke Tanah Abang dan menemukan si maling. Namun, bukannya mengembalikan duit, si maling malah mengajak Pitung merampok lantaran mereka tahu kemampuan Pitung. "Lu yang ngawasin dan mimpin, kita yang ngerampok."
 
Pitung yang kesal langsung menghajar si copet dan teman-temannya. Dalam waktu singkat mereka babak belur dan duit hasil dagang kambing kembali ke tangan Pitung. 
 
Dari peristiwa itu, Pitung mulai terang-terangan melawan para centeng yang merampas harta warga. Dia mengambil kembali barang-barang yang diambil centeng dan mengembalikannya ke warga. 
 
Sebagian centeng insaf dan tidak mau Iagi bekerja pada tuan tanah maupun Belanda. Namun,  sebagian lagi melaporkan kejadian tersebut kepada tuan tanah hingga Belanda tahu. Tindak-tanduk Pitung yang ditemani  Dji'i dan Rais pun mulai dimata-matai Belanda. 
 
Namun, hal itu tak mengubah pendirian Pitung. Di matanya, pengambilan secara paksa adalah halal karena harta tersebut pada dasarnya milik penduduk yang diambil juga secara sewenang-wenang. Tidaklah berdosa merampas harta para perampas karena akan dikembalikan lagi ke penduduk. 
 
Kendati demikian, aksi Pitung tak berjalan mulus. Ada pihak lain yang mencatut nama Si Jawara Betawi buat merampok. Alhasil, Si Pitung terkenal di pelosok Betawi sebagai perampok. Belanda pun berupaya menangkap Pitung. 
 
Kontrolir Kebayoran Schout Heyne memerintahkan mantri polisi serta demang dan bek mencari Pitung. Dia bahkan menjanjikan uang banyak bagi siapa saja yang bisa menangkap Si Pitung hidup atau mati. Tidak hanya saja, siapa yang bisa memberikan keterangan di mana Si Pitung berada juga diberi hadiah.
 
Pitung yang buron harus hidup berpindah-pindah tempat hingga sampai Marunda. Biar begitu, aksi perampasan hartanya tepat berjalan. Singkat cerita, Pitung akhirnya tertangkap dan dibawa ke Kantor Kontrolir Scout Heyne. 
 
Scout Heyne heran melihat perawakan Pitung yang sederhana, air muka yang jernih, tak terlihat perasaan bersalah. Padahal, dia menyangka Pitung berbadan tegap, tinggi, kekar dan bertampang menyeramkan. 
 
"Kamu orang nama Pitung? Kamu perampok? Kamu orang jahat" hardik Schout Heyne kepada Pitung. Tapi, Pitung tidak takut. Dia justru membalas, "Tuan dan orang-orang Tuan yang jahat, ngerampok harta penduduk, membuat bangsa kami susah."
 
Pitung akhirnya dijebloskan ke Penjara Grogol. Mendekam beberapa lama di sana, membuat Pitung khawatir. Dia memikirkan nasib penduduk yang dirampas hak miliknya oleh Belanda beserta tuan tanah, demang, dan para centeng. 
 
Pitung memutar otak bagaimana caranya bisa lolos dari penjara. Pada suatu malam, Pitung memanjat dinding ruang tahanan, menjebol plafon, membuka genteng, keluar melalui bubungan atap penjara, dan melompat keluar. Pitung mengancam temannya di penjara agar tutup mulut.
 
Melihat Pitung kabur, Belanda tambah murka. Mereka bahkan menyiksa Kecil, Pak Piun, dan Haji Naipin untuk mencari Pitung. Kabar penyiksaan itu akhirnya sampai ke kuping Pitung. Dia berang. 
 
Timah Panah Penjajah
Mengenang Tinju Si Pitung
Ilustrasi Si Pitung. Jakarta.go.id.
 
Di Kota Bambu Pitung menampakkan diri ketika gurunya lewat di bawah todongan senjata serdadu Belanda. "Lepasin guru gue, yang kalian cari gue, bukan die lepasin" ujar Pitung sambil berdiri menghadang Scout Heyne yang ada dalam rombongan.
 
Scout Heyne tertawa dan mengancam Pitung. "Kalau kamu orang melawan, dia orang kami tembak, mengerti kamu?" Pitung pun gusar melihat nyawa orang dekatnya berada di ujung tanduk. "Lepasin die, kalian busuk semua, menghalalkan segala cara." ujar Pitung berang. 
 
"Kita orang tidak bodoh Pitung!" Scout Heyne berujar Iantang. Kemudian Scout Heyne memerintahkan serdadunya yang menodong senjata kepada Haji Naipin untuk melepaskan Haji Naipin dari todongan, namun tetap diwaspadai.
 
Pitung memberi tanda mengangkat kedua belah tangannya sebagai pertanda bersedia menyerah. Namun, Scout Heyne yang takut bila Pitung melawan segera mengambil keputusan untuk memerintahkan serdadunya menembak. 
 
Beberapa peluru menghujam badan Pitung. Tapi, Pitung tetap berdiri sambil terpaku menatap Scout Heyne. Dia tak menyangka Scout Heyne berlaku curang padahal dia bersedia menyerah. "Heyne mulai hari ini lu menjadi musuh gue dan akan gue hisap darah lu." 
 
Scout Heyne kembali memerintahkan pasukannya untuk menembak Pitung. Beberapa peluru kembali menerjang tubuh Pitung. Dia akhirnya roboh bersimbah darah, jatuh ke bumi. Pitung gugur,sebagai pejuang dalam melawan penindasan Belanda beserta kaki tangannya.
 
Jenazah Pitung diangkut dan dibawa ke Kantor Asisten Residen. Scout Heyne dengan bangga melaporkan telah berhasil melumpuhkan Pitung. Asisten residen cuma diam saja, kemudian memerintahkan agar Si Pitung dikuburkan di Pejagalan. 
 
Kuburan Pitung selama enam bulan dijaga karena beberapa demang khawatir kuburan Pitung dibongkar dan mayatnya dibawa untuk dihidupkan kembali Haji Naipin. Sementara, Haji Naipin, Pak Piun dibebaskan Belanda. 
 
Beberapa hari kemudian Scout Heyne dipanggil asisten residen. Pangkatnya dicopot atau diberhentikan sebagai kontrolir karena bertindak yang tidak pantas sebagai tentara. Dia dianggap memalukan karena menembak orang yang tidak melawan.
 
Sepeninggalannya, kisah hidup Pitung terus dikenang warga Ibu Kota. Kendati Batavia yang kini sudah berganti nama menjadi Jakarta dan telah genap berusia 489 tahun, namanya tetap menggema sebagai Jawara Betawi yang membanggakan.
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif