medcom.id, Jakarta: Kasus kekerasan seksual di Taman Kanak-Kanak (TK) Jakarta International School (JIS) dilakukan berkelompok. Dalam satu peristiwa, pelaku bisa berjumlah sampai tiga sampai lima orang. "Jadi siapa yang menangkap (korban) duluhan, dia lalu menghubungi (yang lain)," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (29/4/2014).
Rikwanto mengatakan, kekerasan seksual di JIS lumrah terjadi pada jam istirahat atau saat siswa TK izin buang air. Pelaku berbagi tugas. Kalau kebetulan mereka berjumlah lima orang, menurut Rikwanto, dua bertugas menganggahi korban, dua menjaga pintu, dan satu lainnya memantau situasi serta kondisi.
"Apabila sekali berhasil, lain waktu (korban) diincar lagi. Diulangi kembali," jelas Rikwanto. "Itu pula yang membuat AK, korban, terus-terusan menjadi korban."
Rikwanto menambahkan, tak selamanya aksi tersangka berjalan mulus. Satu dua kali mereka juga tersandung. "Ada juga (korban) yang sudah ditelanjangi, tapi bel sekolah lebih dulu berbunyi. Mau tidak mau pelaku memakaikan kembali pakaian korban." ujar Rikwanto.
Kasus kekerasan seksual di JIS meledak setelah AK, siswa TK di sekolah elite itu, mengaku acap dilecehkan secara seksual oleh lima petugas cleaning service di toilet sekolah. AK kini trauma berat. Bocah lima tahun itu juga tertular penyakit herpes.
Kepolisian sudah menetapkan enam tersangka dalam kasus ini. Mereka masing-masing Agun Iskandar, Virgiawan Amin alias Awan, Afrischa Setyani, Syahrial, dan Zainal Abidin. Satu tersangka lainnya, Azwar, memilih bunuh diri di toilet usai diperiksa di unit PPA Polda Metro Jaya, Sabtu (26/4/2014).
medcom.id, Jakarta: Kasus kekerasan seksual di Taman Kanak-Kanak (TK) Jakarta International School (JIS) dilakukan berkelompok. Dalam satu peristiwa, pelaku bisa berjumlah sampai tiga sampai lima orang. "Jadi siapa yang menangkap (korban) duluhan, dia lalu menghubungi (yang lain)," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (29/4/2014).
Rikwanto mengatakan, kekerasan seksual di JIS lumrah terjadi pada jam istirahat atau saat siswa TK izin buang air. Pelaku berbagi tugas. Kalau kebetulan mereka berjumlah lima orang, menurut Rikwanto, dua bertugas menganggahi korban, dua menjaga pintu, dan satu lainnya memantau situasi serta kondisi.
"Apabila sekali berhasil, lain waktu (korban) diincar lagi. Diulangi kembali," jelas Rikwanto. "Itu pula yang membuat AK, korban, terus-terusan menjadi korban."
Rikwanto menambahkan, tak selamanya aksi tersangka berjalan mulus. Satu dua kali mereka juga tersandung. "Ada juga (korban) yang sudah ditelanjangi, tapi bel sekolah lebih dulu berbunyi. Mau tidak mau pelaku memakaikan kembali pakaian korban." ujar Rikwanto.
Kasus kekerasan seksual di JIS meledak setelah AK, siswa TK di sekolah elite itu, mengaku acap dilecehkan secara seksual oleh lima petugas cleaning service di toilet sekolah. AK kini trauma berat. Bocah lima tahun itu juga tertular penyakit herpes.
Kepolisian sudah menetapkan enam tersangka dalam kasus ini. Mereka masing-masing Agun Iskandar, Virgiawan Amin alias Awan, Afrischa Setyani, Syahrial, dan Zainal Abidin. Satu tersangka lainnya, Azwar, memilih bunuh diri di toilet usai diperiksa di unit PPA Polda Metro Jaya, Sabtu (26/4/2014).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ICH)