Jakarta Masih Butuh Bantargebang
Anak-anak melintasi Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantargebang, Bekasi, 16 Januari 2018. Foto: MI
Jakarta: Pemprov DKI Jakarta belum bisa mandiri dalam mengelola sampah. Sejak 1989, Pemprov DKI selalu membuang sampah ke Bantargebang, Bekasi.

Alhasil, sampah di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang terus menumpuk. Hingga saat ini, ketinggian sampah sudah hampir 30 meter.

“Kandungan sampahnya sudah mendekati 39 juta ton. Bantargebang itu waktunya tinggal tiga hingga empat tahun lagi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji saat dihubungi, Selasa, 23 Oktober 2018.


Isnawa khawatir tumpukan sampah itu dapat menimbulkan bencana seperti longsor dan kebakaran. “Jadi, betul-betul enggak ada pilihan. Jakarta harus punya pengolahan sampah yang mandiri di dalam kota,” imbuh dia.

(Baca juga: DKI Berkewajiban Pulihkan Lingkungan Bekasi)

Karena itu, DKI Jakarta bakal membuat fasilitas pengelolaan sampah atau intermediate treatment facility (ITF) Sunter. IFT ini akan dibangun Desember 2018. 

ITF Sunter akan menjadi fasilitas pengelolaan sampah pertama di Jakarta. ITF ini rencananya akan memiliki kapasitas pengelolaan sampah 2.200 ton per hari dari total sampah warga DKI yang mencapai 7.200 ton per hari.

Selain ITF Sunter, Pemprov DKI akan membangun tiga ITF lainnya. Ketiganya berada di Duri Kosambi, Jakarta Barat; Marunda, Jakarta Utara; dan Jakarta Timur.

“Jadi, dalam 3-4 tahun, Jakarta akan mandiri. Artinya, enggak bergantung lagi pada Bantargebang,” kata Isnawa.





(REN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id