medcom.id, Jakarta: Wacana penggusuran kawasan Kalijodo mencuat. Seiring itu, nama Daeng Abdul Aziz lantas mencorong. Dia disebut-sebut orang yang `dituakan` oleh warga Kalijodo.
Nama Daeng Aziz sohor di Kalijodo. Nyaris tak ada warga yang tidak mengenal pria dari Jeneponto, Sulawesi Selatan, itu.
"Daeng Aziz emang terkenal. Sudah seperti bos besar, tapi dia baik," kata Subadriah, 65, warga Jalan Kepanduan II, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (16/2/2016).
Daeng Abu Bakar, 67, warga lainnya, mengamini pendapat Subadriah. Tapi, menurut dia, ketenaran tak sekejap didapat Daeng Aziz. Jalan berliku harus dilewati Daeng Aziz agar bisa seperti sekarang.
Menurut penuturan Daeng Abu Bakar, Daeng Aziz datang ke Kalijodo pada 1988. Saat itu, ia sempat menjadi bandar judi.
Bisnis judi Daeng Aziz tidak berjalan mulus. Pasalnya, bisnis judi saat itu dikoordinir tiga kelompok besar masyarakat. "Ada dari Mandar, Banten, dan Bugis Makassar," tutur Daeng Abu Bakar.
Dua dari tiga kelompok itu, Mandar dan Bugis. Meski berasal dari daerah yang sama, kedua kelompok kerap bersaing memperebutkan sumber daya kehidupan mereka lewat perjudian. Lahan kosong di bantaran Kali Angke mereka dirikan lapak-lapak perjudian.
Kemudian, konflik kelompok Mandar dan Bugis sempat mencuat. Pemicunya, adik Daeng Aziz diketahui dibunuh kelompok Mandar. Dari situ, konflik antarkelompok Bugis dan Mandar pun mencuat.
"Waktu itu memang sempat ada konflik. Cerita di buku 'Geger Kalijodo' soal Daeng Aziz menodongkan pistol ke (Ditreskrimum Kombes Pol) Krishna Murti saat itu juga betul," bebernya.
Menurut cerita Daeng Abu Bakar, penodongan itu lantaran salah paham. Pasalnya, Krishna Murti yang saat itu menjabat sebagai Polsek Penjaringan datang tidak lama setelah insiden pembunuhan adik Daeng Aziz.
Bisnis judi di Kalijodo pun lama-lama musnah dengan sendirinya. Pada 2004, saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden dan Purnawiran Jenderal Sutanto masih menjadi Kapolri perjudian pun dimusnahkan.
Semenjak itu, perjudian musnah dari kawasan Kalijodo. Daeng Aziz pun beralih ke usaha memasok bir. "Hampir semua bir yang ada di toko-toko di Kalijodo, harus lewat Daeng Aziz," ungkapnya.
Daeng Aziz, meski dikenal sosok yang baik, ia pun juga dikenal tegas. Tak heran, banyak pedagang dan pengusaha esek-esek di Kalijodo menyebutnya sebagai bos.
Salah satu bentuk ketegasan Daeng Aziz yaitu terang-terangan menolak bisnis narkoba di wilayah itu. "Bisnis narkoba yang sempat beredar dimusnahkan semua. Sampai waktu itu ada seorang anak buahnya mau bisnis narkoba, dia sendiri yang bawa ke polisi," pungkas Daeng Abu Bakar.
Dalam dua hari terakhir, sosok Daeng Aziz mulai muncul ke permukaan. Sebagai tokoh masyarakat, ia dengan tegas menolak penggusuran kawasan Kalijodo.
Ia pun mulai meminta bantuan hukum ke berbagai pihak. Kemarin, ia mendatangi Komnas HAM bersama beberapa perwakilan warga. Ia tidak senang dengan tindakan Pemerintah Kota Jakarta Utara yang melibatkan ratusan aparat bersenjata melakukan sosialisasi kepada warga pada Minggu, 14 Februari lalu.
Kemudian, pagi tadi, secara resmi, Daeng Aziz meminta bantuan hukum dari Razman Arif Nasution. Razman sendiri sempat menjadi kuasa hukum Wakapolri Komjen Budi Gunawan yang terseret kasus rekening gendut dan sempat pula menjadi tim kuasa hukum Setya Novanto.
medcom.id, Jakarta: Wacana penggusuran kawasan Kalijodo mencuat. Seiring itu, nama Daeng Abdul Aziz lantas mencorong. Dia disebut-sebut orang yang `dituakan` oleh warga Kalijodo.
Nama Daeng Aziz sohor di Kalijodo. Nyaris tak ada warga yang tidak mengenal pria dari Jeneponto, Sulawesi Selatan, itu.
"Daeng Aziz emang terkenal. Sudah seperti bos besar, tapi dia baik," kata Subadriah, 65, warga Jalan Kepanduan II, Kelurahan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (16/2/2016).
Daeng Abu Bakar, 67, warga lainnya, mengamini pendapat Subadriah. Tapi, menurut dia, ketenaran tak sekejap didapat Daeng Aziz. Jalan berliku harus dilewati Daeng Aziz agar bisa seperti sekarang.
Menurut penuturan Daeng Abu Bakar, Daeng Aziz datang ke Kalijodo pada 1988. Saat itu, ia sempat menjadi bandar judi.
Bisnis judi Daeng Aziz tidak berjalan mulus. Pasalnya, bisnis judi saat itu dikoordinir tiga kelompok besar masyarakat. "Ada dari Mandar, Banten, dan Bugis Makassar," tutur Daeng Abu Bakar.
Dua dari tiga kelompok itu, Mandar dan Bugis. Meski berasal dari daerah yang sama, kedua kelompok kerap bersaing memperebutkan sumber daya kehidupan mereka lewat perjudian. Lahan kosong di bantaran Kali Angke mereka dirikan lapak-lapak perjudian.
Kemudian, konflik kelompok Mandar dan Bugis sempat mencuat. Pemicunya, adik Daeng Aziz diketahui dibunuh kelompok Mandar. Dari situ, konflik antarkelompok Bugis dan Mandar pun mencuat.
"Waktu itu memang sempat ada konflik. Cerita di buku 'Geger Kalijodo' soal Daeng Aziz menodongkan pistol ke (Ditreskrimum Kombes Pol) Krishna Murti saat itu juga betul," bebernya.
Menurut cerita Daeng Abu Bakar, penodongan itu lantaran salah paham. Pasalnya, Krishna Murti yang saat itu menjabat sebagai Polsek Penjaringan datang tidak lama setelah insiden pembunuhan adik Daeng Aziz.
Bisnis judi di Kalijodo pun lama-lama musnah dengan sendirinya. Pada 2004, saat Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden dan Purnawiran Jenderal Sutanto masih menjadi Kapolri perjudian pun dimusnahkan.
Semenjak itu, perjudian musnah dari kawasan Kalijodo. Daeng Aziz pun beralih ke usaha memasok bir. "Hampir semua bir yang ada di toko-toko di Kalijodo, harus lewat Daeng Aziz," ungkapnya.
Daeng Aziz, meski dikenal sosok yang baik, ia pun juga dikenal tegas. Tak heran, banyak pedagang dan pengusaha esek-esek di Kalijodo menyebutnya sebagai bos.
Salah satu bentuk ketegasan Daeng Aziz yaitu terang-terangan menolak bisnis narkoba di wilayah itu. "Bisnis narkoba yang sempat beredar dimusnahkan semua. Sampai waktu itu ada seorang anak buahnya mau bisnis narkoba, dia sendiri yang bawa ke polisi," pungkas Daeng Abu Bakar.
Dalam dua hari terakhir, sosok Daeng Aziz mulai muncul ke permukaan. Sebagai tokoh masyarakat, ia dengan tegas menolak penggusuran kawasan Kalijodo.
Ia pun mulai meminta bantuan hukum ke berbagai pihak. Kemarin, ia mendatangi Komnas HAM bersama beberapa perwakilan warga. Ia tidak senang dengan tindakan Pemerintah Kota Jakarta Utara yang melibatkan ratusan aparat bersenjata melakukan sosialisasi kepada warga pada Minggu, 14 Februari lalu.
Kemudian, pagi tadi, secara resmi, Daeng Aziz meminta bantuan hukum dari Razman Arif Nasution. Razman sendiri sempat menjadi kuasa hukum Wakapolri Komjen Budi Gunawan yang terseret kasus rekening gendut dan sempat pula menjadi tim kuasa hukum Setya Novanto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MBM)