Cerita Dibalik Matinya Merpati
Mantan Komisaris Utama PT Merpati Nusantara Airline Said Didu. Foto: Nur Azizah/Medcom.id
Jakarta: PT Merpati Nusantara Airline sempat mati pada 2014. Perusahaan penerbangan pelat merah ini terlilit utang hingga Rp10,72 triliun.

Mantan Komisaris Utama PT Merpati Nusantara Airline Said Didu punya pendapat lain soal penyebab kematian Merpati. Menurut dia, Merpati mati karena alotnya diskusi di para petinggi negara saat itu.

"Merpati mengalami masalah gelombang berkali-kali. Merpati dan Garuda dulu bersama. Mereka juga sama-sama meminta Penyertaan Modal Negara (PMN) untuk menyelamatkan diri," cerita Said di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu, 17 November 2018.


Pada saat itu, Merpati meminta PMN sebesar Rp1 triliun dan Garuda Indonesia meminta Rp2 triliun. Permintaan Garuda langsung dikabulkan, sedangkan Merpati tidak.

"Hampir semua (anggota DPR) mendukung Garuda. Sedangkan Merpati tidak. Sampai dibahas 42 kali. Saya bolak-balik ke komisi 4, 5, dan 11 di DPR," ungkapnya.

Baca: Merpati akan Lunasi Utang Usai Maskapai Beroperasi

Setelah dua tahun dibahas, Merpati akhirnya mendapat suntikan dana sebesar Rp460 miliar. Namun, dana itu tak cukup untuk menyelamatkan Merpati.

Pemerintah kemudian mengajukan tiga solusi untuk mempertahankan Merpati. Solusi tersebut yakni Merpati dibubarkan, membuat pesawat kecil, dan membiarkan nasib Merpati.

"Ini sangat alot. Tidak ada keputusan dari atas. Bolak-balik dibahas di kantor Wakil Presiden. Jadi ini mati karena perdebatan di kalangan petinggi. Terlalu lama dibahas jadi keburu mati," pungkas dia.

Hingga akhirnya, PT Merpati Nusantara Airline berhenti beroperasi sejak 2014, karena masalah keuangan dan terlilit utang Rp 10,7 triliun. Namun, Pengadilan Niaga Surabaya merestui Merpati untuk terbang lagi pada November 2018.



(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id