medcom.id, Jakarta: Kebijakan larangan bagi kendaraan bermotor melintasi jalan MH Thamrin hingga Medan Merdeka Barat memunculkan kekecewaan dari berbagai pengguna jalan.
Salah satunya Kurir JNE, Jimmy Pratama, yang setiap harinya harus berkeliling membelah Jakarta untuk mengantarkan barang. Jimmy mengaku kewalahan dalam mengantarkan barang karena harus mencari jalan alternatif untuk dapat mencapai tempat tujuannya. Sehingga membuat pekerjaannya menjadi terhambat.
"Repotlah Mas. Jadi menghambat kalau mau mengirim soalnya kan kita ngirim muter ke mana-mana," kata Jimmy saat ditemui Metrotvnews.com di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (12/12/2014).
Jimmy mengutarakan solusi lain menyiasati pelarangan itu adalah dengan mencari jalan alternatif. Namun, tidak dipungkiri jalur alternatif pun terkadang tidak lepas dari tumpukan kendaraan yang melintas.
"Paling kalau dilarang ya mau enggak mau lewat jalan tikus. Cuma iya itu pasti macet juga kalau jalan protokolnya dilarang," ujar dia. Akan tetapi, ia akan tetap mengikuti kebijakan yang telah dikeluarkan Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama.
Di tempat yang berbeda, kurir travel Darmo mengaku kecewa dengan pelarangan ini. Menurut dia, sebagai kurir yang mesti melintasi seluruh jalan di Jakarta, kebijakan tersebut tentu berefek pada pekerjaannya.
Darmo mengaku dirinya kerap dibuat pusing karena harus mencari-cari jalan alternatif yang memungkinkan dirinya tidak kehilangan waktu banyak dalam mengirimkan barang.
"Saya bingung kalau jadi kurir, jadi muter-muter. Aturan bisa lewat sini, tapi enggak boleh. Jadi waktunya terbuang," ujar Darmo.
Sama seperti Jimmy, menurut Darmo pun menggunakan jalan alternatif bukan solusi. "Malah tambah macet (lewat alternatif). Ibaratnya keluar gang sudah macet, motong juga suka padat (kendaraan) juga," kata dia.
medcom.id, Jakarta: Kebijakan larangan bagi kendaraan bermotor melintasi jalan MH Thamrin hingga Medan Merdeka Barat memunculkan kekecewaan dari berbagai pengguna jalan.
Salah satunya Kurir JNE, Jimmy Pratama, yang setiap harinya harus berkeliling membelah Jakarta untuk mengantarkan barang. Jimmy mengaku kewalahan dalam mengantarkan barang karena harus mencari jalan alternatif untuk dapat mencapai tempat tujuannya. Sehingga membuat pekerjaannya menjadi terhambat.
"Repotlah Mas. Jadi menghambat kalau mau mengirim soalnya kan kita ngirim muter ke mana-mana," kata Jimmy saat ditemui Metrotvnews.com di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (12/12/2014).
Jimmy mengutarakan solusi lain menyiasati pelarangan itu adalah dengan mencari jalan alternatif. Namun, tidak dipungkiri jalur alternatif pun terkadang tidak lepas dari tumpukan kendaraan yang melintas.
"Paling kalau dilarang ya mau enggak mau lewat jalan tikus. Cuma iya itu pasti macet juga kalau jalan protokolnya dilarang," ujar dia. Akan tetapi, ia akan tetap mengikuti kebijakan yang telah dikeluarkan Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama.
Di tempat yang berbeda, kurir travel Darmo mengaku kecewa dengan pelarangan ini. Menurut dia, sebagai kurir yang mesti melintasi seluruh jalan di Jakarta, kebijakan tersebut tentu berefek pada pekerjaannya.
Darmo mengaku dirinya kerap dibuat pusing karena harus mencari-cari jalan alternatif yang memungkinkan dirinya tidak kehilangan waktu banyak dalam mengirimkan barang.
"Saya bingung kalau jadi kurir, jadi
muter-muter. Aturan bisa lewat sini, tapi enggak boleh. Jadi waktunya terbuang," ujar Darmo.
Sama seperti Jimmy, menurut Darmo pun menggunakan jalan alternatif bukan solusi. "Malah tambah macet (lewat alternatif). Ibaratnya keluar gang sudah macet, motong juga suka padat (kendaraan) juga," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)