Warga beristirahat di depan gerai OK OCE Mart yang tutup karena tidak mampu membayar sewa lahan, di Jalan Warung Jati Barat, Kalibata, Jakarta. Antara/Galih Pradipta
Warga beristirahat di depan gerai OK OCE Mart yang tutup karena tidak mampu membayar sewa lahan, di Jalan Warung Jati Barat, Kalibata, Jakarta. Antara/Galih Pradipta

OK OCE, Prematur di DKI Kandas di Tingkat Nasional

Nasional meratapi ok oce
Theofilus Ifan Sucipto • 29 November 2019 11:15
Jakarta: Program kewirausahaan One Kecamatan One Center Entrepreneurship (OK OCE) menjadi kebanggaan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Pilkada DKI 2017 lalu. Program ini menjadi jargon utama kampanye keduanya hingga sukses melenggang menjadi pucuk pimpinan birokrasi Ibu Kota.
 
Dua tahun berjalan, program ini bak mati suri. Alih-alih menjadi program kewirausahaan, OK OCE tak lebih dari komoditas brand politik daripada fokus awal programnya. Tak sedikit gerai-gerai kewirausahaan OK OCE yang terpaksa harus gulung tikar karena beragam soal.
 
Program ini sempat dibawa ke kancah nasional dalam Pilpres 2019 saat Sandiaga Uno mencalonkan diri menjadi calon wakil presiden bersanding dengan Prabowo Subianto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Begitu setidaknya, cerita pendek seputar OK OCE yang dapat disimpulkan dari obrolan dengan Faransyah Agung Jaya. Kehadiran dan naik-turun OKE OCE ini dibongkar salah satu penggagas program ini.
 
Awalnya dia bercerita tentang berkolaborasi dengan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno saat itu menggarap Pengembangan Kewirausahaan Terpadu (PKT), atau yang lebih dikenal OK OCE.
 
Pria yang akrab disapa Coach Faran itu sempat menjabat sebagai Ketua Umum OK OCE Nasional, di luar OK OCE Jakarta. Kegelisahannya muncul melihat program ini justru menimbulkan polarisasi di antara dua kubu pascapilpres. Coach Faran, begitu dia akrab dipanggil, mengungkapakan nasib OK OCE kini. Dia pun membeberkan alasannya mundur dari program ini. Berikut wawancara Faran dengan Medcom.id.
 
Bagaimana kronologi dibentuknya OK OCE kala itu?
 
Awalnya komitmen saya pribadi mengembangkan Unit Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan wirausaha, sesuai janji pada saat kampanye Pilkada 2017 oleh Pak Anies dan Pak Sandi. Sebenarnya cukup simpel, tujuan besarnya menciptakan 200 ribu wirausaha baru.
 
Agar lebih mudah dikenang dan diingat, dibuatlah namanya OK OCE. Walaupun semakin ke sini, orang tidak fokus melihat pengembangan kewirausahaannya tapi fokus sama brand-nya.
 
Bagaimana kondisi OK OCE setelah Pak Anies dan Sandiaga menang Pilkada?
 
Setelah kita menang, program ini jadi resmi program pemerintah namanya PKT dan dibikin Pergub 102 tahun 2018 tentang PKT. Waktu itu orang bilang OK OCE adalah PKT, PKT adalah OK OCE.
 
Setelah itu jalan seperti biasa dan muncul Pilpres 2019. Kita membayangkan sesuatu yang lebih besar lagi. Misalnya saja kita duplikasi OK OCE di DKI untuk nasional, kenapa tidak? Lalu digaungkan OK OCE nasional.
 
Setelah keliling-keliling (kampanye), saya lihat ada satu hal yang bisa dibilang tidak terlalu membuat nyaman.
 
OK OCE, Prematur di DKI Kandas di Tingkat Nasional
 
Apa itu?
 
Tujuan OK OCE pada saat itu fokus pengembangan UMKM saja. Pada saat dibenturkan dengan politik, saya merasa (OK OCE Nasional) paling seperti di DKI, ada like dan dislike. Ternyata saat sudah terjadi di Pilpres, sudah bukan like and dislike. Tapi love dan hate.
 
Kalau like dan dislike palingan dia enggak ikutan, ya sudahlah. Pada saat sudah hate, saya lihat ada garis pemisah yang dalam sekali. Ibaratnya, kalau ikut OK OCE (kubu) 02 (Prabowo Subianto-Sandiaga Uno), kalo enggak ikut OK OCE, (kubu) 01 (Joko Widodo-Maruf Amin). Nah, tantangannya saya di OK OCE.
 
Semakin ke sini saya lihat kok (rasa tidak nyaman) semakin kuat. Setelah Pilpres, saya minta izin ke Bang Sandi ingin melanjutkan cita-cita awal yaitu mengembangkan UMKM.
 
Apa respons Pak Sandiaga?
 
Pak Sandiaga bertanya rencana saya ke depan bagaimana. Saya bilang sudah pernah membuat aplikasi Wiranesia Inkubator, mau bikin konsep filantropis.
 
Apa perbedaan OK OCE Jakarta dan Nasional? Bagaimana kelanjutannya?
 
Yang terjadi di DKI dibentuklah program pemerintah namanya PKT. Otomatis dimiliki, dijalankan, dan dianggarkan khusus warga DKI Jakarta. Yang menjalankan dinas-dinas, di atasnya ada lagi asisten perekonomian.
 
Kalau OK OCE Nasional karena dari dulu bentuknya gerakan dan kerelawanan, sekarang ini mau jalan. Tapi yang kita hadapi masalahnya luas sekali. Sumber daya, transportasi, ini jadi tantangan sendiri.
 
Coach Faran sempat bilang kalau jika Pak Sandiaga gagal di Pilpres, OK OCE akan disinergikan dengan pemerintah pusat atau daerah, bagaimana kelanjutannya?
 
Untuk OK OCE bukan kapasitas saya mungkin. Tapi pemantauan saya, OK OCE sudah melakukan kerja sama dengan pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Barat (Sumbar), dan beberapa kota kecil.
 
Jadi sudah mulai melakukan. Setahu saya berjalan di program Bang Sandiaga. Tapi kalau saya lihat, tantangannya adalah jarak antarkota yang tidak dekat.
 
Kalau saya lihat media sepertinya sudah coba menawarkan ke pemerintah, sekarang tinggal egonya saja. Mungkin masih ada sensitivitas politik, mungkin juga karena tahun ini masih menyusun anggaran untuk tahun depan.
 
Kapan Coach Faran memutuskan untuk keluar dari OK OCE Nasional?
 
Di acara Bang Sandi mengumpulkan semua penggerak (OK OCE) Indonesia, tepatnya Sabtu 27 April 2019, pascapilpres.
 
Masih rutin berkomunikasi dengan Pak Anies dan Sandiaga?
 
Masih.
 
Pak Anies tahu Coach Faran mengundurkan diri dari OK OCE?
 
Waktu itu beliau memahami, karena saat itu memang sudah ada anjuran. Bisa dikonfirmasi lagi, brand kampanye sebisa mungkin tidak lagi dipakai.
 
OK-Otrip diganti Jak Lingko. Jadi tidak ada lagi brand yang mengingatkan masa lalu (Pilkada 2017).
 
PKT itu kan nama di Pergub, itu juga mau dibikin brand. Katanya sudah ada di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tapi belum diluncurkan. Mungkin ada sensitivitas politik.

 

(WHS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif