Jakarta: Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta boleh diadu dengan MRT negara lain. Meski baru lahir, namun teknologi yang digunakan tak jauh beda dari negara yang lebih dulu memiliki MRT.
Bicara soal teknologi, MRT Jakarta menggunakan sistem persinyalan Communication-Based Train Control (CBTC). Teknologi ini digunakan pada 16 rangkaian keretanya.
CBTC atau Sistem Kendali Kereta Berbasis Komunikasi merupakan sistem persinyalan kereta dengan frekuensi radio (RF). CTBC berfungsi sebagai komunikasi data berbagai subsistem yang terintegrasi.
"Kita sudah menggunakan teknologi sistem signaling yang memakai radio kontrol otomatis. Ini yang membuat seluruh kereta itu tepat waktu," kata Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa 5 Maret 2019.
William menjelaskan sistem persinyalan menjadi faktor penting dalam operasionalisasi kereta. Meskipun tidak terlihat, sistem tersebut mempengaruhi tingkat kenyamanan dan keamanan pengguna kereta.
Sistem CBTC menggunakan moving block dengan aspek sinyal yang berada pada kabin masinis (cabin driver). Pada kabin masinis, terdapat Driver Machine Interface (DMI) yang berfungsi memunculkan indikasi terkait sinyal yang ditampilkan sistem CBTC.
Blok kereta pun lebih fleksibel dan bergerak sesuai dengan pergerakan dan parameternya. Dengan begitu, operator dapat mengetahui lokasi dengan lebih akurat dan mengatur jumlah kereta yang beroperasi.
Hasilnya, headway atau jarak antarkereta dapat diatur lebih dekat namun tetap dalam jarak aman. Dengan kata lain, CBTC memungkinkan untuk memendekkan ruang antarsatu set kereta tanpa menimbulkan risiko tabrakan. Bagi pengguna, jarak singkat antarkereta, ketepatan jadwal kereta, dan kapasitas angkut yang besar adalah hal utama dalam menggunakan transportasi massal.
Sistem persinyalan CBTC dibagi menjadi empat bagian penting, yaitu peralatan Automatic Train Supervisory (ATS) yang berada di Operation Control Center (OCC), peralatan wayside di sepanjang jalur kereta, peralatan on-board yang berada di dalam kereta, dan jaringan data komunikasi yang menghubungkan antara peralatan wayside dan on-board.
"Penggunaan sistem persinyalan CBTC akan mendukung upaya kami untuk memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan kepada masyarakat pengguna kereta MRT Jakarta," pungkas William.
Jakarta: Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta boleh diadu dengan MRT negara lain. Meski baru lahir, namun teknologi yang digunakan tak jauh beda dari negara yang lebih dulu memiliki MRT.
Bicara soal teknologi, MRT Jakarta menggunakan sistem persinyalan Communication-Based Train Control (CBTC). Teknologi ini digunakan pada 16 rangkaian keretanya.
CBTC atau Sistem Kendali Kereta Berbasis Komunikasi merupakan sistem persinyalan kereta dengan frekuensi radio (RF). CTBC berfungsi sebagai komunikasi data berbagai subsistem yang terintegrasi.
"Kita sudah menggunakan teknologi sistem signaling yang memakai radio kontrol otomatis. Ini yang membuat seluruh kereta itu tepat waktu," kata Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa 5 Maret 2019.
William menjelaskan sistem persinyalan menjadi faktor penting dalam operasionalisasi kereta. Meskipun tidak terlihat, sistem tersebut mempengaruhi tingkat kenyamanan dan keamanan pengguna kereta.
Sistem CBTC menggunakan moving block dengan aspek sinyal yang berada pada kabin masinis (cabin driver). Pada kabin masinis, terdapat Driver Machine Interface (DMI) yang berfungsi memunculkan indikasi terkait sinyal yang ditampilkan sistem CBTC.
Blok kereta pun lebih fleksibel dan bergerak sesuai dengan pergerakan dan parameternya. Dengan begitu, operator dapat mengetahui lokasi dengan lebih akurat dan mengatur jumlah kereta yang beroperasi.
Hasilnya, headway atau jarak antarkereta dapat diatur lebih dekat namun tetap dalam jarak aman. Dengan kata lain, CBTC memungkinkan untuk memendekkan ruang antarsatu set kereta tanpa menimbulkan risiko tabrakan. Bagi pengguna, jarak singkat antarkereta, ketepatan jadwal kereta, dan kapasitas angkut yang besar adalah hal utama dalam menggunakan transportasi massal.
Sistem persinyalan CBTC dibagi menjadi empat bagian penting, yaitu peralatan Automatic Train Supervisory (ATS) yang berada di Operation Control Center (OCC), peralatan wayside di sepanjang jalur kereta, peralatan on-board yang berada di dalam kereta, dan jaringan data komunikasi yang menghubungkan antara peralatan wayside dan on-board.
"Penggunaan sistem persinyalan CBTC akan mendukung upaya kami untuk memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan kepada masyarakat pengguna kereta MRT Jakarta," pungkas William.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DRI)