medcom.id, Jakarta: Ahli psikologi politik Hamdi Muluk melihat fenomena kirim bunga secara massal bukan rekayasa. Karangan bunga bentuk ekspresi dari kelompok yang selama ini diam melihat situasi negara yang gaduh belakangan ini.
"Jadi ini ekspresi dari silent majority," kata Hamdi pada Metrotvnews.com, Kamis 4 Mei 2017.
Menurut dia, silent majority kebanyakan berasal kalangan menengah ke atas. Kelompok ini memang kurang sreg menumpahkan ekspresi dengan turun ke jalan. Tapi, tambah Hamdi, mereka bersedia membeli karangan bunga yang harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Hamdi menjelaskan, ekspresi itu merupakan simbol keprihatinan mereka terhadap kondisi bangsa saat ini. Mereka sudah capek dengan penggunaan politik identitas dalam berdemokrasi.
"Ini gejala (politik identitas) berlangsung dari zaman Pilpres, belum pernah politik identitas dalam bentuk suku, agama, ras ini dimainkan dengan sangat keras. Zaman pilpres sudah ada juga kan dengan tabloid Obor. Tapi mental, buktinya Jokowi tetap terpilih. Nah di Pilkada DKI kembali terjadi dengan pemakaian agama," ujar Hamdi.
Penggunaan politik identatis dirasakan paling keras saat Pilkada DKI 2017. Hal itu sebetulnya menimbulkan kecemasan pada warga.
Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu bilang, selama ini mereka yang cemas lebih memilih diam. Ketakutan muncul pada diri mereka jika berekspresi dikarenakan kelompok yang dianggap anti-Pancasila dan intoleran lebih lantang menyuarakan ekspresinya.
"Sekarang yang terjadi mayoritas yang selama ini diam melihat adanya politisasi agama dan suku, jadi cemas, menguatnya kelompok radikal, kelompok identitas yang turun ke jalan. Sementara orang ini enggak suka turun ke jalan. Dan kemarin ada yang memulai dengan mengirim bunga," terang dia.
Hamdi menampik aksi kirim bunga hanya sekadar ingin eksis. Ia menganggap ada kekhawatiran dari mereka jika politisasi agama kembali dipakai. Pasalnya, Indonesia kembali akan melangsungkan pesta demokrasi di Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.
"Mereka khawatir pemakaian politik identitas di DKI yang dianggap berhasil bisa digunakan lagi dan akan mengoyak lagi rasa persatuan kebangsaan kita," tutur Hamdi.
Kini karangan bunga tak hanya ditunjukkan bagi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki `Ahok` Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, sebagai bentuk dukungan karena kalah di Pilkada DKI 2017. Karangan bunga juga, yang berisi pesan menjaga keutuhan NKRI, dikirim untuk Istana Negara, TNI, dan Polri.
"Itu kan harapan yang dikirimkan ke Jokowi, polisi, dan istana. Mungkin ini akan numbuh lagi di beberapa daerah," ucap Hamdi.
medcom.id, Jakarta: Ahli psikologi politik Hamdi Muluk melihat fenomena kirim bunga secara massal bukan rekayasa. Karangan bunga bentuk ekspresi dari kelompok yang selama ini diam melihat situasi negara yang gaduh belakangan ini.
"Jadi ini ekspresi dari
silent majority," kata Hamdi pada
Metrotvnews.com, Kamis 4 Mei 2017.
Menurut dia,
silent majority kebanyakan berasal kalangan menengah ke atas. Kelompok ini memang kurang sreg menumpahkan ekspresi dengan turun ke jalan. Tapi, tambah Hamdi, mereka bersedia membeli karangan bunga yang harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah.
Hamdi menjelaskan, ekspresi itu merupakan simbol keprihatinan mereka terhadap kondisi bangsa saat ini. Mereka sudah capek dengan penggunaan politik identitas dalam berdemokrasi.
"Ini gejala (politik identitas) berlangsung dari zaman Pilpres, belum pernah politik identitas dalam bentuk suku, agama, ras ini dimainkan dengan sangat keras. Zaman pilpres sudah ada juga kan dengan tabloid Obor. Tapi mental, buktinya Jokowi tetap terpilih. Nah di Pilkada DKI kembali terjadi dengan pemakaian agama," ujar Hamdi.
Penggunaan politik identatis dirasakan paling keras saat Pilkada DKI 2017. Hal itu sebetulnya menimbulkan kecemasan pada warga.
Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu bilang, selama ini mereka yang cemas lebih memilih diam. Ketakutan muncul pada diri mereka jika berekspresi dikarenakan kelompok yang dianggap anti-Pancasila dan intoleran lebih lantang menyuarakan ekspresinya.
"Sekarang yang terjadi mayoritas yang selama ini diam melihat adanya politisasi agama dan suku, jadi cemas, menguatnya kelompok radikal, kelompok identitas yang turun ke jalan. Sementara orang ini enggak suka turun ke jalan. Dan kemarin ada yang memulai dengan mengirim bunga," terang dia.
Hamdi menampik aksi kirim bunga hanya sekadar ingin eksis. Ia menganggap ada kekhawatiran dari mereka jika politisasi agama kembali dipakai. Pasalnya, Indonesia kembali akan melangsungkan pesta demokrasi di Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.
"Mereka khawatir pemakaian politik identitas di DKI yang dianggap berhasil bisa digunakan lagi dan akan mengoyak lagi rasa persatuan kebangsaan kita," tutur Hamdi.
Kini karangan bunga tak hanya ditunjukkan bagi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki `Ahok` Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, sebagai bentuk dukungan karena kalah di Pilkada DKI 2017. Karangan bunga juga, yang berisi pesan menjaga keutuhan NKRI, dikirim untuk Istana Negara, TNI, dan Polri.
"Itu kan harapan yang dikirimkan ke Jokowi, polisi, dan istana. Mungkin ini akan numbuh lagi di beberapa daerah," ucap Hamdi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MBM)