medcom.id, Jakarta: Kalijowo, permukiman penduduk dan kawasan boker di utara Jakarta, punya cerita panjang. Tempat yang oleh Orde Baru disebut lokalisasi itu sudah ada sejak akhir abad ke-18. Kurang lebih tiga abad silam, kawasan Kalijodo tumbuh dan berkembang menjadi bagian Ibu Kota Jakarta.
Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Penataan Ruang Dinas Penataan Kota DKI Jakarta Gentur Wisnubaroto sedikit angkat cerita soal kelahiran kawasan tersebut. Gentur mencatat, kawasan tersebut dulu banyak didatangi pedatang dari negeri Tiongkok.
"Kalijodo itu mulai ada akhir abad 18, ketika banyak saudagar Tiongkok datang ke Indonesia," kata Gentur kepada Metrotvnews.com di Kantor Dinas Penataan Kota, Jalan Jati Baru, Jakarta Pusat, Jumat (19/2/2016).
Saudagar tersebut, kata Gentur, bergaul dengan penduduk setempat. Kebetulan, lokasi perkampungan yang didatangi saudagar berada di bantaran kali.
Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Penataan Ruang Dinas Penataan Kota DKI Jakarta Gentur Wisnubaroto (MTVN.Intan Fauzi)
Mereka, kata Gentur, bersosialiasasi hingga menikah dengan penduduk setempat. Akulturasi budaya antara saudagar Tiongkok dan penduduk setempat pun terjadi.
"Barulah perkampungan muncul di situ," sebut Gentur.
Perlahan, perkampungan warga kian berkembang. Setelah hampir dua abad berdiri, lokasi permukiman warga berdiri di jalur hijau. Lokasi perkampungan berada di kawasan resapan air pinggir sungai.
Gentur menyebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mencanangkan penggusuran kawasan tersebut sejak 1960-an atau 1970-an. "Karena Kalijodo berada di antara Kanal Banjir Barat dan Kali Krundeng yang memang (seharusnya) jalur hijau," kata Gentur.
Gentur bertutur, penggusuran sudah terlambat puluhan tahun. Dia menduga, pemerintahan sebelum Ahok, lemah mengawasi. Karena itu, Pemerintahan Ahok sigap merealisasikan penggusuran yang tertahan sejak lima dekade silam.
Maket Kalijodo (MTVN.Intan Fauzi)
medcom.id, Jakarta: Kalijowo, permukiman penduduk dan kawasan boker di utara Jakarta, punya cerita panjang. Tempat yang oleh Orde Baru disebut lokalisasi itu sudah ada sejak akhir abad ke-18. Kurang lebih tiga abad silam, kawasan Kalijodo tumbuh dan berkembang menjadi bagian Ibu Kota Jakarta.
Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Penataan Ruang Dinas Penataan Kota DKI Jakarta Gentur Wisnubaroto sedikit angkat cerita soal kelahiran kawasan tersebut. Gentur mencatat, kawasan tersebut dulu banyak didatangi pedatang dari negeri Tiongkok.
"Kalijodo itu mulai ada akhir abad 18, ketika banyak saudagar Tiongkok datang ke Indonesia," kata Gentur kepada
Metrotvnews.com di Kantor Dinas Penataan Kota, Jalan Jati Baru, Jakarta Pusat, Jumat (19/2/2016).
Saudagar tersebut, kata Gentur, bergaul dengan penduduk setempat. Kebetulan, lokasi perkampungan yang didatangi saudagar berada di bantaran kali.
Kepala Bidang Penyelenggaraan dan Penataan Ruang Dinas Penataan Kota DKI Jakarta Gentur Wisnubaroto (MTVN.Intan Fauzi)
Mereka, kata Gentur, bersosialiasasi hingga menikah dengan penduduk setempat. Akulturasi budaya antara saudagar Tiongkok dan penduduk setempat pun terjadi.
"Barulah perkampungan muncul di situ," sebut Gentur.
Perlahan, perkampungan warga kian berkembang. Setelah hampir dua abad berdiri, lokasi permukiman warga berdiri di jalur hijau. Lokasi perkampungan berada di kawasan resapan air pinggir sungai.
Gentur menyebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mencanangkan penggusuran kawasan tersebut sejak 1960-an atau 1970-an. "Karena Kalijodo berada di antara Kanal Banjir Barat dan Kali Krundeng yang memang (seharusnya) jalur hijau," kata Gentur.
Gentur bertutur, penggusuran sudah terlambat puluhan tahun. Dia menduga, pemerintahan sebelum Ahok, lemah mengawasi. Karena itu, Pemerintahan Ahok sigap merealisasikan penggusuran yang tertahan sejak lima dekade silam.
Maket Kalijodo (MTVN.Intan Fauzi) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TII)