Pemecah Ombak Disebut Merusak Ekosistem Kepulauan Seribu

12 September 2018 13:00 WIB
reklamasi teluk jakarta
Pemecah Ombak Disebut Merusak Ekosistem Kepulauan Seribu
pemecah ombak terpasang di perairan di Kawasan Kepulauan Seribu. Foto: MI/Galih.
Jakarta: Pembangunan break water atau pemecah ombak di Kepulauan Seribu dinilai merusak lingkungan. Sebab, proyek tersebut berpotensi merusak trumbu karang dan ekosistem.
 
Ketua KNPI Kepulauan Seribu Didi Setiadi kecewa dengan kebijakan Suku Dinas Sumber Daya Air Kepulauan Seribu yang membangun pemecah ombak di tiga pulau. Pembangunan dilakukan di Pulau Untung Jawa, Pulau Tidung, dan Pulau Sebira.
 
"Proyek puluhan miliar tersebut enggak sesuai dengan janji kampanye Anies (Gubernur DKI Anies Baswedan), ini proyek gagal. Minim manfaat dan proyek turunan reklamasi teluk Jakarta," kata Didi, Rabu, 12 September 2018.
 
Didi mengatakan, selain tak sesuai dengan janji Anies saat kampanye kemarin. Proyek ini telah membunuh karang-karang di dasar laut.
 
"Pengerjaan proyeknya asal-asalan. Penurunan material ke dasar laut bikin rusak karang. Saya memiliki foto underwater. Karang rusak. Kalau karang rusak, lalu apa yang tersisa?," jelas Didi.
 
Didi mengaku heran, proyek merusak lingkungan seperti ini bisa lewat dari pengawasan Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP).
 
"Kan Pak Gubernur sudah bikin Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) pengelolaan pesisir dan Kepulauan Seribu. Masa yang beginian, yang merusak lingkungan dan enggak sesuai janji kampanye lewat juga dari pengawasan," tegasnya.

Baca: Marko Kusumawijaya Jadi Ketua TGUPP Bidang Pesisir

Didi meminta proyek betonisasi tersebut dihentikan. Pasalnya, setiap pulau sudah dibuat jalan lingkar yang fungsinya juga untuk menghambat abrasi air laut.
 
"Jalan lingkar yang mengelilingi pulau sudah cukup untuk menghambat abrasi. Terus mau dibeton lagi? Percuma. Buang-buang uang," katanya.
 
Proyek senilai Rp87,3 miliar ini dinilai lebih bermanfaat jika digunakan untuk kebutuhan mendesak warga pulau.
 
"Ketersediaan air bersih itu masih menjadi persoalan masyarakat pulau. Beberapa pulau, air konsumsi terasa asin. Lalu, soal peningkatakan pelayanan pariwisata juga menjadi kebutuhan mendesak ketimbang menenggelamkan beton ke laut," ujarnya.




(FZN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id