medcom.id Jakarta: Warga yang dipindahkan ke Rumah Susun Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur, belum bisa bernafas lega. Ada yang kesulitan mencari nafkah, sedangkan biaya hidup di tempat baru cukup tinggi.
Sofa, 42, sudah pindah ke Rusun Rawa Bebek. Tetapi, setiap hari ia kembali ke daerah Bukit Duri, Jakarta Selatan, untuk berdagang. Ibu dua anak ini berjualan makanan dan minuman di tengah runtuhan bangunan. Ia akan terus ke Bukit Duri sampai daerah ini benar-benar rata dengan tanah.
"Mau bagaimana lagi, di rusun susah untuk berjualan," kata Sofa, Kamis 6 Juli 2017.
Warga tidak bisa berdagang di Rusun Rawa Bebek, akhirnya kembali ke kawasan Bukit Duri. Foto: MTVN
Di Rusun Rawa Bebek memang ada lokasi untuk berdagang, tetapi saat ia pindah dua pekan lalu, kondisinya sudah penuh. Ia pernah menyampaikan masalah ini ke pengelola Rusun Rawa Bebek.
Tanggapan pengelola rusun, "Disuruh bikin proposal dan lain-lain. Ribet lagi," ujar Sofa.
Yang juga menguras pikiran Sofa adalah jarak sekolah anaknya dengan Rusun Rawa Bebek sangat jauh. Anak Sofa sekolah di SDN Manggarai 1. Menurut dia, perjalanan dari Rawa Bebek ke Manggarai bisa satu jam, kalau macet bahkan dua jam. "Kasihan anak saya."
Sedangkan Nur, warga Blok B, Rusun Rawa Bebek, mengaku harus menanggung tingginya biaya listrik. Sebelum menempati unit sekarang, ia tinggal di unit tipe studio yang khusus lajang. Daya listrik di unit khusus lajang 900 watt.
Sedangkan daya listrik di unit sekarang 1.300 Watt. "Kami di rusun yang baru agak megap-megap, empat hari bayar listrik Rp50 ribu," ujar Nur.
Keluhan sama disampaikan Anna, bekas warga Kampung Akuarium yang menempati Blok A. Dalam sebulan, dirinya bisa menghabiskan Rp200 ribu, hanya untuk membayar listrik. Ia juga wajib membayar sewa rusun Rp310 ribu dan air.
Beban terasa berat lantaran Anna belum bisa membuka usaha di Rusun Rawa Bebek. Semua masih bergantung pada suaminya yang melelang ikan di Kampung Akuarium.
"Dulu, mau lelang ikan tinggal di depan rumah. Sekarang jauh, susah," ujar Anna.
Bekas warga Bukit Duri memanfaatkan sisa-sisa bangunan yang bisa dijual. Foto: MTVN
Saat di Kampung Akuarium, kehidupan Anna lumayan. Selain punya lelang ikan, ia juga menyewakan dua unit rumah kontrakan. Karena itu, saat pindah ke Rusun Rawa Bebek, pendapatan Anna menurun jauh.
Pemerintah menyediakan angkutan penghubung (feeder) ke TransJakarta, gratis untuk warga rusun. Tetapi, menurut Sofa dan Anna, fasilitas itu tidak banyak mengurangi beban ekonomi warga rusun.
Dampak dari masalah ekonomi, warga kesulitan membayar sewa Rusun Rawa Bebek. Pemerintah DKI menggratiskan warga tinggal di Rusun Rawa Bebek hanya tiga bulan, terhitung April 2017.
"20 Juni mulai bayar Rp300 ribu. Banyak yang tidak bisa bayar," Rohman, bekas warga Bukit Duri yang sekarang tinggal di Blok C, Rusun Rawa Bebek.
medcom.id Jakarta: Warga yang dipindahkan ke Rumah Susun Rawa Bebek, Cakung, Jakarta Timur, belum bisa bernafas lega. Ada yang kesulitan mencari nafkah, sedangkan biaya hidup di tempat baru cukup tinggi.
Sofa, 42, sudah pindah ke Rusun Rawa Bebek. Tetapi, setiap hari ia kembali ke daerah Bukit Duri, Jakarta Selatan, untuk berdagang. Ibu dua anak ini berjualan makanan dan minuman di tengah runtuhan bangunan. Ia akan terus ke Bukit Duri sampai daerah ini benar-benar rata dengan tanah.
"Mau bagaimana lagi, di rusun susah untuk berjualan," kata Sofa, Kamis 6 Juli 2017.
Warga tidak bisa berdagang di Rusun Rawa Bebek, akhirnya kembali ke kawasan Bukit Duri. Foto: MTVN
Di Rusun Rawa Bebek memang ada lokasi untuk berdagang, tetapi saat ia pindah dua pekan lalu, kondisinya sudah penuh. Ia pernah menyampaikan masalah ini ke pengelola Rusun Rawa Bebek.
Tanggapan pengelola rusun, "Disuruh bikin proposal dan lain-lain. Ribet lagi," ujar Sofa.
Yang juga menguras pikiran Sofa adalah jarak sekolah anaknya dengan Rusun Rawa Bebek sangat jauh. Anak Sofa sekolah di SDN Manggarai 1. Menurut dia, perjalanan dari Rawa Bebek ke Manggarai bisa satu jam, kalau macet bahkan dua jam. "Kasihan anak saya."
Sedangkan Nur, warga Blok B, Rusun Rawa Bebek, mengaku harus menanggung tingginya biaya listrik. Sebelum menempati unit sekarang, ia tinggal di unit tipe studio yang khusus lajang. Daya listrik di unit khusus lajang 900 watt.
Sedangkan daya listrik di unit sekarang 1.300 Watt. "Kami di rusun yang baru agak
megap-megap, empat hari bayar listrik Rp50 ribu," ujar Nur.
Keluhan sama disampaikan Anna, bekas warga Kampung Akuarium yang menempati Blok A. Dalam sebulan, dirinya bisa menghabiskan Rp200 ribu, hanya untuk membayar listrik. Ia juga wajib membayar sewa rusun Rp310 ribu dan air.
Beban terasa berat lantaran Anna belum bisa membuka usaha di Rusun Rawa Bebek. Semua masih bergantung pada suaminya yang melelang ikan di Kampung Akuarium.
"Dulu, mau lelang ikan tinggal di depan rumah. Sekarang jauh, susah," ujar Anna.
Bekas warga Bukit Duri memanfaatkan sisa-sisa bangunan yang bisa dijual. Foto: MTVN
Saat di Kampung Akuarium, kehidupan Anna lumayan. Selain punya lelang ikan, ia juga menyewakan dua unit rumah kontrakan. Karena itu, saat pindah ke Rusun Rawa Bebek, pendapatan Anna menurun jauh.
Pemerintah menyediakan angkutan penghubung (
feeder) ke TransJakarta, gratis untuk warga rusun. Tetapi, menurut Sofa dan Anna, fasilitas itu tidak banyak mengurangi beban ekonomi warga rusun.
Dampak dari masalah ekonomi, warga kesulitan membayar sewa Rusun Rawa Bebek. Pemerintah DKI menggratiskan warga tinggal di Rusun Rawa Bebek hanya tiga bulan, terhitung April 2017.
"20 Juni mulai bayar Rp300 ribu. Banyak yang tidak bisa bayar," Rohman, bekas warga Bukit Duri yang sekarang tinggal di Blok C, Rusun Rawa Bebek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TRK)