Jaksa Agung ST Burhanuddin. Foto: Istimewa.
Jaksa Agung ST Burhanuddin. Foto: Istimewa.

62,3% Masyarakat Dukung Kejagung Tuntaskan Korupsi Minyak Goreng

Siti Yona Hukmana • 16 Mei 2022 15:04
Jakarta: Sebanyak 62,3 persen masyarakat mendukung Kejaksaan Agung (Kejagung) menuntaskan kasus korupsi dalam pemberian fasilitas ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya, termasuk minyak goreng. Hasil lembaga survei nasional Indikator periode 5-10 Mei 2022 itu menjadi motivasi Korps Adhyaksa.
 
"Hasil survei tersebut tentunya akan dijadikan motivasi untuk berkinerja lebih baik sebagaimana harapan masyarakat," kata Jaksa Agung Sanitiar (ST) Burhanuddin dalam keterangan tertulis, Senin, 16 Mei 2022. 
 
Selain itu, Indikator juga mendapati sebanyak 59,1 persen masyarakat cukup yakin Kejaksaan Agung mampu menuntaskan perkara korupsi CPO tersebut. Kemudian, 52,9 persen masyarakat cukup percaya bahwa hakim di pengadilan akan menjatuhkan hukuman secara adil dalam kasus itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Burhanuddin mengucapkan terima kasih atas kepercayaan masyarakat. Dia memastikan institusinya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu.
 
Burhanuddin membeberkan perkembangan kasus korupsi CPO itu. Menurutnya, penyidik telah melakukan perpanjangan masa penahanan tersangka selama 40 hari ke depan. Selain itu, penyidik juga terus memperkuat pembuktian dan upaya mencari aset para tersangka.
 
"Untuk pengembalian kerugian keuangan negara dan atau perekonomian negara yang terjadi," ujar orang nomor satu di Korps Adhyaksa itu.
 
Baca: 24 Tersangka Terorisme MIT Poso dan ISIS ditangkap
 
Dia menekankan penyidik secara konsisten melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk melakukan pemeriksaan saksi ahli. Harapannya, kasus rasuah itu berjalan lancar tanpa hambatan. 
 
Kejagung menetapkan empat tersangka korupsi pemberian fasilitas ekspor CPO dan produk turunannya, termasuk minyak goreng. Salah satu tersangka yakni Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Pedagangan Indrasari Wisnu Wardhana.
 
Sementara itu, tiga tersangka lainnya yakni Keti Master Parulian Tumanggor selaku Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia, Senior Manager Corporate Affairs PT Pelita Agung Agrindustri/Permata Hijau Group Stanley MA, dan General Manager di Bagian General Affair PT Musim Mas Picare Tagore Sitanggang. 
 
Ketiganya merupakan pengurus perusahaan yang mendapat izin ekspor. Padahal, perusahaan mereka tidak memenuhi syarat kebijakan domestic market obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO).
 
Para tersangka dijerat Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor. Penyidik Kejagung meyakini perkara tersebut telah merugikan perekonomian negara.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif