Ilustrasi sidang Bowo Sidik. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Ilustrasi sidang Bowo Sidik. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra

Bowo Sidik Akui Fee PT HTK untuk Kepentingan Dapil

Nasional OTT KPK korupsi pupuk
Faisal Abdalla • 16 September 2019 15:18
Jakarta: Anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso mengaku menerima uang Rp1 miliar dari PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK). Uang untuk keperluan Pemilu Serentak 2019.
 
"Yang Rp1 miliar dari awal niatnya memang untuk dapil (daerah pemilihan). Kami gunakan untuk kepentingan dapil," kata Bowo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Besar, Jakarta, Senin, 16 September 2019.
 
Bowo membantah uang itu sebagai commitment feeterkait kontrak kerja sama sewa kapal antara PT HTK dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog).Dia menyebut uang itu pinjaman kepada bos PT Tiga Macan, Steven Wang. Steven kemudian berkomunikasi dengan Chief Commercial Officer PT HTK, Asty Winasty.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Politikus Golkar itu mengatakan pinjaman awalnya tak direalisasikan. Namun, setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU), antara PT HKT dan PT Pilog, pinjaman terealisasi.
 
"Jadi sesuai Berita Acara Pemeriksaan saya, pertama, saya tak pernah minta (fee) ke Bu Asty. Saya melakukan pinjaman kepada Steven Wang, bisa tidak dipinjamkan terkait kepentingan dapil saya. Kemudian Steven Wang mengomunikasikan ke Bu Asty pinjaman tersebut," ujarnya.
 
Bowo Sidik ikut bertarung dalam Pemilu Serentak 2019. Bowo maju sebagai caleg DPR dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah II.
 
KPK menetapkan tiga tersangka dalam kasus ini. Mereka yakni, Marketing Manager PT HTK Asty Winasti, Bowo Sidik Pangarso, dan orang kepercayaan Bowo, M Indung Andriani. Bowo dan Idung sebagai penerima, sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo Sidik didakwa menerima total Rp2,6 miliar dari PT HTK karena membantu proses kerja sama sewa kapal dengan PT Pilog. Uang itu diterima Bowo Sidik melalui perantara dalam bentuk USD163.733 dan Rp311 juta.
 
Uang diterima dari General Manager Komersial atau Chief Commercial Officer PT HTK Asty Winasty dan Direktur Utama PT HTK Taufik Agustono. Uang itu diserahkan secara langsung maupun melalui orang kepercayaannya bernama M Indung Andriani.
 
PT HTK sebagai perusahaan yang mengelola kapal MT Griya Borneo sebelumnya memiliki kontrak kerja sama dengan PT Kopindo Cipta Sejahtera (KCS) untuk pengangkutan amoniak. PT KCS disebut jaksa sebagai cucu perusahaan dari PT Petrokimia Gresik.
 
Namun, setelah PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) didirikan, kontrak kerja sama PT HTK itu diputus. Pengangkutan amoniak dialihkan PT PIHC ke PT Pilog. PT HTK melalui Asty meminta bantuan Bowo agar PT Pilog dapat menggunakan kapal milik PT HTK, MT Griya Borneo.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif