Harta Kekayaan Gubernur Aceh Mencapai Rp14,8 Miliar

Juven Martua Sitompul 05 Juli 2018 17:01 WIB
OTT Gubernur Aceh
Harta Kekayaan Gubernur Aceh Mencapai Rp14,8 Miliar
Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengenakan rompi tahanan seusai menjalani pemeriksaan pascaterjaring operasi tangkap tangan (OTT), di gedung KPK, Jakarta, Kamis (5/7). ANTARA FOTO/Reno Esnir.
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sebagai tersangka kasus dugaan suap atas pengerjaan proyek yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) 2018. Irwandi diduga meminta jatah Rp1,5 miliar kepada Bupati Bener, Meriah Ahmadi.

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang tercatat dalam situs resmi acch.kpk.go.id, harta Irwandi mencapai Rp14,8 miliar. Harta itu terdiri dari bergerak dan tidak bergerak.

Untuk harta tak bergerak, Irwandi tercatat memiliki tanah dan bangunan seluar 10.000 m2 dengan nilai Rp450 juta. Kemudian, beberapa bidang tanah dengan luas beragam dengan nilai total keseluruhan senilai Rp3,72 miliar.


Sedangkan harta tidak bergerak, Irwandi diketahui memiliki satu unit mobol merk Toyota Vanguard senilai Rp445 juta, satu unit mobil Jeep Wrangler senilai Rp675 juta, satu unit mobil merek Honda Jazz senilai Rp168 juta dan satu unit mobil Land Rover senilai Rp555 juta.

Tak hanya mobil, gubernur yang diusung Partai Demokrat dan PKB itu juga tercatat memiliki pesawat merk Shark Aero senilai Rp500 juta.

Irwandi juga diketahui memiliki logam mulia yang nilainya mencapai Rp46,5 juta. Dia juga memiliki batu mulia senilai Rp8,7 juta dan benda bergerak lainnya senilai Rp160 juta.

Sehingga rotal harta bergerak milik Irwandi mencapai Rp2,05 miliar. Gubernur Aceh periode 2007-2012 ini pun memiliki giro dan uang kas sebesar Rp9,04 miliar.

Total harta yang dimiliki Irwandi perseptember 2016 senilai Rp14,832.095.440. Harta kekayaan ini terakhir dilaporkan pada September 2016, di mana saat itu Irwandi hendak maju menjadi Gubernur Aceh periode 2017-2022.

KPK sebelumnya menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap pengalokasian dan penyaluran Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) tahun anggaran 2018. Keempat orang tersangka itu antara lain Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, Bupati Bener Meriah Ahmadi, Hendri Yuzal dan Syaiful Bahri.

Dalam kasus ini, Ahmadi diduga telah memberikan uang sebanyak Rp500 juta kepada Irwandi. Uang itu merupakan bagian dari Rp1,5 miliar yang diminta oleh Irwandi terkait fee ijon proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang bersumber dari DOKA.

Dugaan awal, pemberian itu merupakan jatah komitmen fee 8 persen yang menjadi bagian untuk pejabat Pemerintah Provinsi Aceh dari setiap proyek. Pemberian dilakukan melalui sejumlah orang kerpecayaan Irwandi yaitu Hendri dan Syaiful.

Atas perbuatannya, Irwandi yaitu Hendri dan Syaiful sebagai penerima suap dijerat Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara, Ahmadi selaku pemberi suap disangka melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.



(DEN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id