Tahanan Kabur Pascagempa Belum akan Diburu
Warga binaan memasak air di sekitar lokasi reruntuhan dinding Lapas Kelas II A Palu, di Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA/Abriawan Abhe)
Jakarta: Sekitar 1.400 lebih tahanan kabur dari lapas dan rutan sesaat setelah gempa dan tsunami menerjang Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah. Hingga hari ini baru 30 persen tahanan yang melapor. Sisanya, sekitar 1.107 orang, belum diketahui.

Direktur Pelayanan Tahanan Ditjen Pemasayarakatan Kementerian Hukum dan HAM Lilik Sujandi mengatakan belum akan memburu mereka.

"Sementara ini kita akan evaluasi pelayanan dasarnya dulu. Kita imbau sampai batas waktu tertentu untuk kembali. Setelah itu baru kita cari dan tangkap," ujarnya dalam Metro Pagi Primetime, Kamis, 11 Oktober 2018.


Lilik mengatakan kaburnya para tahanan bukan semata karena keengganan untuk menjalani hukuman. Ini lebih pada respons atas kepanikan pascagempa dan tsunami. Pegawai lapas pun, kata dia, ikut menyelamatkan diri karena gempa membuat bangunan roboh.

Menurut Lilik, kerusakan akibat gempa menyebabkan layanan dasar sulit dilaksanakan. Salah satunya penyediaan makanan. Ditambah faktor eksternal, yakni ketersediaan komoditas dan bahan bakar yang terbatas.

"Ini menyebabkan kami menunda (mencari). (Terlebih dulu) memastikan saat mereka kembali ke lapas atau rutan bisa mendapatkan layanan dasar. Mereka berada di luar juga semata-mata karena respons kemanusiaan," ungkapnya.





(MEL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id