Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Polri Ungkap 230 Kasus Penyalahgunaan BBM Bersubsidi Selama 2022

Antara • 25 Mei 2022 23:04
Jakarta: Polri mengungkap ratusan kasus penyalahgunaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Indonesia periode Januari hingga 25 Mei 2022. Direktur Tindak Pidana Tertentu (Dirtipidter) Bareskrim Polri Brigjen Pol Pipit Rismanto mengatakan para tersangka masih diproses hukum.
 
"Ada sekitar lebih 230 kasus mulai dari Januari hingga saat ini yang kami sedang melakukan penindakan hukum di seluruh Indonesia," kata Pipit dalam ekspose kasus penyalahgunaan BBM bersubsidi, di Jakarta Utara, Rabu, 25 Mei 2022.
 
Pipit tidak memerinci jumlah tersangka maupun barang bukti yang disita. Data terbaru, pengungkapan penyalahgunaan BBM bersubsidi jenis solar di Gudang PT Aldi Perkasa Energi di Jalan Juwana-Pucakwangi, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyidik menetapkan tersangka 12 orang dalam kasus tersebut. Hasil pengembangan penyidikan, empat orang lainnya berpotensi menjadi tersangka. Polisi menyita sebuah kapal pengangkut BBM bersubsidi di perairan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
 
Para tersangka yang ditangkap yakni MK selaku pemilik gudang, EAS pemodal, AS sopir mobil heli, MT sopir mobil, SW sopir mobil, FDA sopir mobil, dan AAP kepala gudang. Kemudian, MA sopir truk tangki kapasitas 24 ribu liter, TH sopir truk tangki kapasitas 24 ribu liter, JS pemodal, AEP sopir mobil, dan S sopir mobil.
 
Modus para pelaku yakni dengan cara menampung BBM jenis solar bersubsidi di gudang tempat penyimpanan yang diperoleh dari sejumlah SPBU. Kemudian mengangkut solar menggunakan kendaraan yang sudah dimodifikasi, selanjutnya dikirim ke kapal.
 
Baca: Bareskrim Amankan Kapal Pengangkut Solar Bersubsdi di Tanjung Priok
 
Dari sejumlah SPBU tersebut, para pelaku membeli solar bersubsidi seharga Rp5.150 per liter. Solar kemudian dijual ke pemilik gudang seharga Rp7 ribu per liter.
 
BBM solar bersubsidi yang telah dibeli diangkut menggunakan mobil truk tangki kapasitas 24 ribu liter dan 16 ribu liter. Lalu, dijual ke kapal-kapal nelayan seharga Rp10 ribu hingga Rp11 ribu per liter.
 
Tindak pidana tersebut dilakukan para tersangka sejak 2021. Diperkirakan omzet yang diraup dari kejahatan itu mencapai Rp4 miliar.
 
Modus membeli BBM bersubsidi menggunakan mobil yang dimodifikasi sudah terjadi sejak lam. Polri terus menindak para pelaku, sehingga tercatat sepanjang 2022 ini sudah ada 230 kasus.
 
Hasil pengembangan kasus di Pati, penyidik mengamankan kapal pengangkut BBM diduga berisi solar bersubsidi. Kapal memiliki 6 tangki BBM tersebut memiliki kapasitas 500 ribu liter (500 kiloliter) BBM. Ada 499 ribu liter BBM bersubsidi dalam kapal tersebut.Dalam perkara ini, penyidik menelusuri perusahaan yang diduga terlibat, salah satunya PT Aldi Perkasa Energi.
 
"Karena diduga kuat berdasarkan keterangan dan dokumen-dokumen yang ada ternyata mereka (perusahaan) menyuplai ke kapal ini," kata Pipit.
 
Pipit mengungkapkan pemerintah sangat serius terhadap terjadinya kelangkaan solar di sejumlah wilayah. Ia menekankan perlu penegakan hukum secara konsisten guna mencegah terjadinya penyalahgunaan BBM bersubsidi di lapangan.
 
Pipit menyebutkan tindak pidana penyalahgunaan BBM bersubsidi sudah pasti menimbulkan kerugian negara. Pihaknya tengah menghitung dan mendalami berapa kerugian negara yang terjadi, dengan melibatkan ahli.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif