Hukum kacamata kuda. Foto; Dok/Metro TV
Hukum kacamata kuda. Foto; Dok/Metro TV

Editorial

Istri Dituntut Penjara Karena Marahi Suami Mabuk, Rekomendasi Komnas Perempuan tak Direspons

Nasional Hukum Kekerasan Kejaksaan kekerasan dalam rumah tangga Kejaksaan Agung Penegakan Hukum
MetroTV • 20 November 2021 12:13
Jakarta: Komnas Perempuan mengatakan sudah mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak kepolisian dan kejaksaan untuk menghentikan tuntutan terhadap istri yang memarahi suaminya karena mabuk. Namun, tuntutan tersebut tidak diindahkan.
 
"Kami sudah menerbitkan surat rekomendasi kepada kepolisian dan kejaksaan agar tuntutan balik kepada Ibu V ini dihentikan mengingat perkawinan dan kondisi perkawinan dengan pasangannya itu. Kami tidak mendapatkan respons atas rekomendasi yang telah kami kirimka," ujar Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani dalam tayangan Editorial MI di Metro TV, Sabtu, 20 November 2021.
 
Andy meminta kepada Kompolnas dan Komisi Kejaksaan untuk memberikan perhatian khusus terhadap kasus tersebut. Selain itu, kepolisian juga disarankan untuk mengeluarkan pedoman penyelidikan bagi perempuan yang tengah berhadapan dengan hukum.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Komnas Perempuan sudah hampir dua tahun menyarankan kepolisian mengeluarkan pedoman untuk penyelidikan bagi perempuan berhadapan dengan hukum," kata Andy.
 
Komnas Perempuan mengapresiasi langkah Kejaksaan Agung yang telah melakukan penonaktifan sementara waktu jaksa yang melakukan penuntutan kasus ini. Namun, Andy mengingatkan agar kepolisian memeriksa dahulu riwayat pernikahan dan posisi perempuan ketika terjadi kasus serupa.
 
Menurut Andy, substansi Undang-Undang Penghapusan Kekerasan di Dalam Rumah Tangga bertujuan melindungi orang-orang yang terlemah di dalam keluarga terutama perempuan dan anak. Karena itu, pengadilan diminta untuk menerapkan SE Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 tentang Pedoman Mengadili Perkara Perempuan Berhadapan dengan Hukum dalam kasus tersebut.
 
“Kami mendorong pengadilan menerapkan SE Mahkamah Agung Nomor 3 Tahun 2017 yang betul betul memberikan perhatian pada kerentanan perempuan ketika dia harus menghadapi tuntutan hukum dalam kondisi kondisinya yang timpang,” jelas Andy.
 
Sebelumnya, seorang ibu rumah tangga (IRT) di Karawang, Jawa Barat (Jabar), berinisial V didakwa satu tahun penjara Jaksa Penuntut Umum (JPU) PN Karawang karena memarahi suaminya yang sering pulang dalam keadaan mabuk. V dituntut dalam sidang kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) psikis di Pengadilan Negeri Karawang, Jawa Barat, Kamis, 11 November lalu. (Widya Finola Ifani Putri)
 
(MBM)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif