Kartu BPJS asli (kiri) dan kartu BPJS palsu (kanan) yang beredar Kabupaten Bandung Barat diperlihatkan warga di Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/7). Foto:  ANTARA FOTO/Agus Bebeng
Kartu BPJS asli (kiri) dan kartu BPJS palsu (kanan) yang beredar Kabupaten Bandung Barat diperlihatkan warga di Bandung, Jawa Barat, Minggu (24/7). Foto: ANTARA FOTO/Agus Bebeng

Jangan Lagi Manfaatkan Oknum Untuk Menjadi Peserta BPJS

Yogi Bayu Aji • 26 Juli 2016 00:34
medcom.id, Jakarta: DIrektur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Fachmi Idris meminta masyarakat lebih berhati-hati dalam pembuatan kartu BPJS. Permintaan tersebut buntut dari  ditemukannya kartu BPJS palsu.
 
"Kita ingin masyarakat jangan mau ditipu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Fachmi di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (25/7/2016).
 
Menurut Facmi, kartu BPJS palsu telah menggerogoti keuangan negara. BPJS pun telah berusaha mencegahnya dengen memerintahkan seluruh cabang menulis imbauan agar masyarakat tak berhubungan dengan calo.

"Karena akses kita buka di kantor cabang kita buka dan online kita buka. Jadi kita ingin mengedukasi masyarakat jangan lagi memanfaatkan oknum tertentu untuk mencetak atau menjadi peserta BPJS," jelas Fachmi.
 
Sebelumnya, kartu BPJS Kesehatan bodong beredar di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Nomor identitas pemilik kartu tak terdata di BPJS.
 
Kartu itu ketahuan palsu setelah Budiyanto, seorang warga, menggunakannya untuk berobat ke rumah sakit. Kartu itu pun tak dapat digunakan. Budiyanto merupakan warga pemegang kartu BPJS Kesehatan kelas 3. Budiyanto membuatnya secara kolektif pada relawan kesehatan berinisial BN, delapan bulan lalu.
 
Sekali membuat kartu BPJS, warga membayar Rp100 ribu per orang. Keuntungan lain, janji BN pada warga, pemegang kartu tak perlu membayar iuran bulanan. Sebab kartu itu berlaku hingga dua tahun.
 
BN juga mengatakan setiap RW mendapat jatah 8 hingga 10 orang untuk ikut dalam program tersebut. Uang pendaftaran dikumpulkan pada bendahara desa lalu diambil BN.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>