Tersangka kasus penyebar berita bohong Ratna Sarumpaet - Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.
Tersangka kasus penyebar berita bohong Ratna Sarumpaet - Medcom.id/Dian Ihsan Siregar.

Kebohongan Ratna Dinilai Bukan untuk Publik

Nasional Kabar Ratna Dianiaya
Candra Yuri Nuralam • 09 Mei 2019 14:14
Jakarta: Terdakwa kasus penyebaran berita bohong Ratna Sarumpaet dinilai tidak melanggar Pasal 14 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Hukum Pidana. Sebab, kebohongan yang dilakukan Ratna bukan untuk konsumsi publik.
 
"Perbuatan yang dilakukan Ibu Ratna yang merupakan kajian dari ilmu hukum pidana tidak termasuk dalam Pasal 14 ayat 1, karena ia berbuat untuk kepentingan keluarganya, pada saat itu bohong untuk keluarga," kata ahli hukum pidana Mudzakir di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Mei 2019.
 
Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1946 ayat (1) berbunyi, 'barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, Ratna malu dengan keluarga bila ketahuan mukanya lebam karena operasi plastik atau sedot lemak. Ratna kemudian mengarang cerita dipukuli orang, dan menyebarkan fotonya melalui aplikasi WhatsApp.
 
Mudzakir menilai kasus Ratna ini sama sekali tidak ada urusannya dengan masyarakat luas. Terlebih, tidak ada pihak yang dirugikan dari kasus kebohongan Ratna.
 
"Jadi maksud tujuannya bukan untuk keonaran. Jadi semata-mata untuk dia sendiri, demi kebaikan hubungan dengan anak dan cucu. Kalau anaknya tahu wajahnya babak belur kaya gitu, terus dia bilang oplas malukan dia," ujar Mudzakir.
 
Selain itu, Mudzakir menilai penyidik salah bila menyebut Ratna yang menyebarluaskan foto lebam dan kebohongannya itu. Kabar penganiayaan itu disebarkan oleh orang lain.
 
"Dalam tindak pidana yang diatur dalam Pasal 14 ini penggunanya adalah menyiarkan. Berbeda menyiarkan dengan menyebarluaskan. Kalau menyebarkanluaskan ada ditindak pidana terkait penghinaan. Misalnya saya contohkan menghina Presiden dengan gambar dan tulisan yang disebarkan," tutur Mudzakir.
 
Kasus hoaks Ratna bermula dari foto lebam wajahnya yang beredar di media sosial. Sejumlah tokoh mengatakan Ratna dipukuli orang tak dikenal di Bandung, Jawa Barat.
 
Ratna kemudian mengakui kabar itu tak benar. Mukanya lebam karena menjalani operasi plastik.
 
Ratna ditahan setelah ditangkap di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis, 4 Oktober 2018 malam. Saat itu, Ratna hendak terbang ke Chile.
 
Akibat perbuatannya, Ratna dijerat Pasal 14 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan Pasal 28 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif