Ketua Tim Media Satgas Anti-Mafia Bola Kombes Argo Yuwono. ANT/Reno Esnir.
Ketua Tim Media Satgas Anti-Mafia Bola Kombes Argo Yuwono. ANT/Reno Esnir.

Polisi Periksa Petinggi PSSI Berinisial IB

Nasional pssi Pengaturan Skor Sepak Bola
Siti Yona Hukmana • 16 Januari 2019 09:04
Jakarta: Penyidik Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Bola tengah memeriksa petinggi PSSI berinisial IB di Surabaya, Jawa Timur. Ia diperiksa sebagai terlapor terkait kasus dugaan penipuan dalam pengaturan Tuan Rumah Suratin Cup pada November 2009.
 
"Tim sekarang sudah berada di Surabaya melakukan pemeriksaan di Asosiasi Provinsi (Asprov) Jawa timur. Pemeriksaan masih berlangsung artinya kita mencari keterangan saksi dan bukti-bukti pendukung," kata Ketua Tim Media Satgas Anti-Mafia Bola Kombes Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Selasa, 15 Januari 2019.
 
IB dilaporkan oleh Mantan Manager Perseba Super Bangkalan Imron Abdul Fatah. Laporan itu teregistrasi dengan nomor LP/01/I/2019/Satgas, tanggal 07 Januari 2019. Laporan ini dilayangkan Imron karena merasa ditipu oleh IB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Berkaitan laporan Pak Imron itu sudah naik ke penyidikan, artinya kita harus mencari siapa pelakunya. Kita masih dalam penyidikan," ungkap Argo.
 
Sebelumnya, Argo mengatakan kasus ini bermula pada bulan Oktober 2009 lalu saat dilaksanakan pertandingan Delapan Besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional 2009. Imron mengajukan permohonan kepada Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) melalui Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) untuk menjadi Tuan Rumah pertandingan Delapan Besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional 2009.
 
"Selanjutnya, Imron bertemu dengan HS selaku Ketua Pengda PSSI Jawa Timur di Surabaya. Pada saat itu HS meminta sejumlah uang sebesar Rp140 juta, sebagai syarat untuk meloloskan Perseba menjadi Tuan Rumah pertandingan," ungkap Argo.
 
Untuk memenuhi syarat menjadi tuan rumah pertandingan itu, Imron akhirnya mentransfer uang. Menurut Argo, transaksi pertama dilakukan pada 05 Oktober 2009 sebesar Rp40 juta.
 
Kemudian, transaksi kedua pada 13 Oktober 2009 sebesar Rp25 juta. Transaksi pada 06 November 2009 sebesar Rp50 juta.
 
"Selanjutnya pada November 2009 saat korban berada di Jakarta dihubungi oleh terlapor IB selaku Ketua Badan Liga Amatir Indonesia (BLAI) meminta kepada korban uang sebesar Rp25 juta sebagai tambahan uang untuk persetujuan pelaksanaan pertandingan Delapan Besar Liga Remaja (Piala Suratin) Seri Nasional 2009 yang akan dilaksanakan di Bangkalan," tambah Argo.
 
Uang Rp 25 juta itu ditransfer Imron melalui rekeningnya ke rekening milik terlapor IB. Kemudian, pada Desember 2009 setelah dilaksanakan pertandingan Piala Suratin Seri Nasional 2009 di Bangkalan, korban baru mengetahui dan menyadari bahwa untuk menjadi Tuan rumah pertandingan Piala Suratin Seri Nasional 2009 tersebut tidak ada ketentuan untuk melakukan pembayaran.
 
"Akibat kejadian tersebut korban merasa dirugikan dan melaporkan kepada Satgas Anti Mafia Bola Polri untuk dilakukan proses hukum," jelas Argo.
 
IB terancam Pasal 378 KUHP dan atau PASAL 372 KUHP dan atau Pasal 3,4,5, UU RI Nomoro 8 Tahun 2010.

 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif