Ilustrasi Medcom.id.
Ilustrasi Medcom.id.

Legislator Sebut Penyitaan Aset Tersangka Memberi Harapan bagi Korban Indosurya

Nasional polri Penegakan Hukum Investasi Bodong koperasi Penipuan investasi
Rahmatul Fajri • 26 April 2022 01:14
Jakarta: Langkah penyidik Bareskrim Polri menyita sejumlah aset tersangka kasus dugaan penipuan investasi Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Indosurya dinilai memberikan harapan bagi korban. Penyitaan aset-aset tersangka yang mencapai Rp2 triliun itu memberikan titik terang bahwa uang korban akan kembali.
 
"Sudah tepat dan mempercepat penyidikan, tentu memberikan harapan bagi korban," kata anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS Nasir Djamil kepada wartawan, Senin, 25 April 2022.
 
Menurut Nasir, upaya Bareskrim Polri menyita aset itu juga untuk mencegah para tersangka menggelapkan atau memindahtangankan aset tersebut agar tak terlacak penegak hukum. "Jadi sudah benar itu, menyita itu untuk memastikan bahwa memang ada modus kejahatan yang sistematis," ujarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Politikus PKS itu menyambut baik Bareskrim Polri yang berhasil melacak aset para tersangka Indosurya. Dia berharap aset-aset para tersangka terkait kasus ini bisa terbongkar.
 
"Tentu kita berharap pelaku bisa kalah habis gitu, sehingga aset yang dia dapat dari masyarakat bisa dikembalikan lagi. Jadi paling tidak penyitaan ini untuk menjawab apa yang dikeluhkan orang-orang yang ditipu akibat investasi bodong, dengan ini diharapkan ada titik cerah bahwa uang meraka akan kembali," kata Nasir.
 
Bareskrim Polri menetapkan 3 petinggi KSP Indosurya Cita sebagai tersangka kasus dugaan penipuan, penggelapan, dan pencucian uang. Mereka, yakni Direktur Operasional Suwito Ayub (SA), Ketua Henry Surya (HS), dan Direktur Keuangan June Indria (JI).
 
Polri telah menahan Henry Surya dan June Indria. Sedangkan, Suwita Ayub masih buron dan namanya masuk daftar pencarian orang (DPO).
 
Baca: Polri Sita Aset Bernilai Rp2 Triliun Terkait Kasus Indosurya
 
Kasus ini berawal dari penghimpunan dana diduga secara ilegal menggunakan badan hukum KSP Indosurya Inti/Cipta yang dilakukan sejak November 2012 sampai dengan Februari 2020. Tersangka Henry Surya diduga menghimpun dana dalam bentuk simpanan berjangka dengan memberikan bunga 8–11 persen, kegiatan tersebut dilakukan di seluruh wilayah Indonesia dengan tanpa dilandasi ijin usaha dari OJK. Kegiatan itu berakibat gagal bayar.
 
Henry Surya yang menjabat sebagai ketua KSP Indosurya Inti/Cipta memerintahkan tersangka lainnya JI dan tersangka Suwito Ayub untuk menghimpun dana masyarakat menggunakan badan hukum KSP Indosurya Inti/Cipta. Suwito Ayub, Henry Surya, dan June Indria diduga melakukan tindak pidana Perbankan dan atau tindak pidana penggelapan dan atau tindak pidana penipuan/perbuatan curang dan tindak pidana pencucian uang.
 
Mereka disangka melanggar Pasal 46 Undang-Undang (UU) Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan atau Pasal 372 KUHP dan atau Pasal 378 KUHP dan Pasal 3 dan atau Pasal 4. Kemudian, Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
 
(JMS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif