Pemimpin Al Qiyadah, Abdus Salam alias Ahmad Musaddeq mendengarkan dakwaan jaksa penuntut umum saat mengikuti persidangan diri di PN Jakarta Selatan -- MI/Adam
Pemimpin Al Qiyadah, Abdus Salam alias Ahmad Musaddeq mendengarkan dakwaan jaksa penuntut umum saat mengikuti persidangan diri di PN Jakarta Selatan -- MI/Adam

Bareskrim Berharap Kasus Gafatar Segera P21

Nasional gafatar
Damar Iradat • 17 Agustus 2016 11:43
medcom.id, Jakarta: Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri melengkapi berkas kasus penistaan agama terkait kelompok Gafatar. Berkas perkara juga sudah dikembalikan ke Kejaksaan.
 
"Kemarin ada P19 dari jaksa, sudah kita lengkapi. Mudah-mudahan segera P21," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (17/8/2016).
 
Agus menjelaskan, berkas perkara sempat bolak-balik antara polisi dan kejaksaan. Namun, tak disebutkan berapa kali berkas dipingpong.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kasus ini bermula ketika Bareskrim Polri menangkap Abdus Salam alias Ahmad Musadek pada 25 Mei 2016. Musadek diduga telah menistakan agama dan merencanakan makar. Ia diringkus bersama dua pimpinan Gafatar, yaitu Mahful Muis Tumanurung dan Andri Cahya.
 
Bareskrim Berharap Kasus Gafatar Segera P21
Ilustrasi tolak gerakan Gafatar -- ANT/Irwansyah
 
Musadek terancam Pasal 155 huruf a dan Pasal 156 huruf b tentang Penodaan Agama dengan tuntutan maksimal lima tahun penjara. Sedangkan, Andri dan Mahful Muis Tamanurung dijerat Pasal 110 ayat 1, Jo 107 ayat 1 dan 2 dengan ancaman hukuman seumur hidup atau 20 tahun.
 
Sejarah Berdirinya Gafatar
Musadek adalah sosok di balik berdirinya organisasi kemasyarakatan Gafatar. Pada 2007, Musadek pernah dipenjara empat tahun terkait penodaan agama dengan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dibentuknya.
 
(Baca: Musadek Berencana Bangun Negara Gafatar)
 
Al-Qiyadah al-Islamiyah adalah cikal bakal Gafatar di Indonesia. Aliran tersebut termasuk kepercayaan yang melakukan sinkretisme (penggabungan) antara ajaran Alquran, Injil, Yahudi, serta wahyu yang diakui kepada pemimpinnya.
 
Musadek menganggap dirinya sebagai nabi atau mesias. Wahyu yang turun pada Musadek diakui bukan kitab, melainkan pemahaman yang benar dan aplikatif mengenai ayat-ayat Alquran yang disebut telah disimpangkan sepanjang sejarah.
 
Ajaran Musadek mulai disebarkan pada 4 Oktober 2007. Tidka lama berselang, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan Fatwa Nomor 4 Tahun 2007 yang menyatakan aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah sesat.
 
Setahun setelahnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Musadek empat tahun penjara dipotong masa tahanan. Empat tahun di penjara nyatanya tak membuat Musadek sepak terjang berhenti.
 
Meski mengaku sudah bertobat, Musadek kembali menyebarkan ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Namun, Musadek menggunakan nama lain, yaitu Milah Abraham, kemudian berubah lagi menjadi Gafatar.
 
(Baca: Mengenal Gafatar, Organisasi yang Dilarang Pemerintah)
 

(NIN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif