Indriyanto Seno Adji. Foto: MI/Rommy Pujianto
Indriyanto Seno Adji. Foto: MI/Rommy Pujianto

KPK Dinilai Lemah Membuktikan Perkara Sofyan Basir

Nasional Korupsi PLTU Riau-1
Dhika Kusuma Winata • 04 November 2019 20:02
Jakarta: Pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia, Indriyanto Seno Adji, menilai putusan bebas bagi eks Direktur Utama (Dirut) PLN Sofyan Basir membuktikan penyidikan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lemah. Penyidik KPK dinilai tak mampu menghadirkan bukti yang bisa meyakinkan hakim.
 
"Putusan bebas ini menjadikan KPK untuk melakukan koreksi internal dalam bidang penyidikan. Ini perlu menjadi basis penguatan KPK ke depan dalam menangani kasus, termasuk yang berdimensi celebrity cases, agar lebih ketat pengawasannya," kata Indriyanto dihubungi Media Indonesia, Jakarta, Senin, 4 November 2019.
 
Mantan pelaksana tugas pimpinan KPK itu menyebut secara fakta hukum dakwaan terhadap Sofyan sangat minim dan belum memenuhi syarat minimal dua alat bukti untuk bisa meyakinkan hakim. Selama persidangan, KPK hanya memberikan bukti yang berpijak pada keterangan saksi, dan hasil penyadapan yang tidak ada kaitannya dengan Sofyan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pasal 55 (penyertaan) maupun Pasal 56 KUHP (pembantuan) kemudian menjadi tidak relevan manakala tidak terpenuhinya minimum dua alat bukti. Putusan bebas ini mencerminkan lemahnya bukti," ujarnya.
 
Menurut dia, putusan bebas (vrijspraak) sebagai kewajaran dalam sistem peradilan pidana. Dia meminta berbagai pihak tidak mempersalahkan siapa pun entitas dalam kasus tersebut.
 
"Siapa pun harus menghormati dan menghargai keputusan pengadilan sebagai representasi kekuasaan yudikatif yang bebas dan independen," pungkasnya.
 
Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta memvonis bebas Sofyan. Beberapa dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK dinilai tak terbukti.
 
"Menyatakan terdakwa Sofyan Basir tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah sebagaimana dakwaan pertama dan kedua. Memerintahkan saudara Sofyan Basir untuk segera dibebaskan," kata Ketua Majelis Hakim Hariono.
 
Sofyan terlepas dari jeratan tuntutan hukuman lima tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider tiga bulan kurungan. Sofyan juga lepas dari dari ancaman Pasal 12 huruf a juncto Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 56 ke-2 KUHP.
 
JPU KPK sebelumnya menyebut Sofyan memfasilitasi pertemuan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih, mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham, dan pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo untuk membahas proyek PLTU Riau-1. Pembahasan tersebut dinilai ada unsur tindak pidana korupsi.
 
Eni diduga menerima suap dari Pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (PT BORN), Samin Tan. Pemberian suap agar Eni membantu proses pengurusan terminasi kontrak PKP2B PT AKT di Kementerian ESDM. PT AKT telah diakuisisi PT BORN.
 
Eni menyanggupi permintaan Samin Tan. Eni selaku anggota Panja Minerba di Komisi VII DPR menggunakan forum rapat dengar pendapat untuk mempengaruhi pihak Kementerian ESDM.
 
Dalam proses penyelesaian, Eni diduga meminta sejumlah uang kepada Samin Tan untuk keperluan pilkada suaminya, Muhammad Al Khadziq, di Kabupaten Temanggung. Pemberian uang dilakukan dua kali melalui staf Samin Tan dan tenaga ahli Eni Maulani Saragih.
 
Pertama, pada 1 Juni 2018 Rp4 miliar dan pemberian kedua pada 22 Juni 2018 Rp1 miliar. Total suap yang diterima Eni Maulani Saragih dari Samin Tan Rp5 miliar.
 
Sementara itu, Idrus divonis bersalah karena dinilai terbukti bersama-sama dengan Eni menerima suap dari pemegang saham Blackgold Natural Resources Johanes Budisutrisno Kotjo, sebesar Rp2,25 miliar terkait proyek PLTU Riau-1. Idrus dijatuhi hukuman tiga tahun penjara denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan oleh Pengadilan Tipikor Jakarta.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif