Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan (kedua kiri) mengenakan baju tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Kejagung, Jakarta. Foto: Antara/HO.
Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan (kedua kiri) mengenakan baju tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung Kejagung, Jakarta. Foto: Antara/HO.

Karen Ditahan 20 Hari di Rutan Pondok Bambu

Nasional Kasus hukum Karen Galaila
Lukman Diah Sari • 24 September 2018 23:55
Jakarta: Mantan Direktur Utama Pertamina Karen Galaila Agustiawan ditahan jaksa penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Karen ditahan setelah diperiksa sebagai tersangka kasus akuisisi ROC Oil Ltd (Australia) oleh Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Energi senilai Rp568 miliar.
 
"Karen ditahan 20 hari ke depan sesuai usulan penyidik," kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Adi Togarisman di Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin, 24 September 2018.
 
Sebelum ditahan, jelasnya, Karen diperiksa terlebih dulu oleh penyidik sebagai tersangka sejak pukul 10.00 WIB. Pemeriksaan berakhir sekitar pukul 14.00 WIB.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Selama proses pemeriksaan, penyidik berpendapat diperlukan tindakan paksa, yaitu penahanan. Maksud tujuan karena sudah memenuhi syarat objektivitas dan subjektivitas dan agar perkara cepat selesai," bebernya.
 
Baca juga: Kejagung Tahan eks Dirut Pertamina
 
Sementara itu, kata Adi, Kejagung masih juga menahan dua tersangka lainnya, yaitu Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu Pertamina Bayu Kristanto dan Mantan Direktur Keuangan Pertamina Frederik Siahaan.
 
"Sudah masuk tuntutan, dan Frederik juga sudah pelimpahan tersangka. Jadj tunggu ya," ucapnya.
 
Dia menegaskan telah memerintahkan jajarannya untuk segera menyelesaikan berkas untuk Karen agar bisa segera dilimpahkan ke pengadilan.
 
Akibat perbuatannya, tersangka disangka melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
 
Kasus berawal pada 2009 ketika PT Pertamina (Persero) melakukan akuisisi (Investasi Non-Rutin) berupa pembelian sebagian aset (Interest Participating/IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan Basker Manta Gummy (BMG) Australia berdasarkan Agreement for Sale and Purchase-BMG Project tanggal 27 Mei 2009.
 
Dalam pelaksanaannya, ada dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi. Yakni, dalam pengambilan keputusan investasi tanpa adanya studi kelayakan berupa kajian secara lengkap dan tanpa adanya persetujuan dari dewan komisaris, yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah USD31.492.851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah USD26.808.244.
 
Sehingga tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada Pertamina dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional. Akibatnya keuangan negara PT Pertamina (Persero) dirugikan hingga sebesar USD31.492.851 dan 26.808.244 dolar Australia atau setara dengan Rp568,06 miliar menurut perhitungan akuntan publik.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif