Ilustrasi. Dok MI
Ilustrasi. Dok MI

KPK Masih Timbang Panggil Lagi Taufik Hidayat

Nasional Kasus Suap Imam Nahrawi
Candra Yuri Nuralam • 04 Februari 2020 08:25
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih menimbang memeriksa mantan pebulu tangkis Taufik Hidayat. Nama Taufik mencuat dalam kasus suap eks Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi.
 
"Ketika mengembangkan perkara sebagai bukti permulaan adalah ketika itu tercatat di dalam berita acara dan kemudian di putusan baru kemudian dihubungkan dengan alat bukti lain," kata Pelaksana tugas juru bicara KPK Ali Fikri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, 3 Februari 2020.
 
Ali mengatakan KPK masih menunggu putusan hakim untuk mengembangkan perkara Imam Nahrawi. KPK tidak bisa sembarang melakukan pemanggilan sekadar berbekal keterangan saksi di persidangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita harus merangkai dari petunjuk yang ada sampai minimal dua bukti permulaan yang cukup sebagai alat buktinya," ujar Ali.
 
Nama Taufik Hidayat muncul dalam sidang dakwaan eks Asisten Pribadi Imam Nahrawi, Miiftahul Umum, di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada hari Kamis, 30 Januari 2020. Taufik disebut terlibat dalam kasus suap dana hibah yang menyeret Imam.
 
Ini bukan kali pertama nama Taufik mencuat. Pensiunan pemain tepok bulu itu pernah disebut juga menjadi perantara aliran uang korupsi dan gratifikasi Imam Nahrawi.
 
Anggota Biro Hukum KPK Raden Natalia Kristanto menyebut ada aliran dana sebesar Rp800 juta yang diterima Taufik untuk penanganan perkara pidana yang sedang dihadapi oleh Syamsul Arifin. Ini disampaikan dalam persidangan 5 November 2019 . Pemberian fulus itu terjadi pada 12 Januari 2017.
 
Namun, Raden tidak memerinci perkara pidana apa yang dihadapi Syamsul saat itu. Tak hanya menerima uang, Taufik Hidayat juga disebut menyalurkan uang yang berasal dari Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) sebesar Rp1 miliar pada akhir 2017. Duit diambil dari Miftahul Ulum di rumah Taufik Hidayat.
 
Taufik diketahui pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Satlak Prima pada 2016-2017. Setelah itu, dia juga pernah menjabat anggota Staf Khusus Kemenpora pada 2017-2018. Taufik pernah diperiksa KPK dalam proses penyelidikan dan penyidikan kasus ini.
 
Imam ditetapkan sebagai tersangka bersama asisten pribadinya (aspri) Miftahul Ulum. Imam diduga menerima suap dan gratifikasi sebanyak Rp26,5 miliar melalui Ulum.
 
Pemberian uang itu sebagai komitmen fee atas pengurusan proposal hibah yang diajukan KONI kepada Kemenpora tahun anggaran 2018. Imam menerima suap dan gratifikasi itu sebagai ketua Dewan Pengarah Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dan menpora.
 
Penetapan tersangka Imam hasil pengembangan dari perkara lima tersangka. Mereka adalah Sekretaris Jenderal KONI Ending Fuad Hamidy, Bendahara Umum KONI Jhonny E Awuy, Deputi IV Kemenpora Mulyana, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Pumamo, dan Staf Kemenpora Eko Tryanto. Kelimanya telah divonis bersalah di pengadilan tingkat pertama.
 
Imam dan Miftahul dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 12 B atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.
 

(AGA)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif