Menpora Imam Nahrawi. MI/ Adam Dwi
Menpora Imam Nahrawi. MI/ Adam Dwi

KPK Tunggu Waktu Jerat Menpora

Nasional kasus suap
Juven Martua Sitompul • 25 April 2019 23:16
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal mengembangkan kasus dugaan suap dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dari Kemenpora kepada pihak lain. Salah satu nama yang masuk dalam daftar bidikan KPK adalah Menpora Imam Nahrawi.
 
Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan semua fakta persidangan akan jadi rujukan penyidik untuk menyeret pihak-pihak yang diduga terlibat, termasuk Imam. Jaksa penuntut juga bakal menyampaikan analisisnya kepada pimpinan untuk pengembangan.
 
"Jaksa penuntut umum juga membuat analisi dan kemudian menyampaikan kepada pimpinan untuk pengembangan lebih lanjut atau akan dilihat dulu rangkaian-rangkaian fakta persidangan berikutnya karena persidangan kan masih berjalan," kata juru bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Kamis, 25 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nama Imam tertulis dalam catatan penerima suap dana hibah KONI dari Kemenpora. Hal ini terungkap dalam persidangan yang tertuang dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dan dibenarkan Sekretaris Bidang Perencanaan dan Anggaran KONI, Suradi.
 
Dalam BAP itu, Suradi menyebut bahwa pada Kamis, 13 Desember 2018, Fuad Hamidy mengarahkan pembuatan alternatif pembiayaan kegiatan pada KONI sebesar Rp17,9 miliar. Saat itu, Fuad Hamidy meminta Suradi menyusun beberapa alternatif kegiatan agar biaya sebesar-besarnya dikeluarkan KONI Rp8 miliar dari total Rp17,9 miliar.
 
Alasannya, Fuad Hamidy punya kebutuhan untuk memberikan uang kepada sejumlah pihak Kemenpora seperti Imam Nahrawi, Asisten Pribadi Menpora Miftahul Ulum, Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana dan beberapa pejabat lain. Imam tercatat mendapat bagian sebanyak Rp1,5 miliar.
 
Lembaga antirasuah tidak kaget dengan daftar nama penerima suap dana hibah KONI tersebut. Menurut Febri, munculnya nama-nama pihak yang terlibat hal yang lumrah dalam sebuah perkara rasuah.
 
Febri mengatakan saat ini pihaknya cukup mengumpulkan bukti tambahan untuk menyeret nama-nama penerima uang haram tersebut. Penyidik, kata dia, tinggal menunggu fakta-fakta baru yang akan terungkap di persidangan.
 
"Soal cukup atau tidak cukup (bukti) itu ada proses lanjutan yang harus dilakukan, misalnya kalau itu muncul di fakta persidangan maka tentu harus dianalisis dlu," ujarnya.
 
Dalam perkara ini Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy beserta Bendahara Umum KONI Johny E Awuy didakwa menyuap pejabat Kemenpora. Suap itu untuk mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI Pusat kepada Kemenpora pada tahun kegiatan 2018.
 
Johny dan Fuad diyakini memberikan hadiah berupa satu unit Mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik dengan nomor polisi B 1749 ZJB kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana turut menerima uang sejumlah Rp300 juta.
 
Kemudian, satu buah kartu ATM Debit BNI nomor 5371-7606-3014-6404 dengan saldo senilai Rp100 juta dan satu buah handphone merk Samsung Galaxy Note 9. Fuad turut berperan memberikan hadiah kepada Adhi Purnomo dan Staf Deputi IV Olahraga Prestasi Kemenpora Eko Triyanta berupa uang Rp215 juta.
 
Johny dan Fuad disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.
 

(SCI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif