Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim (kiri) menunggu untuk menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta. Foto: Antara/Reno Esnir.
Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim (kiri) menunggu untuk menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta. Foto: Antara/Reno Esnir.

KPK Cecar Aliran Dana Mustafa ke Bupati Lampung Timur

Nasional OTT Bupati Lampung Selatan
Kautsar Widya Prabowo • 02 Maret 2019 09:29
Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat Bupati Lampung Tengah Mustafa (MUS) untuk mencari bukti ataupun adanya tersangka baru dengan mencecar Bupati Lampung Timur, Chusunia Chalim alias Nunik.
 
Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan yang bersangkutan didalami pengetahuannya terkait dana-dana yang digunakan oleh tersangka Mustafa. Nunik dipanggil dengan kapasitas sebagai saksi.
 
"Seberapa jauh saksi ini tahu terkait dengan pengumpulan dana itu dan untuk siapa dana itu diberikan oleh tersangka," ujar Febri di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nunik selesai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK pada pukul 18.40 WIB. Dengan berbalut syal motif batik cokelat dan kerudung putih bermotif bunga-bunga, ia hanya melemparkan senyum kepada media saat ditanyai terkait pemeriksaannya.
 
Dalam perjalanannya keluar Gedung KPK, Nunik mengaku tidak ingat berapa banyak pertanyaan yang dilontarkan tim penyidik kepadanya. "Saya enggak ingat. Sudah ya, sampun," tuturnya.
 
Baca juga: Bupati Lampung Timur Diperiksa KPK
 
KPK menetapkan Mustafa sebagai tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah tahun anggaran 2018. Mustafa menjadi tersangka bersama dua orang lainnya, yakni pemilik PT Sorento Nusantara, Budi Winarto, dan pemilik perusahaan PT Purna Arena Yudha, Simon Susilo.
 
Mustafa diduga telah menerima fee dari ijon proyek-proyek di lingkungan Dinas Bina Marga dengan kisaran sebesar 10 sampai 20 persen dari nilai proyek. Total suap yang diterima Mustafa sebanyak Rp95 miliar.
 
Uang itu diperoleh Mustafa dalam kurun waktu Mei 2017 hingga Februari 2018. Rinciannya, Rp58,6 miliar dengan kode IN BM berasal dari 179 calon rekanan dan Rp36,4 miliar dengan kode IN BP berasal dari 56 calon rekanan.
 
Dari total Rp95 miliar suap dan gratifikasi yang diterima Mustafa, sebagian besar berasal Budi Wiranto dan Simon Susilo. Dari keduanya, Mustafa menerima Rp12,5 miliar.
 
Sebesar Rp5 miliar diberikan Budi Wiranto sebagai fee ijon proyek paket pekerjaan ruas jalan di Kabupaten Lampung Tengah dengan nilai proyek sekitar Rp40 miliar. Sementara itu, sebesar Rp7,5 miliar dari Simon Susilo atas fee 10 persen untuk ijon dua proyek paket pekerjaan peningkatan jalan di Kabupaten Lampung Tengah dengan nilai proyek sekitar Rp76 miliar.
 
Penetapan ini merupakan pengembangan kasus suap terkait persetujuan pinjaman daerah untuk APBD Lampung Tengah tahun 2018. Kasus ini membuat Mustafa divonis 3 tahun pidana penjara dan denda sebesar Rp100 juta subsider 3 bulan kurungan.
 

(HUS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif