Tersangka kasus kepemilikan senjata api Kivlan Zen (tengah). ANT/Wibowo Armando.
Tersangka kasus kepemilikan senjata api Kivlan Zen (tengah). ANT/Wibowo Armando.

Pemeriksaan Kivlan Zen Dilanjutkan

Nasional kasus makar
Ilham Pratama Putra • 30 Mei 2019 14:36
Jakarta: Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen kembali diperiksa sebagai tersangka kepemilikan senjata api ilegal pada Kamis, 30 Mei 2019. Pemeriksaan dilakukan untuk mendalami kasus ini.
 
"Jadwal siang ini dilanjut. Pemeriksaan untuk memenuhi unsur KUHP 24 jam. Untuk kemudian penyidik akan memutuskan status berikutnya," kata Kuasa Hukum Kivlan Djuju Purwantoro di Polda Metro Jaya, Kamis, 30 Mei 2019.
 
Djuju mengatakan Kivlan tak terbukti memiliki senjata secara fisik. Namun, ia tetap menyerahkan kasus ini kepada penyidik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ya kita liat nanti proses pemeriksaannya. Ya (penahanan) itu kewenangan dari penyidik tentunya. Dan kuasa hukum harus melakukan langkah-langkah pembelaan yang memang menjadi haknya tersangka," kata Djuju.
 
Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya telah memeriksa Kivlan sejak Rabu, 29 Mei 2019 pukul 16.00 WIB. Djuju mengatakan kliennya merasa kelelahan. Sebab, sebelumnya juga telah diperiksa perdana sebagai tersangka kasus dugaan makar di Bareskrim Polri.
 
Baca: Kivlan Zen Tersangka Kepemilikan Senjata Api Ilegal
 
"Karena puasa, (Kivlan) agak lemas. Dia juga baru diperiksa di Bareskrim. Malam ini cukup panjang, kami mohon istirahat dulu. Hari ini masih (istirahat) di sini (Polda Metro Jaya)," ujar Djuju.
 
Kivlan sudah ditetapkan sebagai tersangka kepemilikan senjata api ilegal pada Rabu, 29 Mei 2019. Penetapan itu dilakukan penyidik saat menangkap Kivlan di Bareskrim Polri usai menjalani pemeriksaan perdana sebagai tersangka dugaan makar. Namun, ia tak ditahan.
 
Penangkapan Kivlan disebutkan berdasarkan pengembangan dari enam tersangka kepemilikan senjata api ilegal yang sebelumnya sudah ditangkap. Enam orang tersangka yakni HK, AZ, IR, TJ, AD, dan AF.
 
Empat tersangka memiliki senjata api ilegal dan dua rakitan. Enam tersangka ini diduga telah menunggangi demostrasi penolakan hasil pemilu pada 21-22 Mei 2019.
 
Kepala Divisi Humas Polri Irjen M Iqbal memaparkan, para tersangka awalnya menerima perintah untuk membunuh empat tokoh nasional dan satu pimpinan lembaga survei.
 

(DRI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif