Lambang KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.
Lambang KPK. Foto: MI/Rommy Pujianto.

KPK Cecar Nasir Soal Gratifikasi Bowo Sidik

Nasional suap
Juven Martua Sitompul • 02 Juli 2019 03:48
Jakarta: Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selesai memeriksa Anggota Komisi VII DPR Muhamad Nasir. Politikus Demokrat itu diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap penerimaan gratifikasi yang menjerat anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso.
 
Penyidik mencecar adik mantan Bendahara Umum Demokrat M Nazaruddin soal aliran dana haram Bowo. Salah satunya, dugaan gratifikasi terkait Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diterima politikus Golkar tersebut.
 
"Penyidik mendalami pengetahuan saksi terkait dugaan aliran dana gratifikasi kepada tersangka BSP (Bowo Sidik Pangarso)," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Senin, 1 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyidik KPK pernah menggeledah ruang kerja Nasir pada Sabtu, 4 Mei 2019. Penggeledahan itu diduga berkaitan dengan pemberian gratifikasi untuk Bowo terkait pengurusan DAK.
 
Selain Nasir, hari ini tim penyidik KPK menjadwalkan empat saksi lain yakni Staf Nasir bernama Rati Pitria Ningsi; dan tiga pihak swasta, Novi Novalina, Tajudin, serta Kelik Tahu Priambodo. Namun, keempat saksi tersebut mangkir dari pemeriksaan penyidik.
 
"Belum diperoleh informasi ketidakhadiran keempat saksi," kata Febri.
 
Bowo Sidik bersama Indung dan Marketing manager Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK), Asty Winasti ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait kerjasama jasa penyewaan kapal antara PT Pilog dengan PT HTK. Bowo dan Idung sebagai penerima sedangkan Asty pemberi suap.
 
Bowo diduga meminta fee dari PT HTK atas biaya jasa angkut tersebut. Total fee yang diterima Bowo USD2 permetric ton. Pemberian fee terjadi enam kali di sejumlah tempat seperti rumah sakit, hotel dan kantor PT HTK senilai Rp221 juta dan USD85.130.
 
Dari Bowo penyidik menyita uang sebesar Rp8 miliar dalam 82 kardus dan dua boks kontainer. Uang Rp8 miliar itu terdiri dari pecahan Rp50 ribu dan Rp20 ribu yang sudah dimasukkan ke dalam amplop berwarna putih.
 
Bowo dan Indung selaku penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b ayat (1) atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
 
Sedangkan Asty selaku penyuap dijerat Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
 

(EKO)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif