Mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir. Foto: Medcom.id/Cindy Ang.
Mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir. Foto: Medcom.id/Cindy Ang.

Dua Bukti Penjegal Bachtiar Nasir

Nasional tppu
Cindy • 08 Mei 2019 17:13
Jakarta: Kepolisian membeberkan dua alat bukti yang membuat mantan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Bachtiar Nasir menjadi tersangka. Bukti itu berupa keterangan saksi dan hasil audit rekening Yayasan Keadilan untuk Semua (YKUS).
 
"Yang pertama dari hasil pemeriksaan, keterangan tersangka AA. AA perannya mengalihkan kekayaan yayasan," kata Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Mei 2019.
 
Menurut dia, dalam penelusuran kasus ini, penyidik sudah memeriksa puluhan saksi. Keterangan dari ahli yayasan, ahli hukum pidana, hingga ahli masalah akte pendirian yayasan juga sudah dikorek.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Korps Bhayangkara juga mengamankan alat bukti hasil audit rekening YKUS. Kepolisian menemukan adanya aliran dana umat yang diperuntukan untuk kegiatan dan kepentingan pribadi Batchiar.
 
"Ini adalah dana umat, dana masyarakat, tapi peruntukannya bukan untuk bantuan, tapi untuk kegiatan-kegiatan lain. Ini sudah diaudit," terang Dedi.
 
Penyelewengan dana yayasan diperkuat dengan adanya keterangan mantan Manajer Divisi Network BNI Syariah cabang Tempo Pavilion I Jakartaberinisial I. I telah ditetapkan sebagai tersangka TPPU YKUS pada 2017.
 
"Dari keterangan yang diberikan I, dia yang terima kuasa dari Pak BN (Bachtiar Nasir) untuk mencairkan sejumlah uang," ujar dia.
 
Dedi memaparkan pemeriksaan hasil audit rekening yayasan menunjukkan sebanyak Rp1 miliar diselewengkan. Tersangka AA memberikan kuasa pencairan uang kepada Bachtiar.
 
"AA beri kuasa kepada Bapak BN. BN menerima kuasa mencairkan uang sejumlah Rp1 miliar ke salah satu bank dan itu digunakan bukan peruntukan yayasan, tidak seizin organ yayasan. Artinya digunakan kepentingan pribadi UBN (ustaz Bachtiar Nasir)," jelas Dedi.
 
Baca: Pemeriksaan Bachtiar Nasir Murni Penegakkan Hukum
 
Bachtiar hari dini dipanggil sebagai tersangka tindak pidana pencucian uang (TPPU) untuk yang pertama kalinya, tetapi tak dipenuhinya. Dia sudah pernah diperiksa sebagai saksi pada 2017 untuk tersangka Islahudin Akbar, mantan karyawan BNI Syariah.
 
Bachtiar diduga menggunakan dana di YKUS untuk kepentingan pribadi. Bachtiar membantah menyelewengkan dana umat usai diperiksa pada 10 Februari 2017.
 
Dia mengaku dana yang terkumpul selama ini terpakai untuk konsumsi massa yang ikut unjuk rasa. Dana juga digunakan buat pengobatan korban aksi 411 di Jakarta yang luka-luka.
 
Bachtiar disangka melanggar Pasal 70 juncto Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 28 Tahun 2004 atau Pasal 374 KUHP juncto Pasal 372 KUHP atau Pasal 378 KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 56 KUHP atau Pasal 49 ayat (2) huruf b UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan atau Pasal 63 ayat (2) UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan Pasal 3 dan Pasal 5 dan Pasal 6 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif