Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar berjalan menuruni tangga seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (17/2/2017). Foto: Antara/M. Agung Rajasa
Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar berjalan menuruni tangga seusai menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jakarta, Jumat (17/2/2017). Foto: Antara/M. Agung Rajasa

KPK Kembali Periksa Emirsyah Satar

Damar Iradat • 01 Maret 2017 09:57
medcom.id, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar. Emirsyah merupakan tersangka kasus dugaan suap pengadaan 50 pesawat dan 11 mesin pesawat Rolls-Royce.
 
Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan Emir diperiksa dengan kapasitasnya sebagai saksi. Emir bakal dimintai keterangan oleh penyidik untuk tersangka lainnya, Soetikno Soedarjo yang merupakan Dirut PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Group.
 
"Emirsyah akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SS (Soetikno Soedarjo)," kata Febri saat dikonfirmasi, Rabu 1 Maret 2017.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pemeriksaan ini merupakan yang kedua bagi Emir. Pada 17 Februari, Emir sempat menjalani pemeriksaan dengan status tersangka.
 
Sejumlah orang sudah diperiksa KPK dalam kasus ini, antara lain:
  • mantan Direktur Utama PT Citilink Indonesia, Albert Burhan;
  • CEO PT ISS Indonesia yang juga mantan Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia; Elisa Lumbantoran; dan 
  • anak buah Soetikno di MRA, Sallywati Raharja.

Bakal Memanggil Menteri BUMN
 
KPK juga berencana memanggil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno. Rini rencananya bakal dikonfirmasi soal proses pengadaan pesawat, khususnya untuk maskapai Garuda Indonesia. 
 
KPK juga akan meminta saran Rini bagaimana mengefektifkan pengadaan dengan memangkas pihak yang menjadi perantara.
 
Bekas Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emirsyah Satar diduga terlibat kasus suap pengadaan 11 pesawat Airbus A330-300 oleh PT Garuda pada 2012. 
 
Airbus A330-300 memiliki tiga pilihan tenaga mesin, yaitu Rolls Royce 700, Pratt & Whitney PW 400, atau GE CF6-80E. Garuda membeli pesawat bermesin Rolls Royce Trent 700.
 
Mesin Trent 700 ini ternyata masuk 'daftar hitam' lembaga regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat, Federal Aviation Administration Safety Alert. Namun, mesin itu tetap digunakan untuk menerbangkan Airbus A330-300.
 
Dalam kasus ini, Emirsyah diduga menerima suap dalam bentuk uang dan barang dari Soetikno. Uang yang diterima Emirsyah diduga 1,2 juta Euro dan USD180 ribu atau setara Rp20 miliar. Sedangkan barang senilai USD2 juta tersebar di Singapura dan Indonesia.
 
Emirsyah diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.
 
Soetikno sebagai pemberi suap disangkakan dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
 

 
(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif