Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. MI/Susanto.
Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar. MI/Susanto.

Proposal Rolls-Royce Sempat Dimentahkan PT Garuda Indonesia

Nasional emirsyah satar tersangka
Fachri Audhia Hafiez • 09 Januari 2020 13:41
Jakarta: Direksi PT Garuda Indonesia sempat tak menyetujui proposal paket perawatan mesin yang diajukan perusahaan Rolls-Royce. Harga yang ditawarkan buat perawatan mesin Rolls-Royce Trent 700 terlalu tinggi.
 
"Jadi banyak requirement yang memang kita belum setuju. Makanya angkanya berbeda. Angka hitungan kasar evaluasi dengan penawaran Rolls-Royce," kata Direktur Teknik dan IT PT Garuda Indonesia, Soenarko Kuncoro, saat bersaksi untuk terdakwa mantan Dirut PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar dan eks Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jalan Bungur Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 9 Januari 2020.
 
Dalam surat dakwaan, Emirsyah disebut mengupayakan PT Garuda Indonesia tetap menggunakan Rolls-Royce Trent 700. PT Garuda Indonesia memiliki enam unit pesawat Airbus A330 yang menggunakan mesin produksi Rolls-Royce dengan jumlah 15 mesin pada 2005.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Emirsyah meminta Rolls-Royce mengajukan penawaran menggunakan mekanisme total care program (TCP), yakni program perawatan mesin yang seluruhnya dilaksanakan Rolls-Royce tanpa melibatkan pihak ketiga. Saat itu, PT Garuda Indonesia menggunakan mekanisme perawatan time and material based (TMB) karena kesulitan keuangan.
 
Soenarko mengaku sempat bernegosiasi dengan Customer Bisnis Director Rolls-Royce Phil Hill. "Mau secara pembayaran, polanya bagaimana, mau timeline material atau apa ya supportnya harus menguntungkan Garuda," ujar Soenarko.
 
Lantaran tak kunjung sepakat soal harga, pihak Rolls-Royce meminta bertemu Emirsyah selaku Dirut PT Garuda Indonesia. Namun, PT Garuda Indonesia tetap menggunakan perawatan TMB karena harga lebih terjangkau.
 
Emirsyah didakwa menerima suap Rp46,3 miliar. Suap berasal dari pihak Rolls-Royce Plc, Airbus, Avions de Transport Regional (ATR) melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa milik Soetikno Soedarjo, dan Bombardier Kanada. Suap diberikan karena Emirsyah selaku Dirut Garuda memilih pesawat dari tiga pabrikan dan mesin pesawat dari Rolls Royce.
 
Emirsyah didakwa melanggar Pasal 12 huruf b atau 11 Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 
Sementara Soetikno didakwa memberikan uang kepada Emirsyah Rp5,859 miliar, USD884.200 (Rp12,35 miliar), EUR1.020.975 (Rp15,8 miliar), dan SGD1.189.208 (Rp12,2 miliar). Fulus diberikan agar Emirsyah membantu kegiatan dan pengadaan sejumlah barang oleh Garuda Indonesia.
 
Soetikno didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP.
 

(REN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif